KEUSKUPAN SUFRAGAN TANJUNGKARANG
"Non Est Personarum Acceptor Deus" (Kis 10,34)

RD. LAURENTIUS PRATOMO
Pendidikan yang Berkarakter

Bila Anda datang ke SMA Xaverius Pahoman pada jam belajar mengajar, Anda pasti akan berjumpa dengan seorang lelaki yang mengenakan jubah. Dia adalah seorang Imam Diosesan Keuskupan Tanjungkarang yang ditugaskan di sekolah ini. RD. Laurentius Pratomo, demikian namanya. Rm. Pratomo ini ditugaskan secara resmi untuk mengajar sejak 2009, selain sebagai guru ia juga menempati posisi sebagai wakil kepala sekolah.

Pandangan umum melihat bahwa imam diosesan atau romo projo pasti bertugas di paroki. Mengikuti pandangan umum ini, maka bagi Rm. Pratomo tidak pernah terpikirkan ia akan menjadi romo yang bertugas kategorial, entah di bidang pendidikan, buruh, kesehatan, dan sebagainya. Anak Bapak Fransiskus Senen Sudopo (alm) dan Ibu Maria Ngadirah ini dilahirkan pada 15 Agustus 1974. Ketika ia berusia 10 tahun, ayahnya meninggal dan ibunya harus membesarkan keempat anaknya sebagai orangtua tunggal. Ibunya dengan giat mengajak anak-anaknya untuk mengikuti Ekaristi, termasuk Misa harian. Karena terbiasa dalam berekaristi, sampai-sampai ketika guru agama di sekolah dasar meminta murid-murid untuk menulis cita-cita, Rm. Pratomo kecil menuliskan ingin menjadi romo. Namun cita-cita ini segera lenyap seiring perkembangan dirinya.

Panggilannya sebagai imam tumbuh kemudian karena aktif dalam kegiatan misdinar dan sering mengikuti perjalanan romo ke stasi di Paroki Metro tempatnya dilahirkan dan dibesarkan. Ia tertarik untuk menjadi imam diosesan karena keprihatinan terhadap kebutuhan umat akan kehadiran pelayanan dari para imam. Angannya jelas ingin menjadi imam yang dapat melayani umat. Panggilannya ia wujudkan dengan masuk ke seminari menengah St. Paulus Palembang dan berlanjut ke Seminari Tinggi di Pematangsiantar.

Pada suatu kesempatan perjumpaan dengan Bapa Uskup, Rm. Pratomo diminta untuk menggantikan tugas mengajar di SMA Xaverius Pahoman, sementara Rm. Wolfram Safari yang sebelumnya bertugas di sana sedang sakit. Maka jadilah pada September 2007 Rm. Pratomo yang masih diakon membantu mengajar di sekolah ini.

Pada 25 Januari 2008, Rm. Pratomo ditahbiskan di Paroki St. Lidwina Bandarjaya dan mendapat tugas di paroki ini pula. Ia merasa lega karena akhirnya angannya terlaksana bahwa ia bertugas di paroki dan bukan di bidang kategorial. Namun pada September tahun itu, ia diminta menghadap Bapa Uskup.

?Dalam kesempatan itu, Bapa Uskup mengajak saya untuk melihat rekan-rekan imam muda yang mungkin terlibat dan memberi perhatian untuk  pendidikan. Ketika itu saya sampaikan bahwa romo yang bertugas di paroki B secara intelektual mampu untuk pendidikan, romo yang tugas di paroki K  juga mampu. Setelah saya menyampaikan gambaran romo-romo muda, lalu Bapa Uskup bertanya: Lalu bagaimana dengan kamu? Saya sudah menduga pertanyaan ini pada akhirnya akan ditujukan juga kepada saya.? Demikian kenang Rm. Pratomo.

?Sekitar bulan April 2009 saya diminta untuk datang ke tempat Bapa Uskup. Saat itu Bapa Uskup mengharapkan saya untuk kembali ke SMA Xaverius bersama dengan Rm. Wolfram. Ketika itu saya meminta hal itu dipikirkan dahulu. Di bulan Juni 2009 saya bertemu kembali  dengan Bapa Uskup  dan ketika itu Bapa Uskup memberitahukan kalau saya akan pindah tugas ke SMA Xaverius. Saat itu saya bertanya kepada Bapa Uskup: Apakah ini tawaran ataukah sebuah keputusan? Jika tugas itu sebuah tawaran saya dapat menolak atau memilih, tetapi bila tugas tersebut sebuah keputusan berarti tugas yang harus dijalankan.  Jawaban Bapa uskup saat itu, ini sebuah keputusan.?

Akhirnya pada Agustus 2009, Rm. Pratomo mulai menjalankan tugas utama mengajar di sekolah. Ia mengaku awalnya menjalankan tugas ?demi ketaatan? pada Bapa Uskup sebagai pemimpin bagi imamatnya. Ia seolah masuk hutan belantara dengan tangan kosong tanpa pengetahuan apapun atas daerah yang ia masuki. Pada gilirannya, ia membuka diri untuk kenal banyak hal tentang pendidikan yang sedang ia geluti dan juga mampu menjernihkan motivasi karyanya. Ia menyadari bahwa karya keuskupan begitu luas dan tidak hanya karya parokial. Maka ia menyadari pula bahwa karyanya di bidang pendidikan tidak bisa dilepaskan dari karya patoral keuskupan secara keseluruhan.

Rm. Pratomo menjelaskan bagaimana keterkaitan Gereja dengan dunia pendidikan dalam sejarah kehadirannya di daerah Lampung. Menilik sejarahnya, sekolah Katolik hadir bersamaan dengan karya misi Gereja Katolik di Lampung. Pada awalnya, para misionaris Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) menyadari adanya keprihatinan atas pendidikan, kesehatan dan perekonomian umat dan masyarakap pada umumnya. Lewat karya dalam bidang-bidang inilah, Gereja menyapa dan menghadirkan kabar keselamatan di Bumi Ruwa Jurai. Khusus di bidang pendidikan, lembaga pendidikan Katolik ditempatkan sebagai wujud kesadaran dan partisipasi umat Katolik untuk ambil bagian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

?Kita sering memahami pastoral dalam kaitan penggembalaan dan kegiatan umat yang ada di paroki. Padahal umat tidak hanya hadir dalam lingkup wilayah paroki, tetapi mereka hadir juga dalam kelompok sosial, pendidikan dan kesehatan serta yang lain. Mereka tentulah juga bagian dari karya kegembalaan,? papar Rm. Pratomo.

?Dalam kaitan pendidikan, para murid dan guru adalah bagian dari Gereja. Jika sejarah perjalanan Gereja  di atas dipahami, maka tentulah sangat dekat sekali keterkaitan antara gereja dan pendidikan. Maka, ketika berbicara pastoral tentulah Gereja harus juga menyapa dan memberikan perhatian pada kegiatan pendidikan baik untuk umat (murid dan guru) yang berada  dalam kegiatan pendidikan tetapi juga memberdayakan lembaga pendidikan (sekolah katolik) itu sendiri untuk tetap berkomitmen dalam menghadirkan warta keselamatan serta nilai-nilai kristiani, untuk tetap menjadi rasul dijaman ini.?

Rm. Pratomo juga menyadari bahwa karyanya di bidang pendidikan menjadi perwujudan visi-misi keuskupan Tanjungkarang, terutama untuk mewujudkan persaudaraan sejati. Visi-misi keuskupan juga menjadi acuan untuk menyusun dan mengolah visi-misi lembaga pendidikan/sekolah Katolik. Pendidikan di sekolah dirasakan mampu menjadi komunitas yang mengembangkan iman dan kebudayaan.

?Fakta yang ada, anak-anak yang hadir di sekolah katolik bukan hanya anak Katolik, tetapi anak-anak  dengan berbagai keyakinan, budaya dan  karakter serta sosial  ekonomi. Dengan keanekaragaman ini menjadi kesempatan bagi sekolah dengan warna Katolik. Dan dalam kaitan dengan visi-misi keuskupan, sekolah berusaha menanamkan nilai-nilai kristiani, nilai-nilai kebaikan untuk membangun persaudaraan sejati. Sekolah katolik sebagai sarana kerasulan dengan keunikannya dan tak ternilai bagi Gereja.? Demikian keterangan Rm. Pratomo.

Pendidikan seutuhnya haruslah mengena pada berbagai sisi kehidupan manusiawi, sehingga bukan sekedar menyampaikan pelajaran intelektual. Rm. Pratomo menyadari tugas berat dunia pendidikan yang menyeluruh dan berusaha memberi perhatian pendidikan intelektual yang diimbangi dengan perhatian bidang afeksi, kepribadian dan iman. Hal inilah sebagai acuan bagi pendidikan yang berkarakter bagi perkembangan kemanusiaan secara utuh. Lalu bagaimana peran orangtua dalam pendidikan anak-anak mereka? Apakah sekedar menyerahkan ke pihak sekolah?

?Keberhasilan pendidikan anak di sekolah tidak dapat lepas dari peran orangtua. Harus disadari dan ditanamkan dalam diri orangtua, bahwa orangtualah yang menjadi pendidik utama dan tak tergugat bagi anak. Jika hal ini disadari dengan sungguh, sebenarnya tugas orangtua itu sungguh berat, mendidik anak dalam kepribadian, iman dan perkembangan intelektual. Maka saya prihatin terhadap orangtua yang tidak begitu peduli dengan perkembangan anaknya yang sudah di sekolah. Anak hadir di sekolah dalam kerangka pendidikan formal dan sekolah mencoba membantu juga dalam perkembangan afeksi, kepribadian dan iman. Tetapi semuanya tetap bergantung pada peran orangtua dalam memperhatikan dan mendampingi anak-anak untuk semakin terbentuk pribadi yang utuh.?

?Selain itu saya juga prihatin berhadapan dengan orangtua yang cenderung membatasi anak untuk terlibat dalam kegiatan sekolah. Meskipun menyerahkan pendidikan pada pihak sekolah, tetapi orangtua masih tidak rela hati atau tidak sepenuh hati mengikuti seluruh kegiatan sekolah yang sebenarnya sekolah hendak memberikan perhatian khusus kepada anak-anak katolik. Masih ada kekhawatiran dari orangtua terhadap sekolah dan kegiatannya. Tentulah sekolah lewat kegiatan yang dilakukan hendak mengarahkan anak-anak pada tujuan yang baik dan pembentukan karakter anak sesuai yang diharapkan.? Demikian tutup Rm. Pratomo mengajak kesadaran orangtua dalam pendidikan anak-anak mereka. *** (Jokunti)


RP. ANDREAS LUKASIK, SCJ
Menjadi Imam Untuk Selamanya

Pada hari Selasa, 21 Februari 2012, menjelang Rabu Abu, di gereja St. Yosef, Pringsewu, Pesta Emas Imamat Romo Andreas Lukasik, SCJ dirayakan dalam Perayaan Ekaristi oleh Komunitas SCJ Lampung dengan mengundang para imam, biarawan-biarawati yang berdomisili di wilayah Keuskupan Tanjungkarang. Ekaristi dipimpin oleh Romo A. Lukasik sendiri dan didampingi oleh Mgr. Andreas Henrisoesanta, Romo Thomas Suratno, SCJ, Romo Johanes Juliwan Maslim, SCJ dan Romo P. Gunawan SCJ serta dihadiri juga oleh beberapa imam.


Siapa Romo Andreas Lukasik, SCJ?

 Mungkin di kalangan umat Keuskupan Tanjungkarang tidak begitu paham dengan Rm. Lukasik. Selama ini ia belum pernah bertugas parokial di keuskupan ini. Rm. Lukasik lahir di Weglowka, Polandia pada 3 Agustus 1936 dan ditahbiskan  menjadi imam dari Kongregasi Imam-Imam hati Kudus Yesus (SCJ) di Stadniki, 18 Februari 1962.

Saat ini Rm. Lukasik berkomunitas di Superiorat SCJ Teluk Betung. Ia bertugas sebagai pembimbing rohani para suster dan juga seringkali dimintai untuk retret khusus bagi imam dan biarawan-biarawati.

Pastor asal Polandia ini mulai berkarya di Indonesia pada Mei 1968 sebagai pastor paroki di Batuputih, lalu pindah ke Belitang (1969) dan kemudian pindah ke Bengkulu (1972).

Romo yang berpostur tinggi ini kemudian banyak berkarya bagi rumah-rumah pembinaan SCJ. Tahun 1975 ia ditugaskan menjadi Magister Novisiat SCJ di Yogyakarta. Saat novisiat dipindahkan ke Gisting (1980), ia ikut pindah dengan tugas sebagai Socius. Pada 1984 ia diangkat menjadi Magister lagi.

Tahun 1989 Rm. Lukasik dipindahkan ke Propinsialat SCJ, Km. 7, Palembang dengan tugas pelayanan retret/rekoleksi dan juga memberikan bimbingan khusus kepada para suster. Ia masih dimintai bantuan untuk pelayanan di paroki-paroki terkait Ekaristi, rekoleksi dan pembinaan liturgi.

Tahun 1993 Rm. Lukasik ditugaskan sebagai pastor paroki Sungai Buah, Palembang dan tahun itu juga dipindah tugas sebagai pembimbing rohani di rumah retret SCJ, serta mengajar di Novisiat Charitas, Palembang. Tahun 2003 ia kembali ke Gisting sebagai Magister novisiat.

Romo buah hati pasangan  suami-istri Yohanes dan Maria ini  memutuskan ikut bersama 10 misionaris Kongregasi SCJ di Kraseisuko dan tiba di Indonesia pada 15 Oktober 1967 dan langsung belajar bahasa Indonesia di Yogyakarta.


Sebuah Refleksi Panggilan Mengikuti Yesus

Lima puluh tahun imamat sudah dilalui oleh Rm. Lukasik dalam perjuangan kesetiaan atas panggilan. Rm. Lukasik merasa beruntung bahwa ia telah menerima tahbisan imamat dan kini telah mencapai usia emas. Dalam kotbahnya Rm. Lukasik merefleksikan bahwa banyak orang yang mau mengikuti Yesus, tetapi tidak banyak yang dipilih oleh Yesus. Sebagai refleksinya beliau mengatakan sbb.:

“Ada seorang bapa pertapa di padang gurun ditanya oleh rahib muda, mengapa di pertapaan mereka pada awalnya banyak orang yang datang ingin menjadi pertapa, namun beberapa hari atau minggu kemudian mereka banyak yang tidak tahan dan kembali ke tempat asal mereka masing-masing. Rahib tua itu kemudian menceritakan sebuah perumpamaan. Seekor anjing melihat kelinci liar yang tidak begitu jauh dari pekarangan rumah tuannya. Seketika itu juga anjing itu menyalak dan berusaha mengejar kelinci itu. Anjing-anjing tetangga rumah mendengar gongongan itu dan segera ikut menyalak dan berlari mengejar. Terjadilah segerombolan anjing mengejar kelinci malang itu. Tetapi selang beberapa saat hanya beberapa anjing yang terus berlari mengejar kelinci itu. Hanya anjing yang melihat kelinci saja yang terus mengejar, sedangkan anjing yang hanya ikut-ikutan berlari tidak tahu tujuannya dan pelan-pelan akan tertinggal.

Ada yang menawarkan diri, aku mau mengikuti-Mu kemanapun Engkau pergi, tetapi Yesus tidak menerima orang itu. Yang lain Tuhan aku akan ikut kemana saja dengan Engkau tetapi ijinkanlah terlebih dahulu aku melawat ayah. Yesus tidak setuju. Yesus mengatakan Yang sudah pasang tangan pada bajak jangan menoleh ke belakang. Tuntutan dari pihak Kristus, barangsiapa menjadi murid-Ku, harus menyangkal diri. Itu berarti harus berjuang melawan dirinya sendiri, melawan egoisme, melawan kecongkaan hati, melawan kesukaan pribadi. Dengan satu kata harus siap berjuang. Yang mau mengikuti Aku, harus memanggul salibnya setiap hari”, bukan kadang-kadang. Berarti Yang mengikuti Kristus harus siap menderita bagi Kristus dan mungkin juga karena Kristus. Dan yang ketiga: “mengikuti Aku.” Orang terpanggil jika mengikuti Kristus dari dekat, melihatNya, sering mengingat Dia…selalau dekat. Hanya dia yang bisa setia.”

“Ia menyadari bahwa dipanggil Yesus berarti dipanggil untuk akrab dengan-Nya. Yesus menyebut para murid-Nya sahabat, bukan hamba. Sahabat karena kepada mereka Yesus telah mengatakan semua yang telah didengar-Nya dari Bapa-Nya. Tidak ada lagi yang Yesus disembunyikan terhadap sahabat-sahabat-Nya. Sebagai sahabat, kita harus menyesuaikan pikiran dan kesukaan dengan sahabatnya itu. Bersedia terbuka pada sahabatnya dan tidak ada rahasia yang disembunyikan. Bila seseorang berusaha menyembunyikan suatu rahasia terhadap sahabatnya, maka persahabatan itu berada dalam bahaya.”

Imamat yang telah ditempuh oleh Rm. Lukasik selama ini adalah usaha terus menerus untuk menjadi sahabat misteri Kristus. Ia menyadari sungguh bahwa Yesus telah menyerahkan misteri pribadi-Nya kepada sahabat-sahabat-Nya. Yesus menghendaki supaya misteri penebusan dan penyelamatan dalam diri-Nya kini menjadi misteri dalam diri  para pengganti-Nya, yaitu para pelayan-Nya. Imamat yang telah diterima Rm. Lukasik telah mengangkat dirinya menjadi pelayan Tubuh dan Darah-Nya, pelayan misteri penebusan dalam perayaan Ekaristi. Sebagai imam, ia bukan hanya bertindak atas nama Kristus, tetapi juga bertindak in persona Christi, bertindak dalam pribadi Kristus.

“Dalam Ekaristi, imam mengatakan “ambillah dan makanlah inilah Tubuh-Ku.”  Bukan mengatakan ‘ambillah dan makanlah Tubuh Kristus’. Padahal imam tahu itu bukan Tubuhnya tetapi ini Tubuh Kristus. Begitu juga Darah-Nya, piala DarahKu. Berarti bahwa melalui imam, Yesus sendiri merubah Roti dan Anggur. Imam hanya menjadi alat-Nya.” Demikian penjelasan Rm. Lukasik.

Selain bertindak in persona Christi, imam juga disebut Alter Christus. Rm. Lukasik sepaham dengan pendapat seorang imam tua ketika dalam pertemuan imam menjawab pertanyaan apakah tidak keliru menyebut diri imam sebagai alter Kristus. Kata imam tua itu,“Saya tidak mungkin masuk ke tempat pengakuan dosa kalau saya tidak yakin bahwa sebutan itu benar. Karena di situ saya mengatakan,”aku melepaskan dikau dari dosamu”. Seakan-akan Kristus ada disitu.”

Bagi Rm. Lukasik, menjadi imam berarti harus menghadirkan Kristus dalam pelayan-pelayanan yang dikerjakan. Apalagi hal ini didasarkan pada kesadaran bahwa imam adalah sahabat Kristus. Seorang imam juga menjadi sahabat bagi misteri keselamatan yang terlaksana dalam diri Kristus, mendamaikan dunia dengan surga.

Rm. Lukasik dalam pelayanannya berusaha untuk siap sedia melaksanakan pelayanan tanpa mengeluh. Ia sendiri menyayangkan bila ada imam yang mengeluh karena merasa pelayanan sebagai imam terlalu berat-sulit. Rm. Lukasik memahami bahwa sebagai imam, ia harus bersahabat pula dengan misteri salib Kristus. Menjadi pelayan misteri Kristus seringkali harus berani menatap salib dan menerima salib. Memang kita suka salib asal terbuat dari emas atau salib yang dipasang di dinding. Tetapi kalau salib itu menyentuh badan kita, suatu penyakit, suatu kesusahan, ya tunggu dulu. Mengapa saya? mengapa sekarang? Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan, padahal Yesus mau supaya saya sebagai imam menjadi sahabat Kristus dan Dia tidak bisa dipisahkan dari salib-Nya.”

Injil memperlihatkan bahwa banyak orang mengikuti Kristus, tertarik oleh pengajaran-Nya  yang lebih baik daripada ahli Taurat. Lebih banyak mengikuti Yesus karena mukjizat-Nya. Tetapi ketika Yesus dibenci dan menanggung penderitaan, mereka meninggalkan Yesus sendirian.

Rm. Lukasik kagum pada perjuangan iman dan imamat dalam diri Kardinal Wyszynski. Kardinal ini dipenjara oleh orang-orang komunis, namun tetap setia pada iman dan pilihan imamatnya. Dalam penjara ia menulis semacam brosur berjudul “catatan harian dalam penjara”. Ia mengatakan, “Seandainya hari ini saya lahir sekali lagi dan harus memilih sekali lagi jalan hidupku, tanpa ragu-ragu saya akan memilih imamat. Walaupun saya tahu hidupku akan berakhir di penjara, mungkin … di tiang gantungan. Aku lebih senang menjadi imam daripada kaisar. Imamat bagiku lebih berharga dari semua jabatan di dunia. Lebih baik saya di penjara dihina, daripada dipuji-puji sebagai Kaisar.”

Hidup seorang imam indah karena persatuan tak terpisahkan dengan Kristus. Rm. Lukasik percaya bahwa dalam sakramen imamat terjadi pertukaran sakramental, suatu transmisi, yaitu penyerahan kuasa ilahi oleh Roh Kudus dalam diri seorang imam. Seseorang mendapatkan identitas baru sebagai imam, realitas adikodrati karena sakramen Imamat yang ia terima. Imamat ini terukir dalam jiwa seorang imam, sebagai meterai yang tak terhapuskan.

Menjadi imam untuk selamanya, bukan untuk beberapa bulan atau beberapa tahun. Demikian prinsip yang dihidupi Rm. Lukasik. Bahkan ia mengatakan kalau ada imam yang masuk neraka, semua penghuni neraka tahu kalau ia adalah imam dan kalau ia masuk surga, malaikat dan semua orang kudus juga tahu bahwa ia adalah imam. Mengapa demikian? Justeru karena meterai itu. Sebab dalam sakramen Imamat terjadi perubahan ontologis, yaitu inti jiwa manusia berubah karena rahmat ikatan khusus dengan Kristus. Menurutnya, dengan tahbisan, seseorang yang telah memiliki pribadi manusiawi kini menerima kepribadian yang kedua, yaitu pribadi sacerdos atau imam.

Rm. Lukasik bersharing bahwa teman-teman sekolahnya dahulu ketika berjumpa dengannya mengatakan, “Sesudah kamu ditahbiskan, kamu menjadi lain.” Rm. Lukasik sendiri merasa tidak ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, tetapi ternyata orang lainlah yang melihat perubahan. Secara sederhana, ia memberi contoh, kalau ada seorang imam sedang memperbaiki sepeda motor, orang lain akan tahu apakah ia seorang ahli mesin motor atau bukan. Orang tahu bukan karena kenal sebelumnya, tetapi tahu dari cara dan gaya bekerja, atau gaya bicaranya.

Nah, bagaimana pendapat Rm. Lukasik terhadap imam yang tampil seperti orang muda pada umumnya, atau sekarang istilahnya ‘romo gaul’? “Tidak baik kalau seorang imam menyamakan diri dengan gaya orang muda soal gaya baju, gaya bicaranya, gaya rambutnya atau gaya bahasanya. Umat seringkali mengatakan sebenarnya kami membutuhkan seorang imam bukan kumpel, seorang kawan yang cukup akrab yang bisa pukul bahunya. Kami tidak suka kalau ada pastor yang seperti itu. Kami membutuhkan imam bukan seorang kawan. Dalam diri seorang imam harus nampak sacrum, harus nampak Kristus yang hadir di situ. Dia tidak pernah hadir sendirian. Dan meterai menjadi sumber rahmat terutama bagi dirinya sendiri ketika ia melayani umat dan juga bagi umat yang dilayaninya agar bisa melayani umat seperti Kristus Gurunya, kepalanya.”

 Rm. Lukasik bergabung dengan Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) dan mengucapkan kaul perdana pada 2 September 1953 dan kaul kekal empat tahun kemudian. Sebagai biarawan sekaligus imam, Rm. Lukasik menyadari panggilan untuk ikut serta dalam penderitaan Kristus. St. Paulus mengatakan aku bergembira karena menderita bagimu, yaitu jemaat Filipi “dan demikian aku melengkapi kekurangan penderitaan Kristus bagi umat-Nya”. Hal ini bukan berarti penderitaan Kristus tidak cukup untuk menebus dosa semua manusia, tetapi St. Paulus sendiri sadar bahwa Tuhan membuka surga bagi semua orang tetapi banyak orang tidak mau masuk.

Hal inilah yang menjadi kesadaran bagi Rm. Lukasik untuk ikut serta mengalami pederitaan Kristus yang dipersembahkan kepada para pendosa. Ia selalu memohon rahmat pertobatan bagi orang-orang yang berdosa, “Karena Engkau telah mati untuk semua orang, jangan biarkan ada yang hilang.” Ia sendiri menggambarkan bahwa selama di dunia, seorang imam atau biarawan-biarawati mungkin tidak kenal banyak orang, tetapi di surga nanti akan mengenal orang-orang yang selamat, bahagia selamanya, berkat doa dan pengorbanan yang telah dipersembahkan sebagai silih bagi mereka.

Usia imamat Rm. Lukasik telah mencapai usia lima puluh tahun dan umurnya telah mencapai 76 tahun. Di umur yang tidak lagi muda ini, Rm. Lukasik masih bisa menjadi bapa pembimbing bagi imam lain dan juga bagi biarawan dan biarawati. Apakah tidak ada ketakutan bahwa ia suatu saat nanti tak bisa lagi memberikan pelayanan karena faktor usia? Rm. Lukasik berkisah, Pastor Segur seorang pengkhotbah, bapa pengakuan dan pembimbing rohani ulung mendadak kehilangan penglihatannya. Bapa rohani ini masih sanggup memberikan bimbingan rohani meski tanpa penglihatan. Namun pelan-pelan pendengarannya juga menurun drastis sehingga ia tidak bisa lagi mendengar. Ia tidak mungkin lagi menjadi bapa pengakuan dan juga tidak bisa lagi menjadi pembimbing rohani.

Melihat kondisi pastor itu, seorang teman imam datang dan mengungkapkan rasa kasihan karena musibah yang menimpa temannya, sehingga ia tidak bisa lagi bekerja sebagai seorang imam. Tetapi Pastor Segur mengatakan, “apakah kamu pikir Tuhan membutuhkan khotbah saya? Atau bimbingan saya? Tuhan membutuhkan hanya hatiku, cinta kasihku dan ini aku bisa tetap member kepada-Nya.”

Menurut Rm. Lukasik, sebagai pelayan bisa menyatukan diri menjadi satu kurban dengan kurban penebusan Kristus. Dalam kesatuan kurban ini, kita dapat bekerjasama dengan Kristus untuk menyelamatkan manusia. Orang yang sakit, tidak bisa lagi bergerak, bahkan tidak berdaya untuk mengurus dirinya sendiri, justru mereka ini bisa menyelamatkan jiwa banyak orang.

Penderitaan yang dialami harus diterima dengan tabah hati. Penghayatan iman akan memberikan jalan keluar dari situasi sulit karena bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil. Orang yang tampaknya tak berdaya justru bisa jauh lebih banyak berkarya bagi penyelamatan jiwa orang lain, dari pada orang yang nampaknya sibuk dari pagi hingga menjelang pagi berikutnya. Orang seringkali disibukkan dengan karyanya tetapi sebenarnya hendak membanggakan dirinya sendiri. Gereja tidak membutuhkan kebanggaan seperti ini. Kebanggaan Gereja adalah salib Kristus seperti yang diungkapkan St. Paulus, kalau saya mau memegahkan diri karena sesuatu itu karena salib Kristus. Kristus tidak terpisahkan dari salib itu.*** (Jokunti, dari khotbah Rm. Lukasik 21/2/12 dan berbagai data)


RD. ANDREAS BASUKI WAGIMAN
Menumbuhkan Keluarga Yang Beriman

Suara parau pengumandam adzan dari corong masjid yang terletak di belakang bangunan Pastoran Paroki Keluarga Kudus Sidomulyo menjadi salah satu santapan telinga, lima kali setiap harinya. Malam itu (29/12) kebetulan Nuntius tengah berkunjung dan mendapati suara adzan dari rumah ibadah sebelah Pastoran begitu jelas. Letak Pastoran hanya berjarak beberapa meter dari Gereja Paroki berlantai dua ini. Pastor yang menempati kamar di lantai dua nampaknya sangat membutuhkan kesabaran di atas rata-rata. Ketika subuh pun, ketika sedang enak-enaknya terlelap, harus ikut terjaga. Walaupun begitu, bangunan yang dihuni dua Pastor pemimpin umat katolik di se- Paroki Sidomulyo ini, seolah nampak menikmati perbedaan dan keanekaragaman rumah ibadat.

RD. Andreas Basuki Wagiman (52) salah satunya, adalah Pastor Paroki di Paroki Keluarga Kudus Sidomulyo yang genap berusia 52 tahun pada 27 Desember lalu. Baru dari September 2010 lalu Romo Basuki demikian panggilan akrabnya, memimpin Paroki dengan jumlah umat mencapai 1.750. Pastor yang terkenal dengan hobi menulisnya ini, sebelumnya  bertugas sebagai Pastor Paroki di Unit Pastoral Mesuji dari tahun 2007 lalu. Sedikit demi sedikit mulai beradaptasi dengan situasi dan kondisi rumah barunya ini.

Saat ditemui Nuntius, anak pertama dari tujuh bersaudara ini tampak terlihat kelelahan setelah seharian bersama seluruh umat Parokinya merayakan hari jadi Paroki. Walaupun begitu, Romo Basuki antusias bercerita seputar Paroki tempat ia berkarya ini, terutama seputar perayaan hari kelahiran yang seharian ia nikmati bersama seluruh umatnya.

“Dalam khotbah, saya lebih fokus pada masalah keluarga, supaya dari keluarga kudus yang digunakan sebagai pelindung Paroki (Sidomulyo) sungguh-sungguh dijadikan hari yang istimewa untuk keluarga. Karena dari data, ada empat keluarga yang bubar. Lalu saya melihat masalah-masalah keluarga lainnya. Menurut saya sudah terlalu banyak umat yang meninggalkan iman Katolik. Maka dari itu saya mengajak pada setiap keluarga supaya memperhatikan iman dalam keluarga. Kalau suami istri bisa memberi teladan meskipun jaman sekarang tugas untuk mendidik anak itu susah dan berat, akan menjadi mudah dan ringan kalau ada keteladanan. kalau tidak ada keteladannan ya susah”.

Romo Basuki mengajak seluruh umat untuk meneladan keluarga kudus yang memang taqwa Kepada Tuhan dalam suka dan duka. Bagaimana agar nyaman dan meneladan kehidupan Abraham yang karena imannya berkembang. “Saya mengharapkan dalam keluarga dalam arti luas paroki ini, juga nanti berkembang, kalau memang sungguh-sungguh beriman seperti Abraham,” tegasnya.

Dia berharap pada moment ulang tahun ini sebagai langkah baru mewujudkan paroki yang berdasarkan Visi Misi Keuskupan Tanjungkarang.

“Kedepan saya mau mewujudkan paroki yang memang berdasarkan Visi Misi Keuskupan Tanjung Karang, pastoral yang membawa umat pada Allah, membawa Allah pada umat, mencari untuk menemukan kehendak Allah supaya nanti juga semakin mendiri.”

Seperti diketahui, pada moment ulang tahun paroki ke 34 ini, telah terbentuk Pengurus Dewan Paroki yang sebelumnya memang tidak ada. Romo Basuki mengaku, sejak masuk di Paroki Sidomulyo 2010 lalu, sedikit kesulitan memimpin umat setempat karena ketidakakuratan data umat di Paroki di Kabupaten Lampung Selatan ini.

“Harapan kepengurusan terbentuk, tinggal koordinasi menyusun program. Lalu data umat juga kan selesai lebih akurat. Karena saya berpastoral itu harus berbasisi data. Jadi selama ini data umat itu belum akurat sehingga setiap keluarga belum ada kartu keluarganya. Saya tidak tahu persis jumlah umat di paroki ini. Kedepan memang lebih terencana ya, selama ini kan acara-acara di paroki tidak terprogram dan tidak bertolak sungguh-sungguh dari keprihatinan. Nanti akan dilihat, keprihatinan apa saja yang ada, lalu harus menentukan priorotas”.

Dia berharap pengurus dewan paroki lebih aktif karena selama ini hanya ada satu yang aktif. Pengurus nantinya akan difungsikan lebih efektif. Pengurus per wilayah akan membawahi beberapa stasi. Seperti diketahui di Paroki Sidomulyo terdapat empat wilayah yakni wilayah I, II, III dan IV dengan total 21 stasi. Wilayah I terdiri dari empat stasi yakni Sidomulyo, Trans Tanjungan, Umbul Lalang dan Tanjungjati. Sedangkan wilayah II terdiri empat stasi yakni Sidoharjo, Waringinharjo, Sidomakmur, dan Pulaujaya. Untuk wilayah III terdiri dari tujuh stasi, yakni Way Gelam, Candipuro, Rawa Selapan, Sinar Kemuning, Umbul Jeruk, Rawa Selumbu dan Trimomukti. Sementara itu untuk wilayah IV terdiri dari enam stasi, di antaranya Talangjawa, Wonoroto, Tanjungwangi, Tritunggal, Sidomukti, dan stasi Rawa Kemang.             

“Sebelum ada dewan pastoral Romo mau berbicara dengan siapa, kan gitu. Dan kalau ada dewan pastoral bisa diajak bicara bersama. Saya kira bisa sekaligus diminta gagasannya. Supaya Romo punya teman, karena untuk berpastoral itu kan bukan hanya tugas Romo tapi tugas seluruh umat. Perangkat dewan pastoral itu nanti bersama-sama dengan Romo. Bagaimanapun, program sebagus apapun tergantung pada orangnya. Orangnya potensial kalau tidak ada programnya itu percuma juga. Ada orang, ada program, gak ada dana mau apa kan? Jadi saling melengkapi. Jadi semakin ada sarana, prasarana, personnya akan memudahkan. Ya harapannya optimis kalau nanti sudah terdata umat ini kita bisa memetakan juga, ia kan?”

Ada empat hal pokok yang menjadikan umat berkembang dan dewasa menurut Romo kelahiran Solo, 27 Desember 1959 ini, yakni regenerasi, partisipasi, kemandiran soal dana dan kematangan dalam hal iman.

“Menurut gagasan saya, umat dewasa  dan berkembang itu kalau pertama ada regenerasi. Dari segi kepengurusan tidak hanya orang itu-itu saja”

“Yang kedua adalah partisipasi. Semakin banyak yang dilibatkan semakin senang saya. Yang dilibatkan itu tidak nunggu. Wah, jangan menunggu anak ketika dewasa baru dilibatkan untuk petugas altar entah baca, mazmur atau apa. Walaupun masih SMP, masih anak-anak pun kalau bisa lektor, nyanyi (mazmur) kenapa tidak. Kenapa harus ditungu sampai besar, sampai bapak-bapak dan ibu-ibu. Pada saat anak-anak sudah dilibatkan nanti ketika sudah menginjak usia OMK itu sudah matang, sudah hebat nanti, sudah tinggal ngelatih saja. Selama ini memang saya katakan, supaya pada saat ibadah sabda, kesempatan untuk melibatkan para petugas pemula, jadi nanti kalau sudah matang baru dilibatkan pada saat misa”

“Ketiga, kemandiran soal dana. Ada tokoh-tokoh yang memang motivator. Ada empat orang untuk masing-masing wilayah. Maksudnya supaya yang menjadi keprihatian untuk yang bicara ya umat masalah uang itu buka Romo. Sehingga bisa memikirkan ke depan itu supaya memiliki dana cukup. Karena memang tanpa dana kegiatan tidak akan bisa jalan.”            

“Keempat kematangan dalam hal iman. Sepenting-pentingnya uang itu adalah untuk sarana, tujuannya adalah untuk pengembangan iman itu. Pengembangan iman tentu saja melalui pendampingan, pembinaan. Selama saya satu tahun disini, memang tidak ada pembinaan yang sungguh-sungguh.”

Menurut anak dari pasangan Yustinus Wagiman dan Katarina Painem ini, anak-anak belum tersentuh pada Paroki Keluarga Kudus Sidomulyo.

“Menurut saya mencintai gereja berarti mencintai anak-anak. Dan Yesus sangat mencintai anak-anak. Kalau anak-anak sudah sungguh diperhatikan nanti dewasa lebih enak. Ya ingat itu, sungguh-sungguh pembinaan sangat penting pada saat anak-anak. Karena apa yang kita sampaikan itu sungguh-sungguh direkam oleh mereka. Saya kira setiap kita masih ingat bagaimana guru sekolah minggu. Makanya kalau pembinaan anak sudah berlangsung secara baik nanti remaja (SEKAMI) lebih enak. Jadi pembinaan itu memang harus sedini mungkin, nah itu peran orangtua sangat penting”.

“Saya sungguh-sungguh sangat terharu pada para orangtua yang membawa anaknya ke gereja ikut kegiatan entah misdinar entah pelajaran. Tapi ada orang tua yang memang enggak peduli itu yang menyedihkan. Seharusnya orangtua itu senang sekali kalau anaknya berada di areal gereja ia kan? Jadi kalau lingkungan gereja menjadi tempat yang vaforit bagi mereka, kegiatan itu sungguh antusias mereka ikuti ya itu sungguh-sungguh kita harapkan kedepannya. Lebih baik mengarahkan anak untuk aktif dalam kegitan gereja, daripada anak anak keluyuran kemana-mana enggak terarah dengan siap mereka bergaul kan. Mereka ingin jadi siapa kan tergantung kemana dan temannya siapa” pungkas Romo Basuki.***(bejo)


RD. HIGIANES INDRO PANDEGO

Perjumpaan Yang Profetis & Misioner

Romo Indro, demikian panggilan imam yang ditahbiskan tahun 2008 ini. Lahir pada 19 Juni 1978 di Rejomulyo, masuk wilayah Paroki Margoagung yang sebelumnya menginduk ke Paroki St. Yohanes Kedaton. Maka tak heran bila ia mengenal dengan dekat Rm. Paul Bilaud, MEP yang pernah menjadi pastor paroki Kedaton dan RD. Totok Subianto yang menjadi pastor unit Margoagung. Perasaan Indro kecil senang luar biasa bila bisa berjabat tangan dengan seorang romo, apalagi kenal begitu dekat dan akrab. Dari pengalaman inilah mulai muncul benih panggilan meskipun masih samar.

Ketika duduk di bangku SMA, ia aktif dalam kegiatan Persatuan Siswa-siswi Katolik Lampung (Persikala). Dalam pergaulan yang supel di Persikala inilah ia mendapat dukungan dari teman-temannya ketika mengutarakan niatnya ingin menjadi imam. Tak ayal lagi keinginan yang didukung teman-temannya itu harus diketahui orangtuanya. Maka Indro remaja mencurahkan isi hatinya kepada orangtuanya dan ternyata mereka sangat mendukung. Lepas dari SMA ia pun masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Palembang.

Ignatius Sujiman dan Bernadeta Sakiyah adalah bapak dan ibu yang menjadi guru iman bagi Indro kecil bersama enam saudara kandungnya. Kisah perjuangan iman orangtuanya memberi inspirasi iman pula baginya. Rm. Indro berkisah bahwa Ayahnya baptis ketika sudah dewasa, namun karena perjuangan imannya justru mampu menggantikan posisi seorang tokoh umat di stasinya.

Di rumah, orangtuanya berusaha membangun suasana hidup iman. Mereka berusaha membangun kebersamaan dengan makan dan doa bersama. Secara pribadi juga orangtua memberikan teladan hidup dengan berdoa dan membaca Kitab Suci pada malam hari.

Tahun Orientasi Panggilan (TOP) di Liwa, Lampung Barat, sangat berpengaruh dalam pembentukan dasar-dasar imamatnya. Liwa dengan geografis pegunungan dan situasi pertanian mempengaruhi situasi hidup menggereja di sana. Rumah umat berjauhan dengan ekonomi menengah ke bawah dan ada yang belum memiliki rumah ibadat. Namun situasi ini justu menampilkan semangat iman yang hidup. Situasi ini pula yang kemudian memompa semangat Rm. Indro dalam panggilan dan pelayanan pastoralnya.

Rm. Indro juga mengungkapkan situasi umat dapat memacu perkembangan imamatnya. “Yang tidak bisa saya pungkiri juga, betapa hidup umat di UP Bakauheni juga sangat menolong saya mengembangkan cara penghayatan imamat saya, terlebih dalam kaitan vitalnya komunikasi pikir rohani-pastoral bagi perkembangan Gereja. Di sana selalu saja ada orang yang bisa dengan selalu indah merenungkan peristiwa hidup harian dalam terang Sabda Allah dan pengalaman beriman Katolik! Inilah yang mendasari visi umat Bakauheni untuk berjalan ke depan bersama Sang Gembala Agung, Yesus Kristus-Tuhan. Dinamika hidup beriman dan menggereja yang demikian ini menghantar saya untuk menghidupi imamat dalam semangat perjumpaan dan permenungan (bersama dan atau pribadi)!” ungkapnya.

Sebagai imam yang masih muda, Rm. Indro berusaha memahami visi-misi keuskupan dan kemudian menterjemahkannya dalam pelayanan pastoralnya. “Visi-misi keuskupan, dari yang coba saya ikuti,  lahir dari ‘semangat berjalan tiada henti’ Gereja di Lampung. Seperti perjalanan Abraham meninggalkan kampung halamnnya Ur-Qasdim untuk menemukan Tanah Terjanji. Juga serupa perjalanan bangsa Israel di bawah pimpinan Musa dan Yosua dari Mesir menuju Kanaan. Dalam perjalanan itu, mereka menjumpai banyak orang dengan aneka kepercayaan dan aneka cara beribadah. Mereka juga dihadapkan pada penolakan warga-warga setempat di mana mereka singgah atau menetap. Tetapi, Allah senantiasa hadir memulihkan pengharapan mereka!”

“Perjalanan ini juga seunik perjalanan Yesus bersama Para Murid, dari desa Nazaret menuju Yerusalem. Kadang mereka dipuji, dielukan, bahkan tak jarang diikuti. Tak jarang juga mereka ditolak atau dibenci. Tapi, bukankah justru dalam pengalaman yang harus dibayar dengan kesusahan – orang lantas menjadi lebih bijak, empta dolore docet experiential, kata pepatah Latin. Melalui pengalaman berjalan bersama Yesus Kristus, dengan berjumpa, menyapa, tinggal bersama dan berdialog dengan banyak orang dengan seribu satu cara apresiasi dan reaksi, para murid senantiasa menemukan kebijaksanaan hidup baru yang membuat mereka mantap dan kuat berjalan sekaligus berkeyakinan bahwa keselamatan dan kebahagiaan sejati selalu menjadi kerinduan semua orang! Ini yang tengah kita,  Gereja Lampung, tawarkan,” Papar Rm. Indro.

Dengan pemahaman inilah maka Rm. Indro berusaha memanfaatkan kesempatan yang memungkinkan untuk menghadirkan gereja dalam bertegur sapa dengan semua orang. Ke dalam lingkungan Gereja, ia berusaha membangun komunikasi bersama umat, termasuk Orang Muda Katolik (OMK), dalam perencanaan dan evaluasi kegiatan pastoral. Kesempatan untuk berkomunikasi ke luar lingkungan Gereja juga dimanfaatkannya, misalnya pertemuan oekumenis dan forum komunikasi antarumat beragama.

Rm. Indro menilai bahwa sebagian umat sudah mampu membangun kebersamaan dalam masyarakat. Umat sudah menampilkan hidup yang berdasar pada iman mereka. Ia mencontohkan banyak orang Katolik yang mengembangkan kebersamaan dalam masyarakat dalam bentuk paguyuban seni, atau peternakan dan pertanian. Ada pula sekumpulan orang muda yang membentuk kelompok doa dan memberikan perhatian kepada anak-anak yang miskin atau anak-anak jalanan.

Rm. Indro menegaskan bahwa praksis hidup dalam masyarakat seperti itulah yang bersumber pada semangat visi-misi keuskupan. Tetapi tidak sendirinya persoalan yang dihadapi Gereja selesai. “Apakah dengan cara itu mereka menyelesaikan semua soal yang di hadapi Gereja di Lampung ini? Tentu tidak! Tetap saja ada soal yang tinggal dan menjadi pekerjaan rumah bersama! Dan justru inilah yang mendorong kita untuk terus bersaksi dengan ‘semangat berjalan tiada henti’,” tegasnya.

Ada keprihatinan yang hadir dalam benak Rm. Indro menghadapi situasi konkret umat di paroki. Menurutnya, ada sebagian umat yang berpaham relativisme dalam hidup beragama. Banyak orang menganggap semua agama sama saja, sama-sama menyembah Allah sehingga nikah atau pindah agama A atau B tidak masalah. Tidak ada militansi iman yang kuat karena iman Katolik belum menjadi roh hidup yang digeluti dalam hidup harian.

Rm. Indro juga tidak menutupi permasalahan di wilayah perusahaan yang ada di Unit Pastoral Bandar Sakti. Ia mengungkapkan bahwa Gereja juga harus memperhatikan cara hidup iman para buruh perusahaan. Para karyawan tentu tidak selamanya tinggal di areal perusahaan. Mereka faktanya numpang hidup sementara di perusahaan. Konsep ini yang kemudian terbawa dalam hidup menggereja. Mereka pun memahami hanya numpang berdoa di gereja sehingga semangat partisipasi dalam hidup menggereja sangat kurang.

Rm. Indro juga melihat keprihatinan pada keluarga-keluarga Katolik. Gereja yang dinamis bergerak bersama keluarga-keluarga Katolik. Merekalah yang tinggal dan hidup di tengah masyarakat. Merekalah yang menjadi garam dan terang dalam masyarakat. Kalau iman dalam keluarga mudah tergoncang, maka fungsi menggarami dan menerangi tidak akan berjalan. Menurut Rm. Indro, penting diperhatikan kualitas iman keluarga Katolik sehingga penting pula diadakan penyegaran iman bagi keluarga-keluarga lewat pendampingan, rekoleksi, retret atau juga pelatihan kewirausahaan.

Menanggapi digulirkannya rencana Pertemuan Pastoral Gereja Partikular (perpasgelar) ketiga, Rm. Indro menilai bukan sekedar lanjutkan atau ganti program. “Lihat, bagaimana Konsili Yerusalem ketika membicarakan soal sunat dan ketetapan sesudahnya. Ini soal kebijaksanaan! Kebijaksanaan sejati dasarnya Allah sendiri! Apakah kita bersama sudah memulainya dengan Gerakan Doa Bersama?” demikian ungkapnya.

Menurut Rm. Indro, perpasgelar harus dibuka dengan suatu cerminan pastoral. Cermin yang dimaksudkan adalah Kitab Suci. Pada persiapan awal perpasgelar III ini belum ditemukan satu teks biblis yang direnungkan bersama untuk mensharingkan pergumulan seluruh umat bersama Allah dalam konteks hidup Gereja Lampung.

Gereja tak terpisahkan dari masyarakat, Gereja harus menggarami masyarakat dengan nilai iman, misalnya dalam hal keadilan dan kesejahteraan sosial. Atas pernyataan ini, Rm. Indro menegaskan bahwa langkah pertama adalah menjumpai masyarakat.Berkomunikasi dan berpartisipasi dalam masyarakat adalah buah selanjutnya dari tindakan perjumpaan itu.

“Lihat bagaimana Yesus mewartakan nilai-nilai persaudaraan hidup dan pengampunan, dengan menjumpai orang-orang terlebih dahulu, misalnya Zakheus, perempuan Samaria, Maria Magdalena, dll. Perjumpaan ini bukan untuk larut begitu saja dengan situasi-situasi yang berkembang. Ini adalah perjumpaan yang berdimensi profetis juga missioner! Profetis dalam arti kesaksian iman yang ditampilkan menghantar orang sampai pada penemuan kebenaran sejati. Misioner artinya kita memiliki arah yang jelas yakni keselamatan dan kebahagiaan sejati!” Demikian diungkapkan Rm. Indro dengan tegas.

Pada bagian akhir, Rm. Indro menyampaikan hal lain yang perlu diperhatikan dalam berpastoral. Hal yang paling mungkin dilakukanlah yang pertama harus diperhatikan dan dijalankan. Inilah yang disebut sebagai pastoral yang sesuai situasi setempat. Selain itu, Rm. Indro juga mengungkapkan pentingnya pengarsipan dan pendokumentasian, baik dalam administrasi maupun dalam pertemuan pastoral umat.

Rm. Indro menambahkan perlunya bekerjasama untuk memandirikan orang katolik dalam perekonomian, namun sekaligus bisa menampilkan kualitas iman di tengah masyarakat. Hal ini adalah pastoral secara lebih luas karena terlepas dari pastoral sakramental. Bila ada peluang usaha dengan diadakan pelatihan usaha mandiri dan juga dibangun jaringan usaha, maka terbuka peluang bagi orang-orang Katolik untuk membuka usaha mendiri yang sanggup membuka lapangan kerja bagi masyarakat di sekitarnya.  Dengan cara-cara ini, Gereja bisa berbicara kembali di tengah masyarakat.

Selamat berkarya bersama umat dan dalam masyarakat sambil terus membekali diri!*** (Jokunti)


RP. THOMAS SURATNO, SCJ
Efektifkan Pastoral Media Komunikasi

Wartakanlah Sabda Allah dari atas menara siar…! Kalimat ini yang menyinggahi karya imam dalam profil kali ini. Rm. Thomas Suratno, SCJ, demikianlah romo yang saat ini mengemban tugas sebagai ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Tanjungkarang dan juga sebagai ketua Signis Indonesia. Romo Ratno, demikian panggilan imam ini yang lahir di Cirebon, 17 Agustus 1958 dari pasangan FX. Mardjani dan  MG. Murnawi.

Romo yang sebenarnya bukan dari keluarga Katolik ini mengenyam pendidikan SD dan SMP Xaverius di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Pendidikan di sekolah Katolik dan pergaulan dengan orang Katolik menjadi jalan panggilan baginya untuk beriman secara Katolik pula. Ketika duduk di kelas 2 SMP, ia menyatakan ingin menjadi Katolik dan diterima sebagai katekumen oleh Rm. Mark Fortner, SCJ, pastor paroki Lubuk Linggau (sekarang di Amerika). Satu tahun ia mendapat pengajaran katekumen dan akhirnya dibaptis oleh Rm. L. Walsack, SCJ (alm).

Pergaulan dengan keluarga Al. Suyoto, SCJ, membuat Rm. Ratno dulu mengenal banyak hal tentang agama Katolik dan juga seputar kehidupan pastor. Sudah ada niat ingin masuk seminari, namun sebagai baptisan baru ia ragu-ragu dan menunda hingga lulus SMP. Penundaan inilah yang membuatnya terlambat mengikuti test karena  diadakan pertengahan tahun ajaran. Sambil menunggu test masuk tahun berikutnya, ia masuk ke SMA Negeri di kotanya. Meskipun semula ia seorang diri yang Katolik di keluarganya, namun orang tua dan saudara-saudaranya mendukung dan menyemangatinya.

“Ini aku, utuslah aku!” (Yes 6:8). Inilah moto Rm. Ratno dalam tahbisan di Paroki Providentia - Lubuk Linggau, 10 Februari 1988. Motto ini pula yang menyemangati tugas pelayanan imamatnya, siap diutus ke mana saja tentu dengan dasar pengabdian hidup kpd Tuhan dan semua orang melalui kongregasi dan gereja di mana ia berkarya.

“Karena perjalanan hidup dan panggilan saya terus bergumul dengan segala permasalahan yang dihadapi dan menyadari bahwa saya adalah imam biasa dengan segala cacat celanya, maka sebagai imam, hamba Tuhan, saya dapat mengatakan secara singkat  namun mencerminkan perjalanan hidup saya, yakni Hidupku adalah belaskasih pengampunan Allah! Dan tanpa belaskasih pengampunanNya saya takkan dapat bertahan hingga kini dalam panggilan! Demikian papar Rm. Ratno.

“Karena tugas seorang pastor (gembala) yang imam adalah melayani umat dalam kerangka menuju keselamatan, hal ini memicu diri saya terus belajar untuk memampukan diri demi pelayanan umat. Tidak harus belajar formal, secara otodidak pun jadi. Apalagi sekarang… dengan internet saya bisa belajar banyak! Namun yang penting, semuanya itu dilakukan demi pelayanan bukan untuk diri sendiri apalagi untuk kepopuleran. Siap diutus berarti siap melayani. Untuk menopang pelayanan yang tepat menurut saya perlu belajar terus menerus!” imbuhnya.

Sikap siap diutus inilah yang menjiwai tugas perutusan di manapun. Ia merasa ada tantangan yang dihadapi dalam setiap wilayah pelayanan pastoral. Ia mengungkapkan “Saya banyak melihat dan bergulat dengan persoalan umat. Di paroki luar kota, apalagi di stasi-stasi persoalan yang dihadapi oleh umat, secara eksternal: kebanyakan soal sosial-ekonomi dan di beberapa tempat soal kerukunan hidup beragama yang sering terganggu. Sedangkan secara internal: pengetahuan agama rendah yang mempengaruhi penghayatan agamanya menjadi minim.”

Lain halnya dengan permasalahan di perkotaan, yang menurutnya perjuangan orang beriman bukan masalah ekonomi pertama-tama, namun sikap keutamaan yang luntur karena sikap individualis, materialis dan mengejar target dengan uang.

Akhir-akhir ini Keuskupan Tanjungkarang merencanakan Pertemuan Pastoral Gereja Partikular (Perpasgelar) ketiga sebagai bentuk sinode bagi keuskupan ini. Persiapan sudah mulai dijalankan dan Rm. Ratno termasuk anggota tim Perpasgelar III ini. Sebagai imam yang berkarya di keuskupan ini sejak tahun 1990, ia termasuk imam senior yang menjadi saksi dan pelaku sejarah Perpasgelar.

Tentang Visi Dasar Pastoral keuskupan ini, Rm. Ratno berpendapat, “Secara pribadi saya merasa bahwa Visi Dasar Pastoral Keuskupan Tanjungkarang itu bagus. Apalagi kalau melihat perjalanan dari RKPK 1980, Perpasgelar I dan II. Dilihat dari peserta dan nara sumber pertemuan pastoral, serta hasil-hasilnya sungguh-sungguh bagus. Para romo dan peserta perpasgelar itu menjadi kunci sukses dan sangat menentukan apakah butir-butir atau buah-buah perpasgelar itu diketahui dan dihidupi/dihayati umat di paroki.”

Namun, menurut Rm. Ratno, masih saja dikeluhkan bahwa ada bahkan banyak umat yang tidak tahu hasil perpasgelar. Bisa jadi orang-orang kunci tadi yang tidak bertekun mensosialisasikan dan mendampingi umat. Apalagi ada sesuatu perubahan yang sangat signifikan dalam perpasgelar ini. Hasil perpasgelar bukanlah “bahan jadi” seperti dalam RKPK 1980, namun berupa butir-butir atau buah-buah yang masih harus diolah di tempatnya masing-masing. Seandainya ada umat yang tahu, tetapi kebanyakan mereka hanya sebatas menghafal butir-butir perpasgelar dan tidak mewujudkan dalam kehidupan sehingga ketika ditanya mereka merasa tidak mengetahuinya.

Kemandirian Gereja lokal tidak terlepas dari kemandirian tiap paroki di keuskupan. “Bicara soal kemandirian, bukan hanya soal uang, namun banyak hal lain yang harus diperhatikan dalam Gereja. Maka refleksi harus dimulai dengan permenungan soal kehidupan Gereja! Apakah Gereja-ku sudah benar-benar hidup? Apa ukuran atau kriterianya? Lalu yang namanya empowering umat, apakah sungguh sudah dilaksanakan oleh para pastor di parokinya masing-masing? Atau justru umat masih bersikap opo-opo nyadong! sehingga para pastor harus cari sumbangan/dana sana sini. Demikian juga dalam hal pelayanan yang lain, misal kemandirian dalam hal SDM untuk pelayanan liturgi!”. Demikian tegas Rm. Ratno.

Rm. Ratno mengingatkan bahwa kemandirian secara finansial adalah hal penting, namun hendaknya jangan terpusat dan mandeg hanya soal keuangan. Seolah bila keuangan belum mandiri maka pastoral yang lain tidak bisa jalan. Kemandirian secara finansial jangan sampai mengabaikan kemandirian dari sisi lain. Selain itu, kepemimpinan para gembala bukanlah seperti penguasa yang otoriter, namun sebagai hamba yang kooperatif, menemani, menjadi teladan dan mau melayani. Mereka juga seharusnya mampu bekerjasama dan sekaligus memberdayakan dan mendewasakan umat.

“Pola kepemimpinan ‘top-down’ (tuntunan dari atas) hendaknya diubah arahnya menjadi ‘bottom up’, dari bawah ke atas. Namun harus ada komunikasi yang lancar antara pemimpin-umat dan sebaliknya, jangan lagi birokratis. Selain itu setiap kegiatan pastoral jangan didominasi oleh pemimpin melainkan mengedepankan aspek subsidiaritas untk mengkader sekaligus memberdayakan SDM umat,” tambahnya.

Hasil perpasgelar memungkinkan umat beriman di keuskupan ini untuk menampilkan kedewasaan iman dalam lingkup Gereja dan masyarakat. Rm. Ratno menegaskan bahwa umat yang dewasa dicirikan dengan kesadaran iman untuk mandiri, bukan sebagai obyek pastoral tapi sebagai subyek pastoral, ikut serta sebagai produsen dan kritis. Kemandirian iman ini akan menampilkan mutu iman yang mendalam, tangguh, peduli terhadap sesama dan berjiwa misioner.

Rm. Ratno juga mengajak semua untuk menampilkan sikap iman yang dewasa, teguh, kokoh, terbuka, mau berdialog dan memasyarakat. Umat Katolik bukanlah persekutuan yang bersifat ekslusif atau tertutup, namun terbuka dalam bekerjasama dengan siapa saja untuk memajukan kehidupan bersama dalam membangun bangsa dan negara.

“Umat Katolik hendaknya selalu terbuka, peka dan solider. Dengan kepercayaannya, umat Katolik juga harus rendah hati, bersahabat dan bersaudara satu dengan yang lain. Maka hendaknya umat Katolik membuang jauh sikap tertutup tak peduli, curiga dan menjaga jarak jauh, arogan dan membenci sesama.” Demikian papar Rm. Ratno.

Menurutnya, masih banyak umat Katolik yang merasa diri lebih baik dari pemeluk agama lain. Dengan sikap ini, maka muncul penilaian negatif terhadap penganut agama tertentu. Bisa saja hal ini dipengaruhi pandangan Gereja tempo dulu yang menganggap di luar Gereja tidak ada keselamatan, atau muncul dari pengalaman keseharian bahwa panganut agama tertentu menampilkan sikap yang kurang simpatik. Hal inilah yang mengakibatkan kesulitan mencari wajah Yesus dalam kehidupan pemeluk agama lain. “Tetapi seandainya bisa menaruh hormat, menghargai, mau berdialog, serta percaya bahwa Yesus pun sudah menebus dunia termasuk mereka, pastilah kita akan menemukan kebaikan-kebaikan yang memancarkan wajah kasih Tuhan dalam diri, agama dan budaya mereka! Namun yang lebih penting dari sebenarnya apakah kita sudah membawa dan menampakkan wajah Yesus kepada mereka?” tandas Rm. Ratno.

Bertahun-tahun Rm. Ratno berkecimpung dalam Komisi Komunikasi Sosial Kesukupan Tanjungkarang. Bahkan sekarang dipilih menjadi ketua Signis Indonesia. (Signis adalah asosiasi katolik bidang audio & audio-visual-cinema yang berkantor pusat di Belgia). Organisasi ini bergerak di bidang pastoral karya komunikasi, yaitu audio visual dan pendidikan/penyadaran penggunaan sarana komunikasi yang bertanggungjawab.

Tugas yang diemban Rm. Ratno adalah menjadi ketua Komsos yang membidangi media (Radio Suara Wajar dan Majalah Nuntius). Salah satu hal yang bisa dibuat adalah mewarta lewat media termasuk berkatekese.

Di jaman serba modern sekarang ini ada keprihatinan bahwa pengetahuan iman umat sangat minim, kurang memahami Kitab Suci atau kurang memahami dan menghidupi Liturgi. Hal yang sering menjadi kambing hitam adalah kurangnya katekese. Namun ketika diadakan katekese untuk meningkatkan pengetahuan iman, justru minat dan kehadiran umat tidak seperti yang diharapkan. Mereka yang tak berminat dan tak datang sering beralasan tak punya waktu dan tenaga lagi karena habis untuk mengejar penghasilan.

Pesan Bapa Paus pada hari komunikasi sosial sedunia memberi arahan soal "Kebenaran, Pemakluman dan Kesejatian Hidup di Jaman Digital". Di tengah perkembangan media komunikasi modern saat ini, terjadi revolusi komunikasi sosial. Media komunikasi sosial bagi orang Katolik harus mengusung nilai-nilai kristiani sehingga harus memuat kebenaran, pemakluman dan kesejatian hidup.

Rm. Ratno mengatakan bahwa “Radio Suara Wajar dan Majalah Nuntius merupakan sarana atau media untuk bisa mendengar program acara yang diudarakan dan membaca apa yang disajikan di dalamnya. Sebagai sarana pastoral, tentu saja diharapkan kedua media ini menyajikan apa yang dibutuhkan umat khususnya dalam bidang rohani. Nah, siapa yang memanfaatkannya? Yang diharapkan dalam acara-acara rohani Katolik memang umat Katolik di wilayah Keuskupan Tanjungkarang, walau tidak tertutup kemungkinan kelompok lain juga bisa mendengar bahkan dapat mengenal ajaran Gereja katolik lewat siaran itu. Karena disiarkan lewat radio, siapa pun bisa mendengarnya. Radio adalah media pastoral untuk lintas wilayah dan golongan, maka kalau hal ini disadari dan dimanfaatkan seefektif mungkin tentu akan berdampak signifikan di kalangan umat dan masyarakat.”

Selain itu, imbuhnya, lewat siaran radio Suara Wajar dan tulisan di majalah Nuntius, dapat diperkenalkan, disosialisasikan dan dibahas secara mendalam soal visi-misi keuskupan. Hal ini bisa menjadi bahan reflesksi umat, khususnya bagi para pendamping umat agar umat mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan visi dasar keuskupan.

Rm. Ratno juga memberi penekanan agar diperhatikan pastoral bagi keluarga, OMK dan remaja. Anak-anak akan tumbuh dewasa dalam kepribadian dan iman bila mendapatkan pengetahuan iman dan teladan hidup. Pengetahuan iman bisa didapatkan dari pertemuan bina iman di gereja, sedangkan keteladanan hidup didapat terutama dari orang tua.

Pelayanan pastoral jaman ini juga harus didasarkan pada data-data akurat, sehingga sungguh mendarat dan kena pada sasaran yang dibutuhkan. Pelayan pastoral, imam dan tokoh awam, dapat mencari data-data akurat tentang umat dan lingkungan masyarakat di paroki. Dari sinilah dapat diambil langkah pastoral yang sungguh berpijak pada fakta dan kondisi umat dan masyarakat.

Akhirnya, Rm. Ratno memberi pesan kepada semua umat di keuskupan tanjungkarang. “Mari kita siapkan Perpasgelar III (2012) dengan penerangan Roh Kudus!!”***(Jokunti)


RD. PIET YOENANTO SUKOWILUYO
Iman Ad Intra & Ad Extra

Imam yang satu ini tidak asing lagi bagi Keuskupan Tanjungkarang. Ia termasuk imam diosesan lulusan pertama Seminari Tinggi St. Petrus (STSP), Pematangsiantar. RD. Piet Yoenanto Sukowiluyo, demikian nama lengkap imam yang biasa dipanggil dengan sebutan Romo Piet. Ia saat ini dipercaya oleh Mgr. Andreas Henrisoesanta untuk mendapingi tugas Uskup sebagai Vikaris Jenderal (Vikjend) Keuskupan Tanjungkarang dan juga sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral Kristus Raja, Tanjungkarang.

Bungsu dari lima bersaudara ini lahir di Wates, Lampung Tengah pada 10 Maret 1962 dari pasangan Paulus Hadisuprapto dan Florentina Rubiah. Setelah mengenyam pendidikan SD di kampung kelahirannya, ia masuk ke SMP Xaverius Kotabumi dan tinggal di asrama putra. Awal ketertarikannya menjadi imam tumbuh saat ia kelas 3 SD terkesan dengan senyum ramah Rm. Sondermeyer , SCJ, pastor Paroki Bandarjaya. Tumbuh keinginan dalam hatinya kelak ia ingin menjadi seperti Beliau ini, tapi belum sampai pada keinginan menjadi imam.

Wulangan anak-anak (Bina Iman Anak) yang dibina oleh Bapak Karsono membuatnya tertarik dalam hal iman. Waktu itu pengajaran begitu menarik hatinya, bahkan ia mengalami rasa kagum, heran dan indah ketika pertama kali melihat benda bernama tape recorder. Benda hebat ini ternyata bisa merekan suaranya ketika menyanyikan lagu Nderek Dewi Maria. Gelagat si bungsu ini ditangkap orangtuanya yang kemudian memasukkannya di Asrama Darusalam, Kotabumi. Meskipun tiga bulan pertama ia merasa tidak kerasan dan “menangis” kangen rumahnya, ia toh dapat belajar dengan baik terlebih dari Rm. Th. Borst SCJ.

Lulus dari SMP (1978), ia memutuskan masuk Seminari Menengah St. Paulus, Palembang. Empat tahun ia jalani pendidikan awal sebagai calon imam. Sepengetahuannya imam adalah biarawan SCJ. Konferensi Rm. Chr. Kolvenbag SCJ, Rektor waktu itu, membuka wawasannya sekaligus membuatnya binggung hendak melanjutkan ke mana. Ternyata banyak panggilan hidup, panggilan awam, biarawan kontemplatif, biarawan aktif yang ada imamnya, dan imam diosesan.

Ia kemudian menjalin kontak dengan Rm. Dwijowandowo, imam diosesan pertama Kesukupan Tanjungkarang dan juga Rm. Sidik Jaya, imam diosesan pertama di Palembang.  “Dari surat menyurat dan diskusi dengan kedua romo tersebut, saya mendapat kesimpulan, kalau menjadi imam yang imam diosesan. Titik. Begitu. Maka keputusan saya: melamar ke Bapak Uskup, keuskupan Tanjungkarang. Diterima. Ternyata, mulai angkatan saya (1982), semua calon imam untuk Keuskupan-Keuskupan Regio Gerejawi Sumatera kuliah ke Sumatera Utara. Kaget. Agak kecewa sih. Tapi karena memang harus begitu, ya nderek, sebagai ungkapan ketataan awal saya” kenang Rm. Piet.

Jalan panggilan sebagai calon imam Keuskupan Tanjungkarang kemudian ia jalani bersama 11 frater lainnya (5 dari Tanjungkarang, 3 dari Palembang dan 2 dari Padang) di kota turis Parapat – Toba – Sumatera Utara. Selama ini pendidikan calon imam siosesan di semua keuskupan Sumatera masih dititipkan di rumah pembinaan imam di Pulau Jawa. Maka merekalah yang merintis rumah pembinaan imam interdiosesan se-Sumatera. Mereka harus rela hidup sebagai “mahasiswa kos-kosan” di rumah keluarga milik Bapak Ch. Usman Sirait. Kamar tidur sudah pasti sempit dan ruang tamu dapat diubah menjadi ruang doa, ekaristi, latihan koor, dan rekreasi. Semua dapat dinikmati tanpa mengeluh.

Dalam keterbatasan ini justru mereka mampu bergabung dalam pergaulan bersama masyarakat yang kebanyakan Suku Batak dan sekte HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), meskipun ada juga Protestan yang lain, serta Muslim. Mereka dapat bergabung bersama masyarakat dalam acara kelahiran atau kematian, serta kegiatan lainnya. Tahun Orientasi Rohani (TOR) diisi dengan berbagai kegiatan rohani, sekaligus banyak belajar soal spiritualitas imam diosesan, pengetahuan iman dan etika hidup sehari-hari. Panggilan untuk mereka adalah “Romo Mudo” untuk membedakan dengan frater-frater kapusin.

Tahun kedua dan tahun berikutnya, calon imam semakin bertambah banyak sehingga disewa lagi dua rumah tambahan untuk menampung mereka. Mereka pun semakin mampu terlibat dalam kehidupan masyarakat dan menggereja, bahkan mereka bisa menampilkan drama di gereja dalam pesta penyambutan dengan adat Batak yang dipimpin oleh Pastor H. Silaen OFMCap. Rumah pembinaan calon imam diosesan se-Sumatera ini menamakan diri Seminari Agung Parapat yang dididik bersama para biarawan Ordo Fransiskanes Capucines (OFM Cap), juga sudah berafiliasi ke Unika St. Thomas Medan, jurusan Filsafat.

Romo yang dinilai berwajah mirip Ebiet G Ade ini mendapat tugas Tahun Orientasi Panggilan (TOP) di Paroki Metro (1985-1986). Setelah melanjutkan lagi studi ke Parapat, pada 22 Februari 1990 ia menerima tahbisan diakonat di Parapat. Setelah selesai semua pembinaan di Parapat, ia menjalani masa diakonat di Paroki Baradatu.

Pastoral pertama sebagai imam di Baradatu cukup memberi dasar pelayanan baginya. Romo yang ditahbiskan pada 10 April 1991 di GSG UNILA ini mengaku belajar banyak dari Rm. Baron, MEP, pastor kepala Unit Pastoral Baradatu waktu itu yang juga mencakup Liwa. Pelayanan penerimaan sakramen-sakramen menjadi tanggungjawabnya dan ia juga belajar banyak soal tertib berpastoral, tertib administrasi dan tertib keuangan, serta pastoral sosial-ekonomi.

Medan pelayanan dengan radius 250-an km dari Pakuan Ratu sampai Pesisir Selatan Lampung Barat dikalahkannya dengan jiwa muda dan penuh kebugaran. Ia pun dapat belajar banyak dari umat di pelosok yang umumnya lemah secara ekonomi. “Apalagi menyaksikan umat yang bersemangat, terlebih ketika romo datang. Tapi saya tidak bisa menutup mata, kerinduan mereka untuk memperdalam iman dan pengetahuan dari kami amat terbatas. Waktu kami habis di tengah jalan. Juga, secara ekonomis mereka umumnya umat yang masih berjuang, sangat berjuang. Banyak dari mereka, waktu itu, kalau tidak punya uang, 50 rupiah pun tidak ada. Ironisnya, mereka bisa memberi romonya makan. Saya prihatin. Tapi itulah kemuliaan hati umat yang berkekurangan. Saya lalu ingat semangat ‘si janda miskin’, member dari kekurangannya. Maka kami bekerja sama dengan tim pastoral (katekis) untuk pendalaman iman. Sementara untuk kehidupan ekonomi bekerja sama dengan PSE keuskupan kala itu; walau tidak bisa menjangkau untuk semua umat. Ada yang terbantu tetapi juga tidak sedikit yang nakal.”

Pengalaman pastoral pertama itu mendasari pastoral berikutnya yang dirasakannya cenderung lebih mudah, yaitu di Paroki Kalirejo (1994-1995), Kotagajah (1996-1999), Kedaton (2000-2009), dan Katedral (2009-sekarang). Romo ini juga pernah mengikuti Kursus Misiologi “Euntes Asian Center” di Zamboanga City, Philipina Selatan milik PIME Father (1995-1996), pernah juga dipercaya menjadi ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan. Saan ini ia aktif menjadi Dewan Penasihat Keuskupan (sejak 2000) dan menjadi Vikjend (sejak 2003).

Atas semua tugas pastoral yang ia emban saat ini, ia mampu berkata, “Sebagai imam, saya berusaha menyemangati umat, memacu umat untuk teguh berjuang supaya maju dalam bidang apa pun demi kesalamatan; maka saya musti punya inisiatip dan kreativitas untuk perkembangan iman umat. Itu yang terutama. Keyakinan saya, orang yang beriman akan senang bekerja dengan baik. Orang yang senang bekerja dengan baik, akan membawa hasil yang baik pula. Ingat perumpamaan Yesus tentang penabur kan?” Tandasnya.

Tentang visi-misi keuskupan, memandang optimis.  Meskipun belum dipahami seluruhnya oleh umat dan juga imamnya, namun ia menilai arah dasar pastoral keuskupan bersifat visionel. Belum paham yang dimaksudkannya adalah secara pengetahuan pikiran, namun banyak yang sudah menghidupi dalam masyarakat. Maka tidak heran ketika ada pertanyaan kepada umat apakah sudah pernah melihat diagram visi-misi keuskupan, dan umat menjawab belum pernah. “Padahal rumusannya sederhana: Umat Allah, sebagai hamba, berziarah melayani Kristus, dalam diri saudara-saudara-Nya. Untuk mengahafal tidak mudah. Inilah kenyataannya. Tapi saya yakin, sudah ada umat yang menyadari hal tersebut. Misanya, kesadaran sebagai umat Allah, kesadaran sebagai umat yang sedang berziarah, sebagai hamba dan seterusnya. Hanya memang harus diakui, bahwa cara umat memandang, memahami dan menghidupi visi dasar tersebut berbeda-beda” jelasnya.

Rm. Piet mengungkapkan bahwa dengan visi-misi keukupan, mengajak umat untuk bergiat keluar dan bukan hanya di seputar altar. Namun, sikap memasyarakat ini harus didasari dengan iman yang mendalam, ad extra tidak boleh terpisah dari ad intra,  tindakan keluar tidak terpisah dari tindakan kedalam., ungkapnya. Lima butir hasil Pertemuan Pastoral Gereja Partikular (Perpasgelar), menurut Rm. Piet, memberi ruang yang besar untuk memperdalam iman dan juga untuk membangun persaudaraan sejati dalam masyarakat. Telah banyak usaha pensosialisasian dan juga usaha memotivasi umat yang ia lakukan dalam pastoral selama ini.

Untuk memberi dasar iman yang kuat bagi umat, Rm. Piet mengungkapkan pentingnya menggiatkan rekatekumenat untuk semua usia. Usaha yang dilakukannya adalah kunjungan ke lingkungan dengan tujuan bertemu langsung dengan umat dan dapat berkatekese. Rm. Piet juga menakankan pentingnya bekerjasama dan berkoordinasi dengan pastor paroki, terlebih untuk kelompok kategorial, sosial, kelompok doa, atau kelompok ormas. Selama ini terkesan berjalan sendiri-sendiri. Ia mengungkapkan bahwa kerjasama ini dapat meningkatkan pelayanan paroki, misalnya dengan menempatkan pastor paroki sebagai moderator maka dapat optimal dalam mewartakan keselamatan Allah.

Kemandirian Gereja juga harus memikirkan soal kemandirian dalam hal keuangan. Menurut Rm. Piet bukan hal yang mudah untuk memberikan penyadaran kepada umat, terutama di paroki yang hanya mengandalkan pemasukan pastoral dari kolekte, iura stolae, aksi Natal dan iuran dana gereja. Sudah saatnya di paroki-paroki memiliki Dewan Pastoral Paroki dan Dewan Keuangan yang bisa memikirkan dan mengelola kebutuhan pastoral secara konkret di paroki.

“Saya sebagai Vikjen, saya merasa bahwa umumnya umat hidup dalam semangat menggereja yang baik. Mereka mencoba dan berjuang untuk memaknai panggilannya sebagai Greja yang adalah sakramen keselamatan. Mereka ingin maju. Dengan cara mereka masing-masing. Mereka berusaha mau ambil peran, baik ke dalam maupun ke dalam. Bahwa ada harapan supayaumat tidak lagi pastor-sentris, tapi toh menurut saya peran pastor tetap strategis, penentu. Tapi bukan diktator yang selalu mau menguasai dan mengatur segala-galanya. Sebagai Gereja yang adalah Hamba Allah, low profile, dituntut baik terhadap awam maupun imamnya. Kerja sama dari keduanya sangat dituntut. Masukan dari umat perlu didengarkan dan direfleksikan oleh imam. Kita tidak boleh terjebak oleh cara pikir pemerintahan dewasa ini. Demokrasi di dalam Gereja jangan disamakan dengan demokrasi dalam Negara. Berbeda. Dalam Gereja tidak ada demokrasi murni. Karena dasarnya pun sudah berbeda, dasar kita adalah iman kepada Kristus yang tersalib, wafat, bangkit dan hidup. Ini istimewanya di dalam Gereja. Semangat itu yang harus ditonjolkan. Segala masukan diperlukan, tetapi otoritas imam yang ditugaskan oleh Bapa Uskup itu perlu diperhatikan (Bdk. Statuta Dewan Pastoral Paroki – Unit Pastoral, Keuskupan Tanjungkarang, 2005). Kita Katolik. Begitu. Banyak imam di keuskupan kita muda-muda. Masih energik. Bersemangat. Walau ada keterbatasan. Maka yang dibutuhkan adalah sikap rendah hati dan bijaksana dalam karya pelayanan kita. Tapi pada umumnya, dengan segala keterbatasannya, perkembangan Gereja di keuskupan Tanjungkarang baik adanya. Itu optimism saya lho …” jelasnya panjang lebar.

Baru-baru ini para mahasiswa Katolik belajar bersama tentang Ajaran Sosial Gereja (ASG). Rm. Piet mengungkapkan, “Ajaran Sosial Gereja dalam Gereja kita sudah lama ada. Misalnya Rerum Novarum (Hal-Hal Baru), ensiklik Paus Leo XII, sudah muncul pada 15 Mei 1891. Ini bicara masalah keadaan kaum buruh. Sudah satu abad lebih. Isi dan ajarannya bagus. Tapi masih banyak yang belum mengetahui, apalagi mengamalkannya. Masih ada 11 ASG berikutnya. Dan dalam peringatan satu abad Rerum Novarum, Paus JP II, menulis Centesimus Annus (Kenangan Ulang Tahun ke seratus Rerum Novarum), 01 Mei 1991. Benar, bahwa Visi dasar keuskupan kita sudah coba mengacu ke sana, tapi sungguh bahwa pengetrapannya belum seutuhnya dilakukan. Namun saya melihat dan merasakan bahwa kesadaran dan upaya untuk terlibat dalam hidup sosial semakin tumbuh di antara umat di keuskupan kita. Saya tidak mengatakan semua umat, tapi ada dan itu banyak. Hal itu dipandang sebagai panggilan iman akan Kerajaan Allah yang menyelamatkan. Maka saya berharap, dan ini sudah dimulai oleh teman-teman muda di keuskupan kita melalui bidang Justice and Peace kalau tidak salah, bahwa umat diajak untuk mendalami makna ASG ini, dan bagaimana mengamalkannya. Saya ada keinginan untuk itu. Namun perlu kerja sama dari berbagai pihak. Mari kita coba!”  Ungkap Rm. Piet diakhir pesannya.

Mari Romo, kita kembangkan iman ad intra dan ad extra! *** (Jokunti)


RD. YOHANES THEDENS TANA
Perutusan Bidang Kemasyarakat & Politik

Dari antara imam diosesan Keuskupan Tanjungkarang, hanya beberapa yang bukan peranakan Jawa. Di antaranya, kita harus menyebut nama yang satu ini, imam keturunan Flores yang lahir di Bogor pada 5 Mei 1972. Yohanes Thedens Tana, demikian nama lengkapnya, namun lidah umat sering memanggil Romo Tenden atau bahkan ada yang menyebut Romo Tedeng. Rm. Thedens kini bertugas sebagai pastor kepala Paroki Ratu Damai, Telukbetung, setelah pindah tugas dari Paroki Sidomulyo.

Niat menjadi Pastor tidak muncul sejak kecil. Impian ayahnya sebenarnya hendak menghantarnya sampai jenjang kuliah di bidang hukum agar anaknya ini kelak menjadi orang yang terjun di bidang itu. Namun jalan hidupnya mengatakan hal yang berbeda. Ketika ia duduk di SMP kelas tiga (1988) ada teman yang mengajaknya masuk ke seminari Stela Maris, Bogor. Situasi hidup rohani keluarga yang aktif dalam kegiatan menggereja, bahkan ibu dan kakaknya ikut dalam kepengurusan di satasi membuat hedens kecil, yang terbiasa aktif kegiatan misdinar, mengiyakan ajakan temannya untuk mendaftar ke seminari. Ia mengurus segala surat yang dibutuhkan dan atas persetujuan orangtuanya ia berangkat test ke Stela Maris.

Rm. Thedens mengisahkan bahwa ia dulu berpendapat tidak mau menjadi biarawan karena menganggap biarawan akan tinggal di biara, sehingga ia memilih menjadi imam diosesan. Sebenarnya pilihan awalnya adalah Keuskupan Malang. Namun ketika masanya untuk menjatuhkan pilihan, surat yang ia kirim ke keuskupan itu tidak segera dibalas. Waktu itulah ada seorang seminaris asal Lampung di Kelas Persiapan Atas (KPA) bernama Kondrat yang hendak melamar ke Keuskupan Tanjungkarang dan bercerita tentang Lampung. Tanpa menunggu nasib suratnya yang tak kunjung jelas, ia kemudian berkirim surat kepada Uskup Tanjungkarang dan segera mendapatkan balasan. Mereka berdua kemudian datang ke Lampung untuk menyerahkan lamaran. Tak seberapa lama, Uskup Tanjungkarang mengutus Rm. Baron dan Rm. Jo untuk mewawancarai mereka di Seminari Stela Maris, Bogor. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, mereka berdua kemudian menerima surat pernyataan diterima sebagai calon imam Keuskupan Tanjungkarang.

Kisah hidup panggilannya kemudian ia jalani di Tahun Orientasi Rohani (TOR) St. Markus (1992-1993), Seminari Tinggi St. Petrus (STSP) Pematangsiantar untuk jenjang S1 (1993-1997), Tahun Orientasi Panggilan (TOP) di Unit Pastoral Margoagung (1997-1998), dan kembali ke STSP untuk menyelesaikan studi teologinya. Tahun 2000 setelah selesai pendidikan formal di STSP, ia ditahbiskan menjadi diakon di Katedal Medan.

Romo yang bertugas diakonat Paroki Telukbetung dan Unit Pastoral Bakauheni ini mengaku bahwa pendidikan Sekolah Dasar ia jalani di Flores. Di Flores ia menderita malaria, kemudian ia kembali ke Bogor dan diketahui ada penyakit lain, yaitu asma. Selama proses pendidikan calon imam, ia merasa penyakit ini tidak berpengaruh besar baginya. Ia yakin bahwa Tuhan akan membantu kesembuhannya yang diiringi dengan usaha pengobatan.

Rm. Thedens merasa diri tak pandai, tetapi justru hal ini membuatnya sadar untuk mengupayakan pembelajaran yang baik dengan tetap memperhatikan hidup rohaninya. Atas segala upaya dalam panggilannya, akhirnya Bapa Uskup berkenan mentahbiskannya menjadi imam pada 22 Februari 2002 di Paroki Murni Jaya. Ia kemudian diserahi tugas membantu pastoral di Paroki Katedral dan juga pendampingan awam bidang politik.

Rm. Thedens mengaku bahwa sampai saat ini pembelajaran dalam pelayanan pastoral terus dilakukannya agar dapat melaksanakan panggilan dan tugas imamatnya dengan baik. Ia banyak belajar dari orang lain terutama dari para imam. Ia berusaha untuk mendengarkan dan melihat banyak hal tentang hidup imam dan pelayanan pastoral, entah yang dinilai baik ataupun yang dipandang buruk. Dari sinilah ia berefleksi untuk pendewasaan diri dan panggilannya.

Tentang kemandirian Gereja ia mengatakan, “Berdasarkan pengalaman di paroki yang saya layani, sudah ada upaya untuk kemandirian Gereja. Ada upaya menjelaskan dari pastor dan dimengerti umat. Bukan hanya soal dana, tetapi juga dalam mengembangkan pelayanan umat. Tentu saja ada keterbatasan, dalam usaha untuk memberikan penjelasan dan  pemahaman. Tetapi ada kesadaran untuk mewujudkan hal itu.”

Soal kemandirian Gereja ini, menurut Rm. Thedens, bukan hanya soal mendorong sumber daya umat, namun juga untuk selanjutnya mengatur dan mengembangkannya dengan baik. Ia mencontohkan soal dana yang harus dikelola dengan perencanaan yang matang. Ia pun menekankan bahwa usaha kemandirian Gereja adalah usaha bersama seluruh umat, termasuk imamnya.

 Rm. Thedens berpendapat masih ada mekanisme pelayanan di paroki yang belum terkonsep secara strategis. Menurutnya, mekanisme pelayanan dan kebijakan pastoral yang terdokumentasikan berdasarkan pastoral data belumlah ada. “Selama ini pastoral hanya berdasarkan asumsi atau pengandaian. Bicara soal management gereja memang bukan organisasi saja, tetapi perlu ada pengaturan.” Ungkapnya

Ia menceritakan bahwa dalam suatu pertemuan ada imam keuskupan Jakarta yang mengatakan jangan-jangan kita berpastoral berdasarkan wangsit atau seperti pedagang asongan yang menawarkan barang yang sama di semua tempat. Ungkap Rm. Thedens sembari melihat Keuskupan Agung Jakarta yang sedang menggalakkan pastoral berbasis data.

“Pola pikirnya kalau kita bicara pastoral data, data diperlukan untuk mengetahui situasi konkret di suatu tempat. Data dianalisa dan kemudian diambil kebijakan pastoral. Contoh dengan kartu keluarga, misalnya ditemukan data anak-anak yang keluar (menikah di luar Gereja-red), ini mengapa terjadi? Kemudian dicari solusi. Misalnya dari data orangtua diketahui kebanyakan baptisan dewasa dan karena menikah secara katolik. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan iman Katolik minim sehingga mereka tidak paham kehidupan menggereja atau hanya mementingkan hal-hal teknis atau pembangunan fisik. Soal pastoral data bukan hanya soal administrasi yang baik, tetapi data diolah dan menjadi pijakan pastoral. Pasti pastor tidak bisa sendirian, harus bekerjasama dengan yang lain, umat atau pengurus,” papar Rm. Thedens.

Ia berpikir begitu pentingnya pastoral berbasis data pada saat ini untuk mengetahui situasi konkret umat dan masyarakat sehingga pelayanan pastoral dijalankan tepat sasar. Rm. Thedens membayangkan bila hal ini menjadi mekanisme pastoral bersama di seluruh paroki di keuskupan ini, maka akan terjadi perkembangan Gereja yang luar biasa. Ia sendiri mengaku belum sepenuhnya mempraktekkan pastoral model ini. Namun ia yakin bahwa apa yang telah ia lakukan mengarah pada pastoral data dan bukan hanya berdasarkan asumsi belaka.

“Kok romo bisa berpolitik?”, demikian tanggapan sebagian orang ketika mengetahui kiprah Rm. Thedens dalam pastoral pendampingan awam dalam dunia politik. Usaha pendampingan pastoral ini sangat terlihat ketika Rm. Thedens mengadakan pendampingan bagi para calon legislatif pada Pemilu 2009. Pendampingan pastoralnya sebenarnya adalah sebagai pendamping iman dan moral bagi awam yang terjun ke bidang kemasyarakatan dan politik. Ia tentu tidak terjun dalam politik praktis, juga tidak mengarahkan umat untuk memilih golongan tertentu.

“Saya pada 2002 mendapat SK itu (pendampingan bidang pilitik-red) dan saya berprinsip melaksanakan apa yang diminta untuk saya lakukan. Awalnya saya bertanya tentang ormas Katolik dan menjumpai para aktivisnya. Saya sering datang dan juga diundang dalam posisi sebagai pendamping iman dan moral. Saya coba mendampingi dengan landasan ajaran iman dan moral Gereja Katolik,” tutur Rm. Thedens.

Rm. Thedens mengaku tidak mudah mengajak orang Katolik yang terjun dalam bidang politik untuk menjadi garam dalam bidang itu. Ia menyadari bahwa ia berdiri sebagai wakil hierarki dalam bidang pendampingan itu dan selama ini ada semacam luka batin antara mereka yang terjun di bidang politik dengan hierarki. Namun ia merasa senang bahwa pada Pemulu legislatif 2009 banyak orang Katolik yang berani ikut dalam bursa calon legislatif dan sebanyak 13 orang berhasil duduk di kursi legislatif. Kemajuan lain, umat yang terjun di bidang politik bukan hanya satu suku saja, misalnya yang bersuku Thionghoa.

Rm. Thedens mengungkapkan bahwa setelah Pemilu, sempat diadakan pertemuan bersama. Meskipun tidak bisa secara rutin dilakukan pertemuan, tetapi kontak informal masih saja dilakukan. Tim 12 dari keuskupan yang bertugas membantu dalam pendampingan bidang politik ini, ikut berperan menjalin komunikasi yang baik. Menyinggung apakah mereka yang kini duduk di kursi legislati melaksanakan apa yang didapat dari pendampingan, Rm. Thedens mengatakan, “Saya kurang tahu persis apakah mereka konsisten dan memperjuangkan politik untuk kesejahteraan masyarakat, tetapi saya yakin bahwa pembekalan selama ini menyadarkan kiprah mereka dalam masyarakat. Mereka pasti punya roh itu meskipun tidak mudah untuk menjalankannya.”

Apa yang mendasari pastoral bidang politik ini? “Bicara politik tentu bicara kehadiran Gereja, Gereja hadir untuk menyelamatkan. Bidang-bidang penyelamatan itu banyak, di antaranya bidang politik. Hal ini harus menjadi perhatian Gereja, Gereja bukan hanya hadir untuk dirinya sendiri, beraktivitas untuk dirinya sendiri dan tidak pernah dalam perutusan ke dalam masyarakat. Gereja harus mewartakan keselamatan konkret. Ekaristi dan kegiatan rohani menjadi spirit untuk terlibat dalam masyarakat. Harus diteruskan dalam kehidupan masyarakat, yaitu dimensi politik. Ini titik tolaknya. Bukan ketika ada kebutuhan yang terpenuhi, kemudian kita baru bergaul dalam masyarakat dan politik. Ini hanya untuk memikirkan kebutuhan kita. Dasar biblisnya, Yesus memanggil para murid dari penjala ikan menjadi penjala manusia, kita menjadi orang Katolik untuk meneruskan karya penyelamatan Allah itu.” Tandas Rm. Thedens.

Menyinggung soal kerukunan umat beragama, Rm. Thedens mengungkapkan bahwa ada sejarah gelap dunia tentang hubungan antara Islam dan Kristen. Sejarah inilah yang sedikit banyak mempengaruhi pandangan sempit dalam hubungan beragama. Ada upaya kelompok tertentu yang menghalangi perkembangan suatu agama. Namun masih banyak orang dari agama lain yang bersikap terbuka. Menurutnya Surat Keputusan Bersama dua menteri tentang pendirian tempat ibadat memuat daftar angka yang justru cenderung mempersulit pihak minoritas. Sebenarnya kalau berpijak pada Undang-undang Dasar RI akan lebih mudah.

Rm. Thedens berharap, “Kalau kita bermasyarakat bukan karena kita punya kepentingan tapi panggilan atau hakekat Gereja. Ada tantangan, kita tidak boleh putus asa. Seharusnya orang Katolik masuk dalam organisasi politik dan masuk dalam lebaga legislatif yang bisa menelurkan undang-undang. Sehingga kita bisa ikut menentukan keluarnya undang-undang. Kalau tidak, bila muncul undang-undang yang diskriminatif, kita hanya bisa menerima. Orang Katolik juga mesti mempelajari undang-undang sehingga tidak buta ketika diajak bicara soal itu.” Demikian ungkapnya mengakhiri pembicaraan.

Selamat menanamkan iman dan moral dalam tugas perutusan bagi mereka yang terjun langsung dalam masyarakat dan politik! *** (Jokunti)


RD. YB. SUJANTO
Pastoral Berdasarkan Visi-Misi Keuskupan

Yohanes Baptista Sujanto, demikianlah nama sosok imam kita kali ini. Bagi umat yang tinggal di Bandarjaya tentu tidak asing lagi dengan wajah imam ini karena sejak 2009 beliau bertugas di sini, setelah selesai bertugas di Seminari Tinggi St. Petrus, Pematangsiantar (2007-2009). Romo yang selalu tampil rapi ini biasa disapa dengan panggilan Romo Janto. Ketertarikannya pada panggilan berawal dari kebiasaannya menjadi misdinar di Kalirejo, tempat kelahirannya. Kemudian pelan-pelan timbul rasa prihatin melihat kurangnya tenaga imam sehingga stasi-stasi jarang mendapatkan pelayanan misa. Timbul pertanyaan pada dirinya, “Apakah mungkin saya menjadi imam?” Pergumulan awal panggilannya ia jawab dengan mendaftar ke Semenari Menengah Palembang lewat Rm. Cipta Harsaya, SCJ yang pada waktu itu bertugas di Kalirejo. Setelah test, ia ternyata lulus. Sebenarnya orang tuanya menghendaki ia masuk ke seminari setelah kuliah. Jalan Tuhan ternyata menghendakinya untuk melanjutkan ke seminari setelah lulus SMP Xaverius Kalirejo.

Rm. Janto yang ditahbiskan 25 Juni 1994 ini dikenal sebagai imam yang tegas dalam mengembangkan kesadaran umat akan kemandirian Gereja. Tugas pertamanya sebagai imam di Baradatu selama setahun, dirasakannya sebagai proses pembelajaran dan berikutnya ia bertugas berpastoral di Paroki Kotagajah (1995-2007). Selama tugas pastoralnya ia berusaha mengoptimalkan kemandirian umat berdasarkan perkembangan visi-misi keuskupan.

Rm. Janto, yang lahir pada 24 Juni 1965, sudah merasakan atmosfir Gerakan Pembaharuan Pastoral yang waktu itu didengungkan dengan surat gembala dan doa tentang GPP. Ia pada waktu itu sedang bertugas sebagai Tahun Orientasi Panggilan (TOP) di Baradatu. Baginya, kemandirian Gereja harus dipahami secara benar oleh umat. “Soal kemandirian seringkali kita harus menyamakan persepsi bersama. Kemandirian sering diartikan semua hal dilakukan sendiri tanpa campur tangan imam, umat ingin menentukan sendiri. Kemandirian umat sebagai Gereja harus lengkap dengan hirarki. Pelan-pelan kemudian semakin banyak umat yang memahami dan mengerti visi-misi keuskupan di paroki. Perjuangannya adalah mewujudkan pastoral di paroki terarah ke keuskupan, meskipun sesuai dengan kondisi setempat”, ungkapnya.

Menurut Rm. Janto, hal konkret yang sangat dirasakan waktu itu adalah dari sisi tenaga katekis yang tidak disediakan lagi oleh keuskupan. Paroki yang ia layani berusaha mencukupi tenaga pastoral awam, khususnya dalam mempersiapkan penerimaan sakramen-sakramen, misalnya mengajar katekumen, calon komuni pertama dan krisma. Ia berusaha memilih awam yang mau dan memiliki kemampuan dalam hal pengetahuan iman. Sumber daya umat di tiap stasi tidak sama, maka ia berusaha membentuk beberapa wilayah yang terdiri dari beberapa stasi. Di masing-masing wilayah inilah pengajaran diadakan sehingga stasi yang ada tenaga pengajarnya dapat membantu stasi lain. Pembekalan bagi “katekis mandiri” ini diperlukan pada awal pemilihan, serta tiap tahun diadakan pertemuan rutin di paroki untuk penyegaran.

Rm. Janto berusaha membenahi pastoral dari bawah, yaitu mulai penataan dan pemberesan di tiap stasi. Setelah stasi dirasa cukup baik, barulah ke wilayah-wilayah sebagai satuan pelayanan kecil. Bila wilayah-wilayah mampu mandiri, maka menurutnya tak akan kesulitan untuk membangun paroki secara keseluruhan. Ide ini pulalah yang ia pakai untuk rencana pembentukan Dewan Pastoral Paroki. Bila banyak yang terbiasa menjadi pengurus di tingkat stasi dan wilayah, maka tak akan kesulitan untuk mengarahkan pada pembentukan pengurus Dewan Pastoral Paroki.

Dalam hal mengkomunikasikan kebijakan pastoral dan juga mengetahui kebutuhan umat, romo ini memberdayakan masing-masing wilayah. Meskipun tidak semua tempat berjalan lancar, tingkat komunikasi ini justru sering menampung inspirasi pastoral dari bawah. Misalnya, wilayah mengungkapkan kebutuhan untuk rekoleksi dan pembekalan. “Masing-masing wilayah punya cara berbeda sesuai situasi untuk membentuk kesatuan diwilayah itu. Dengan mulai dibangun dari bawah, dari stasi ke wilayah dan paroki, dari sana ada pembinaan di dalamnya. Kendalanya adalah perjuangan perubahan pemahaman yang masih berat. Misalnya merubah sudut pandang dalam pastoral, kadang juga ada benturan.” Tuturnya.

Dalam usaha kemandirian paroki secara finansial, romo yang pernah menjadi ekonom seminari tinggi ini merasa beruntung dengan usaha yang pernah dirintis oleh imam yang lebih dahulu berkarya. Ia berkisah bahwa di paroki yang pernah ia layani, Rm. Jo merintis iuran keluarga Rp. 50,00 setiap hari. Nominal yang kecil memang, namun intinya adalah doa keluarga. “Masing-masing kelarga mengumpulkan 50-an tiap hari setelah doa dalam keluarga. Ini kemudian dikumpulkan tiap bulan,” kisahnya.

“Saya tinggal melanjutkan dasar yang sudah dirintis. Saya awali waktu itu dengan open management, keterbukaan dalam pengelolaan keuangan paroki dan sudah mengarah ke dana abadi atau tabungan untuk paroki. Caranya adalah dengan menggalakkan iuran wajib tiap bulan untuk dana operasional paroki. Karena keluarga-keluarga sudah terbiasa dengan 50-an, maka tinggal melanjutkan menjadi iuran wajib yang tidak ditentukan jumlahnya.” Jelas Rm. Janto.

Ada pula kesulitan yang dihadapi umat dengan adanya Pertemuan Pastoral Gerej Partikular (Perpasgelar). “Reaksi umat waktu itu, kok nggak seperti dulu lagi, tidak ada porseni, atau porap yang mengibarkan bendera Katolik?” Katanya sembari mengenang masa pastoral 90-an. Menurutnya, umat tetap memiliki kerinduan untuk berkumpul bersama, namun dengan alasan klasik karena banyak kaum muda yang lompat pagar. “Seolah dengan kegiatan itu mereka tidak lompat pagar. Sudah baik dengan adanya pertemuan misdinar, tingkat anak-anak yang diisi dengan kegiatan-kegiatan seperti porseni jaman dulu dengan olah raga dan seni. Tujuan lain kegiatan anak-anak itu untuk menumbuhkan benih panggilan dengan mengundang biarawan-biarawati,”  lanjutnya.

Tentang poin memasyarakat hasil Perpasgelar, Rm. Janto melihat bahwa sebenarnya umat dari dulu sudah keterlibatan dalam masyarakat, misalnya menjadi pengurus desa atau bahkan menjadi kepala desa. Bagi ibu-ibu sudah banyak yang terlibat dalam kegiatan ibu-ibu PKK. Namun demikian, ketika umat ditanya tentang butir memasyarakat, mereka  ragu apakah seperti itu yang dimaksudkan.

Pastoral untuk orang muda kerap dirasa sulit karena situasi orang muda yang terikat sekolah. Lepas SMP atau SMA mereka  melanjutkan sekolah atau bekerja di tempat lain, sehingga menjadi alasan tidak bisa berkumpul. Ketika dikumpulkan pun semacam ada gap di antara mereka, yang sekolah dan tidak. Belum lagi alasan orang muda yang bekerja, terikat pekerjaan hingga sore atau bahkan malam.

Meskipun Rm. Janto sudah 16 tahun menjadi imam, ia mengaku satu tahun ini masih belajar mengamati dan mengenal banyak hal di tempat pastolnya saat ini. Ia tak mau gegabah dengan buru-buru membuat kebijakan baru, meskipun sudah memulai beberapa pembenahan dalam taraf awal. Menurut pengamatannya, ada perbedaan antara stasi di kota yang multikultur dan pekerjaan dengan pedesaan yang cenderung monokultur dan sebagai petani. Ada pula stasi yang sebagian pegang peranan adalah para guru. “Untuk ke depan, harus membuat pergantian Dewan Pastoral yang dulu sempat terhenti karena pergantian imam. Barulah kemudian direncanakan kebijakan pastoral ke depan, menggali apa yang menjadi keprihatinan di stasi dan berfikir bersama untuk Dewan Pastoral melayani bersama.” Papar Rm. Janto tentang pastoralnya saat ini.

“Harus ada keterbukaan dalam hal keuangan, baik stasi maupun paroki. Masih ada pemahaman dalam diri umat yang kurang tepat dan masih perlu belajar lagi, misalnya soal kebersamaan dan pelayanan dalam gereja.” Lanjut Rm. Janto menyinggung rasa kebersamaan umat dalam hal bergotong-royong di gereja.

“Perlu direncanakan bersama untuk pastoral secara menyeluruh. Masing-masing bidang menyusun program dengan rencana yang terperinci termasuk soal dana. Hal ini sudah ada yang jalan, misalnya dewan pendidikan mengadakan rekoleksi guru dan belajar pembuatan kompos dengan terjun langsung.” Kata Rm. Janto tentang kerjasama dalam pastoral paroki.

Menyinggung soal pastoral keluarga, Rm. Janto merasakan keprihatinan atas keluhan banyak keluarga yang mengaku kesulitan mendidik anak-anak dalam hal kepribadian dan iman. Keprihatinan itu justru menjadi umpan balik dalam berpastoral. Menurutnya, keluarga punya kewajiban utamauntuk mendidik anak-anak. Orang tua harus mengupayakan pendampingan yang baik kepada anak-anak. Bila dalam mendidik anak-anak sudah baik, maka dalam hal lain akan menjadi baik. “Kiranya untuk ke depan perlu diadakan rekoleksi pasangan suami istri (pasutri)”, imbuh Rm. Janto.

Dalam pastoralnya sekarang, Rm. Janto merasa sudah mulai ada penyempurnaan. “Sudah ada beberapa penyempurnaan, misalnya dalam penyiapan katekumen atau komuni. Dulu dipahami seolah sekedar menyelesaikan kewajiban pertemuan. Namun sekarang ini perlu pemahaman untuk membiasakan diri dalam kehidupan menggereja. Maka ke depan, perlu dilihat keterlibatan dan pembelajaran dalam kegaitan menggereja. Tidak terpaku selama 30 kali, tetapi minimal selama setahun melihat kesungguhan untuk menjadi Katolik. Kalau hanya terpaku dalam pelajaran maka hanya pengetahuan, sedangkan yang perlu adalah praksis hidup dalam menggereja. Dalam banyak hal sudah bagus, umat sudah lebih banyak yang terlibat untuk pelayanan persiapan sakramen.” Jelasnya.

Menyinggung soal Dewan Keuangan yang sudah ada, Rm. Janto merasa terbantu dalam hal keuangan pastoral paroki. Ia pernah mengusulkan agar keuangan pastoral dikelola langsung oleh Dewan Keuangan dengan pengawasannya. Namun ide ini tidak dilaksanakan karena dari pengalaman umat sering terjatuh dalam pengelolaan uang bersama. Jalan keluar yang diambil adalah uang tetap dipegang oleh pastor dan segala rencana keuangan dibicarakan bersama dalam Dewan Keuangan. Pemasukan dana operasional paroki masih tetap dilanjutkan dari dana iuran persembahan. Dana ini justru tahun ini dinaikkan jumlahnya oleh masing-masing stasi. Rm. Janto hanya mengutarakan kebutuhan operasional pastoral, bahkan mengundang Rm. Astono untuk menjelaskan tentang keuangan keuskupan. Dengan cara ini, ternyata pengurus stasi berfikir sendiri untuk mencukupi kebutuhan pastoral yang ada.

Tentang iklim demokrasi yang berkembang akhir-akhir ini, Rm. Janto menegaskan, “Perlu pelurusan bahwa organisasi di gereja tidak sama dengan organisasi di luar, bukan demokrasi siapa banyak dia yang menang. Organisasi Gereja adalah organisasi yang hidup, bisa menghidupkan kehidupan iman di tengah umat. Ketua stasi bukan wakil umat, tetapi menjadi orang yang ikut serta bersama gembalnya untuk melaksanakan pastoral yang ada. Jadi semacam perpanjangan tangan imam untuk mewujudkan kebijakan pastoral yang ada. Usulan pilihan ketua stasi secara langsung oleh semua umat dari yang kecil sampai yang tua, saya benahi. Hanya umat yang dewasa, dalam arti sudah Krisma, sudah berumur 18 tahun atau sudah berkeluarga yang dapat memilih bakal calon untuk ketua stasi. Pengurus lama kemudian memilih tiga calon dari data umat yang masuk, kemudian Romo akan memilih dari ketiga calon untuk menjadi ketua, bendahara dan sekretaris. Perli diingat bahwa Romo bukan hanya penasihat di kepengurusan stasi.” Demikian pungkas Rm. Janto dengan tegas. Selamat mengembangkan pastoral Romo!*** (Jokunti)


RP. MARIUS LAMI, CP
Membagikan Rahmat Kepada Semua Orang

Kalau ditanya berapa anggota Congregasi Pasionis (CP) yang berkarya di Keuskupan Tanjungkarang, jawabannya adalah dua orang, yaitu Rm. Marius Lami dan Rm. Paulus Menge. Keduanya sama-sama orang Flores dan berkarya di Unit Pastoral Tritunggal Mahakudus - Bandar Sakti, Lampung Tengah. Sosok imam kita kali ini adalah salah satu di antara Romo CP itu, yaitu Rm. Marius Lami, CP.

Imam yang berbadan gempal, tinggi dan besar ini dilahirkan di Bajawa, Flores, pada 19 Januari 1966. Ia dilahirkan sebagai anak kedua dari dua laki-laki bersaudara. Siapa sangka kalau imam asal Flores ini ternyata mengalami panggilan awal yang tidak mudah. Sejak duduk di bangku SD, ia sering dibawa guru ke seminari untuk berkunjung, sekedar melihat-lihat kompleks seminari, dan bahkan bermain sepak bola melawan tim seminari. Dari pengalaman inilah Marius Lami kecil kemudian tertarik untuk masuk seminari. Aktif pun aktif menjadi putra altar.

Setelah lulus SMP, ia kemudian mendaftar di seminari menengah Yohanes Brahman, Todabelu, mataloko. Perjalanan awal pendidikan di seminari ternyata tidak selancar yang ia bayangkan. Dua tahun setelah merasakan pendidikan di seminari, ia memutuskan keluar dan dan mengulang duduk di kelas satu SMA St. Thomas Aquino, Mataloko. Dia akui bahwa ayahnya tidak menyetujui niatnya untuk menjadi imam. Ayahnya justru ingin anak keduanya menjadi guru dengan melanjutkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Untuk menentramkan hatinya dan untuk menghindari keinginan ayahnya, maka ia memilih ke SMA sambil terus mendapatkan bimbingan dari para romo di seminari. Dalam perjalanan masa SMA inilah niatnya untuk menjadi imam terbakar kembali. Di sisi lain, ayahnya yang seorang tentara menginginkan anaknya ini masuk ke Akabri dan menjadi tentara.

Sapaan Tuhan bagi jalan panggilannya ternyata disampaikan lewat dua imam Pasionis yang sedang mengadakan kunjungan ekspo panggilan (semacam aksi panggilan). Dengan antusias dia melanjutkan komunikasi dengan Pasionis lewat komunikasi surat-menyurat. Ia pun diminta untuk ikut dalam test tertulis jarak jauh. Ternyata ia diterima dan melanjut masuk postulant Pasionis di Batu malang 1987. Apakah keluarganya mendukungnya? Ternyata belum.

“Selama saya kuliah jenjang S1 dukungan dari orang tua dan kakak belum saya dapatkan. Dukungan itu baru setelah satu bulan menjelang kaul kekal 1995,” ungkap Rm. Marius. Demikian lamanya ia berjuang seorang diri dalam panggilan tanpa dukungan keluarganya. Namun demikian, panggilannya justru dapat teruji. Akhirnya ia bersyukur bahwa keluarga dapat menerima dan mendukung usaha penggilannya. Kakaknya yang ikut tidak mendukung akhirnya justru memberikan dukungan dengan menghadiri tahbisan diakonatnya di Malang.

Situasi kerohanian keluarga sebenarnya terbangun dengan baik. Ayah, meskipun bekerja keras, tetapi selalu mengajak yang lain untuk berdoa. Kebiasaan berdoa dilakukan sesudah makan malam. Ayah selalu mengingatkan kami untuk bersyukur atas berkat Tuhan sepanjang hari. Keluarga ini selalu menggikuti kegiatan menggereja terutama Ekaristi. Semangat hidup menggereja keluarganya juga terdukung dari pamannya yang menjadi ketua stasi dan dewan pastoral paroki. Tetapi untuk mendukung cita-cita imamat ternyata tidak mudah karena pandangan tradisional tentang keturunan laki-laki yang melanjutkan kelangsungan garis keluarga. Apalagi ayahnya ingin agar ia mengikuti karir ayahnya sebagai tentara.

Rm. Marius setelah tahbisan (1997) mendapat tugas di Ketapang, Kalimantan Barat, sebagai pastor pembantu di paroki sekaligus sebagai superior rumah.  Pada Januari 2001 barulah ia mulai mengenal Keuskupan Tanjungkarang dengan tahapan pengenalan selama dua bulan di katedral, tujuh bulan di Bandarjaya, Merapi dan Bandarsakti. Pada 3 september 2001 barulah oleh Bapa Uskup ditempatkan di Bandar Sakti, yaitu Unit Pastoral yang baru saja dibentuk. Pada Mei 2004 ia ditarik oleh kongregasi untuk perutusan tugas ke Amerika Latin sampai akhir 2005. Awal 2006 ia dikirim kembali untuk pelayanan pastoral di Bandarsakti, namun mulai Juni 2006 oleh Bapa Uskup ia ditugaskan untuk membantu pelayanan di Bandarjaya sampai pertengahan 2009. Sejak pertengahan tahun itu ia “pulang kampung” ke tempat tugas semula, yaitu Unit Pastoral Bandar Sakti.

Romo ini dikenal dekat bukan hanya dengan umat Katolik, tetapi juga tokoh masyarakat, tokoh politik, pemuka agama, bahkan akrab dengan anak-anak yang suka sepak bola. Keteladanan dari para imam yang dekat dengan umat tertanam dalam dirinya sehingga setelah ia menjadi imam selalu berusaha dekat dengan umat dengan cara kunjungan keluarga. “Dekat dengan umat merupakan hal yang positif untuk bersama umat memelihara iman umat dan mengembangkan imamat yang telah diteria sebagai rahmat khusus,” ungkapnya.

Hubungannya dengan tokoh masyarakat, politik, pemerintah dan agama lain, terinspirasi oleh ajaran Gereja dalam dokumen Lumen Gentium (Terang Bangsa-bangsa), bahwa sebagai imam seseorang dipanggil untuk pelayanan iman bagi umat Katolik, sekaligus dengan rahmat imamat itu dipanggil untuk membagikan rahmat surgawi kepada semua orang yang tidak termasuk dalam persekutuan murid Kristus. Sebagai imam ia terinspirasi untuk menghadirkan kebaikan-kebaikan Allah melalui para tokoh yang punya pengaruh dalam masyarakat. Maka ia terdorong untuk proaktif membuka relasi dengan mereka, proaktif bersama mereka menanggapi realitas yang terjadi dalam masyarakat.

Hal lain yang agak berbeda dari romo yang lain adalah Rm. Marius dikenal sebagai pelatih sepak bola bagi anak-anak muda di Bandarsakti. Letak pastoran memang dekat dengan lapangan bola kaki dan ia masuk dalam pergaulan anak-anak yang suka sepak bola ini.

“Olah raga sepak bola bagi saya bukan sekedar olahraga, tetapi lebih sebagai satu cara pastoral. Secara internal untuk orang Katolik agar tidak takut dengan romonya tapi tahu ada batas-batas hidup sebagai iman dan awam. Secara eksternal, kita ikut memberikan warna bahwa imam atau romo dengan bekal rahmat imamat yang diterima diutus untuk membagikan rahmat bagi orang-orang di luar gereja” ungkap Rm. Marius.

Dengan caranya ini, ia menilai akhirnya banyak orang yang mengenal siapa romo, cara hidup dan karyanya meskipun mereka tidak Katolik. Bahkan terkikis pula asumsi negatif soal kristenisasi, “Karena yang kita hadirkan adalah kebaikan Allah yang bersifat universal, yang memberikan kebahagiaan, kedamaian bagi semua orang. Sehingga kita mudah diterima oleh berbagai kelompok,” imbuhnya.

Pelayanan yang lebih mengesankan baginya adalah kunjungan umat. Ada ungkapan syukur tiap kali romo ini mengunjungi rumah umat. Pasti ada nilai positif yang muncul dalam diri umat yang dikunjungi, sembari ia mengingatkan kehidupan rohani kepada keluarga yang dikunjungi. Romo ini juga berempati untuk pendampingan pada orang-orang yang disebut preman. Ia menyebut mereka sebagai yang belum beruntung, yang sedang dimanfaatkan oleh pihak lain atau yang memberikan diri untuk dimanfaatkan oleh orang lain demi menjalani cara hidup yang keras dan instan. Ketika ia bisa mengenal mereka, maka mereka spontan membagikan pergulatan untuk keluar dari perangkap yang telah mereka jalani. Mereka sebenarnya sadar berada dalam tekanan, ancaman “timah panas” karena tindakan yang kurang terpuji. Romo ini senang bisa membantu mereka untuk mengurangi bobot kejahatan atau berhenti dari cara hidupnya. Inilah yang disebutnya sebagai seni pelayanan bagi mereka. Dari antara orang yang pernah dibantunya, ada yang sudah beraih profesi dan dapat diterima masyarakat, meskipun masih ada yang bergulat dan harus dibantu.

Rm. Marius menyadari bahwa spiritualitas Pasionis menjadi inspirasi hidup karyanya. “Pasionis bukan pertama-tama Paulus dari Salib, tetapi Kristus tersalib yang direnungkan Paulus dari Salib dan diwariskan kepada anggota untuk dihayati dalam setiap bidang pelayanan. Semangat berkorban Kristus yang bagi saya sangat memberi warna, bahwa apapun yang saya lakukan dalam pelayanan kepada umat kalau tanpa ada kerelaan untuk berkorban maka bagi saya pelayanan itu hampa. Kerelaan untuk berkurban dalam prinsip pelayanan saya, bukan pertama-tama supaya umat senang, tetapi bagian dari prinsip pelayanan untuk mengapai apa kesempurnaan Kristus sendiri, yaitu hidup sebagai seorang imam dan sekaligus sebagai biarawan. Dan di sisi lain, kerelaan berkurban juga agar umat yang saya layani bisa menggapai puncak dari imam kepercayaan mereka, kesempurnaan hidup dalam kemuliaan Tuhan.  Dalam spiritualitas, kami mesti ikut menderita bersama dengan mereka yang menderita. Maka bukan hanya membawa mereka kaluar dari salib, tetapi bagaimana mereka menimba dari salib itu untuk menghadapai kesulitan hidup yang akan menghasilkan kebahagiaan karena rahmat salib Tuhan itu,” paparnya.

Rm. Marius mengaku ada karya berat yang pernah ia jalani, yaitu dalam usia tahbisan yang masih muda ia harus masuk dalam anggota formasi staf pimpinan. Usia dan tahbisan yang masih muda menjadi kesulitan baginya untuk menempatkan diri bersama para pimpinan dan seniornya untuk mengembangkan kogregasi Pasionis di Indonesia ini. Ini berarti ia harus menjadi “saudara tua” bagi anggota kongregasi yang lebih tua usia dan hidup membiaranya.

Atas karya pelayanan imamat selama ini, Rm. Marius berefleksi bahwa sebagai imam ia harus berani membaca peluang dan memanfaatkan peluang sehingga menghadirkan kasih Tuhan yang membahagiakan, mengembirakan dan menentramkan. Ia berusaha selalu menguasai diri dalam tutur kata dan tindakan dan tetap setia untuk menekuni tugas pelayanan yang dipercayakan. Dengan demikian, hidup sebagai imam menjadi saluran kasih Allah, bukan justru menjadi sandungan bagi umat yang dilayani. *** (Jokunti)