Keuskupan
Tanjungkarang

06 Juli 2012 - Sede Vacante
Administrator Apostolik: Mgr. ALOYSIUS SUDARSO, SCJ

Warta Gereja

Tiga Imam Baru Keuskupan Tanjungkarang

Posted by keuskupan tanjung karang on May 14, 2012 at 1:25 PM

 


Ia memulai pekerjaan yang baik dan akan meneruskannya (bdk. Filipi 1:6)

Profil para imam baru yang ditahbiskan oleh Mgr. Andreas Henrisoesanta pada 25 April 2012 di stasi Tanjungmas, paroki Kalirejo:

 

RD. Kornelius Anjarsi

 

“Aku mengucap syukur kepada Allahku karenapersekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini.Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baikdi antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari KristusYesus” (Flp 1:5-6)

Dua ayat dari Surat Paulus kepada Jemaat di Filipi itu diringkas sebagai motto tahbisan kami bersama menjadi “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memulai dan akan meneruskannya”. Pekerjaan baik yang telah dimulai di antara jemaat diyakini Santo Paulus akan diteruskan oleh Ia yang telah memulainya. Terasa kuat keyakinan Paulus akan karya Allah dalam kehidupan jemaat, bukan terutama karyanya atas jemaat. Inilah salah satu keyakinan yang sungguh patut diteladani oleh semua pewarta Injil Yesus Kristus.

Saya pun turut mengucap syukur kepada Allah atas kenyataan hidup yang saya alami. Syukur atas semuanya yang unik dan menantang.Saya dilahirkan pada 02 Februari 1982 dari sebuah keluarga petani pasangan Bapak Istadi (w. 2006) dan Ibu Kasirah sebagai anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Masa kecil dan Sekolah Dasar saya alami di kampung kelahiran saya,Sriwaylangsep – Kecamatan Kalirejo. Sekolah Menengah Pertama saya alami di SMP Xaverius Kalirejo bersama beberapa teman sekampung. Inilah masa indah dalam hidup saya sebagai remaja. Kelas 2 SMP saya menerima sakramen baptis, tepatnya pada 15 April 1995 di gereja stasi saya, St. Maria Sendang Mulyo. Itulah awalsaya menjadi lebih bersemangat dalam kegiatan-kegiatan di gereja; meskipun saya paling takut jika disuruh menjadi misdinar.

Masa Sekolah Menengah Atas saya alami di SMA Xaveriu sPringsewu. Saya siswa yang biasa-biasa saja, dalam arti tidak pandai. Suatu ketika selesai mengikuti perayaan Ekaristi di gereja St. Yusup Pringsewu (sekarang menjadi kapel susteran), saya terpesona pada sosok seorang imam yang tampak ramah, sederhana, tulus sedang berbicara santai dengan umat. Saya terusik dengan itu. Dari situlah mulai keinginan menjadi imam ada. Kelas tiga saya iku ttes di Seminari Menengah Palembang. Saya diterima. Rasa senang dan takut bercampuraduk. Keluarga menyerahkan keputusan pada saya, sembari mengingatkan konsekuensi dari pilihan itu.

Tahun 2000 hingga 2002 saya menjalani Kelas Persiapan Atas atau Kelas Retorika B di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang. Suasana baru dengan jadual yang teratur. Dari situ saya memilih menjadi calon imam Keuskupan Tanjungkarang. Saya menulis lamaran kepada Bapa Uskup AndreasHenrisoesanta. Saya diterima menjadi calon imam Keuskupan Tanjungkarang.

Tahun Orientasi Rohani di Pematang sinatar, SumateraUtara, saya alami bersama dengan teman-teman calon imam dari lima keuskupanlain di Sumatera. Suasana keragaman sangat terasa di situ, terutama budaya.Kebersamaan itu saya rasa lebih menantang. Tidak mudah memahami budaya lain.

Selesai Tahun Orientasi Rohani saya menjalani masa pendidikan di Seminari Tinggi St. Petrus Pematangsiantar. Perkuliahan sayajalani di Sekolah Tinggi Filsafat & Teologi St. Yohanes Pematangsiantar dari pertengahan tahun 2003 sampai 2007. Setelah selesai, saya menjalani Tahun Orientasi Pastoral/Panggilan (TOP) di Paroki St. Andreas Rasul Margo Agung selama sepuluh bulan. Pengalaman bersama umat kurasakan sebagai dukungan. Umat dengan segala dinamika hidupnya selalu berjuang membangun persekutuan sebagai orang-orang Katolik. Siapakah yang menggerakkan itu? Saya yakin bahwa Allah yang menggerakkan hati mereka.

Selesai TOP saya kembali ke Seminari Tinggi St. Petrus Pematangsiantar. Selama dua tahun kembali belajar di sana. Setelah selesai,saya kembali ke keuskupan dan belajar pastoral di Paroki St. Paulus Kotagajah.Tempat dan suasana yang berbeda lagi. Banyak pengalaman istimewa dalam waktu yang singkat selama di sana. Itulah masa saya mesti ambil keputusan untuk mengajukan lamaran kepada Bapa Uskup agar ditahbiskan menjadi diakon. Sayamelamar, dan tanggal 25 Februari 2011 saya bersama dua teman ditahbiskan diParoki St. Yusup Pringsewu.

Setelah tahbisan diakon, saya pindah ke Paroki Katedral Kristus Raja, Tanjungkarang sebagai diakon. Situasi yang beragam dengan mobilitas umat yang cukup tinggi. Di sinilah sebagai diakon (pelayan) saya mengalami praktik pastoral yang lebih beragam. Sejumlah hal baru butuh banyak waktu untuk mempelajarinya. Di tengah belajar berpastoral sebagai diakon, saya kemudian mengajukan lamaran lagi kepada Bapa Uskup agar berkenan mentahbiskan saya sebagai iman KeuskupanTanjungkarang. Permohonan saya ini dikabulkan dan pada 25 April 2012 sayabersama dua diakon ditahbiskan menjadi imam di Stasi Hati Kudus Tanjung Mas, Paroki St. Petrus Kalirejo.

Perjalanan hidup saya itu sungguh patut disyukuri. Didalamnya saya yakini bahwa Allah telah memulai, sedang, dan akan terusberkarya. Setiap pengalaman saya rasakan menjadi berkat, meskipun sering sayabaru menyadarinya setelah waktu yang lama. Keterbukaan terhadap rencana Allahdan kesediaan untuk terus mencarinya merupakan perjuangan terus menerus sebagai manusia yang rapuh di dalam persekutuan.

Teladan Rasul Paulus untuk selalu mengingat karya Allah sebagai yang pertama ingin saya contoh. Tanpa mengingat karya Allah itu rasanya sulit memaknai kegagalan. Dan mungkin roh dari persekutuan jemaat menjadi tidak kuat. Semoga dalam menghayati panggilan sebagai imam, saya juga bisa belajar dari karya baik Allah dalam hidup konkret umat yang berbentuk hidup berkeluarga dan pelaksanaan tugas khas awam di tengah dunia ini. Dengan demikian, persekutuan umat beriman terwujud. Tuhan Yesus Kristus adalah sumber kekuatan bagi kita semua.

 

RD. Stepanus Widiyanto

 

Saya, Stepanus Widiyanto, lahir pada 05 Agustus 1977di Sidoharjo kec. Way Panji, Stasi Hati Kudus Paroki Keluarga Kudus Sidomulyo Lampung Selatan, sebagai anak ke-5 dari 6 bersaudara buah cinta dari Bapak Alloysius Wagiman Asmo Redjo dan Ibu Theresia Ponijah. Sejak kecil saya senang mengikuti sekolah Minggu, doa lingkungan, dan Ibadat Sabda, serta Misa Kudus diGereja pada hari Minggu, dan sering ditunjuk sebagai misdinar. Bahkan ketikakelas 3 SD saya sudah diminta untuk menjadi lektor di gereja. Bagi saya,pengalaman masa kecil inilah yang membentuk diri saya untuk berkomitmen dan terpanggil untuk menjadi imam.

Usai menamatkan pendidikan dasar di SDN 01 Sidoharjo, kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan pada tahun 1990, saya meneruskan studi saya ke SLTP Negeri 1 Sidomulyo dan tamat tahun 1993. Selanjut saya, saya melanjutkan sekolah di SMAN 01 Seloretno, kecamatan Sidomulyo. saya menjalani masa pendidikan dengan mengayuh sepeda bersama teman-teman saya menempuh jarak lebih kurang 8 KM.

Memasuki tahun kedua di SMA, saya menderita sakit dan dirawat di rumah sakit selama 8 hari. Selama kurang lebih 1 bulan saya tak bisamasuk sekolah. Kehadiran teman-teman sekolah yang datang ke rumah seakan menjadi obat mujarab bagi saya. Tiga hari sesudah kunjungan teman-teman, saya memaksakan diri untuk bersekolah meski belum sembuh benar.

Sakit saya kambuh kembali. Ada perubahan besar yang terjadi dalam diri saya. saya tak mampu berkonsentrasi dengan baik dan cepat capek. Rasa saya sungguh merasa berat untuk menjalani pendidikan. Menyadari lemah fisik dan psikis saya, saya putuskan untuk berhenti sekolah. Keputusan saya sungguh mengejutkan guru konseling di sekolah saya. Guru konseling sayaitu meminta agar saya tetap melanjutkan sekolah karena saya sedang diajukan untuk memperoleh beasiswa bersama empat rekan saya. Pihak sekolah akhirnya memberi waktu istirahat selama satu tahun. Menurut kisah orang tua saya, semasakecil saya memang sudah biasa didera sakit-sakitan. Bahkan, pernah saat balita saya sakit parah dan diinjeksi dua kali di paha saya. Akibatnya, saya tak sadarkan diri selama satu hari. 

Sesuai dengan perjanjian, setelah satu tahun berhenti sekolah, saya memaksakan diri untuk kembali melanjutkan studi. Sebenarnya saya merasa belum siap. Keadaan saya masih kurang mendukung. Namun, pada saat itu orangtua dan abang saya tetap memotivasi saya agar tetap sekolah. Akhirnya,saya pun menyelesaikan pendidikan saya di SMA.

Tamat SMA, saya tak mempunyai rencana untuk melanjutkan sekolah. Meski pada saat itu saya masih teringat akan cita-cita saya waktu kecil yakni ingin menjadi pastor. Namun seakan saya tak punya nyalilagi untuk mewujudkannya terkait kelemahan fisik saya. saya ingin menimba pengalaman dalam kehidupan menggereja. saya dipilih sebagai ketua OMK, disamping ikut mendampingi adik-adik sekolah Minggu dan remaja. Bersama dengan tokoh gereja lainnya, saya terlibat aktif dalam kegiatan gereja. Lebih kurang satu tahun terlibat dalam kehidupan menggereja, mengubah diri saya untuk kembali memikirkan cita-cita saya waktu kecil, yakni ingin menjadi pastor. sayakemudian masuk dan menjalani pendidikan di Seminari Menengah Stella Maris Bogor selama 2 tahun, tamat tahun 2001.

Pada akhir tahun pendidikan di Stella Maris, saya melamar dan diterima sebagai calon imam Diosesan Tanjungkarang. Masa Tahun Orientasi Rohani (TOR) saya jalani pada tahun 2001-2002 di TOR St. Markus Pematangsiantar, dan studi Filsafat di STFT Pematangsiantar pada 2002-2006. Masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) saya jalani di wilayah Gedung Aji Baru (GABA), Unit Pastoral Mesuji selama 10 bulan, yakni 2007. Kemudian saya melanjutkan studi teologi di STFT Pematangsiantar  hingga 2010. Setelah menyelesaikan pembinaandan studi di Seminari Tinggi Santo Petrus dan STFT Pematangsiantar, saya menjalani masa Pengolahan Pastoral (Penpas) di paroki Keluarga Kudus Baradatu, Way Kanan. Pada 25 Februari 2011saya ditahbiskan menjadi diakon di Gereja St. Yusup Pringsewu dan menjalani masa diakonat di Paroki St. Liduina Bandarjaya, Lampung Tengah.

Pengalaman melayani umat sebagai diakon tertahbis membuat saya semakin sadar bahwa Tuhan sungguh menguatkan dan tetap menemani,menopang serta berjalan bersama saya. Pertama kali memimpin adorasi dan memberi berkat sakramen Mahakudus dengan mengangkat monstrans, membuat saya merasakecil dan tak pantas di hadapan Sang Mahakudus. Saat memberkati perkawinan,membaptis, memberkati jenazah, mengirim komuni suci kepada para lansia serta menjalankan tugas diakonat lainnya, saya laksanakan dalam kesadaran bahwa dirisaya sedang dipakai Tuhan sebagai alat penyalur rahmat-Nya. saya percaya bahwaTuhan telah membuat saya layak dalam situasi kekurangan dan kerapuhan manusiawi saya.  Hingga saya tetap merindukan untuk diperkenankan menerima tahbisan imamat dan menjalani hidup sebagai seorang imam.

Bagi saya, imam adalah seorang suci dalam pandangan masa kecil saya. Pribadi imam sungguh mampu menenteramkan umat yang merindukan seorang gembala. Mungkin pada saat itu, ketika usia remaja, motivasi saya untuk menjadi imam terlalu tinggi untuk dibahasakan dan diterjemahkan. Namun tetapsaja bahwa motivasi ini dapat terus diterjemahkan dalam konteks zamannya. “Meluaskan Kerajaan Allah”. Inilah tekad saya saat itu. Dalam pemahaman saat itu, meluaskan Kerajaan Allah berarti menghadirkan Kristus dalam kehidupan diridan orang lain. saya merasakan bahwa seorang imam ternyata mampu melakukan halitu, khusus saya dalam Ekaristi.

Saya menyadari bahwa panggilan itu bukanlah barang jadi. Artinya, saya harus tetap mengalami proses dan pencarian secara terus-menerus gema panggilan Tuhan yang saya dengar dan tanggapi itu. Jatuh bangun dalam meniti panggilan adalah bagian dalam berproses. Namun, saya tetap berusaha untuk mencari rencana Tuhan dalam setiap peristiwa hidup saya sekecil apapun. saya yakin bahwa Tuhan mendidik saya dalam setiap peristiwa hidup yang kadang tak sesuai dengan keinginan saya.

Ternyata ketika serpihan-serpihan pengalaman itu disatukan kembali dalam keheningan, kebeningan dan kekaguman iman, saya akan lebih berbicara dan bermakna sebagai waktu berahmat. Mozaik panggilan itu tetapterbentuk dari rajutan-rajutan waktu berahmat. Tuhanlah yang telah menyusun serpihan-serpihan yang terserak dari pengalaman hidup panggilan saya. “Buluhyang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya  tidak akan dipadamkan-Nya,…”(Yes 42: 3). “Tuhan izinkan aku melangkah ke altar suci-Mu”

 

RD. Andreas Sunaryo

 

Dalam hidup ini, terlebih dalam menjalani hidup sebagai calon imam,  saya meyakini satuhal dari Tuhan, bahwa IA adalah Allah dan Tuhan yang bertanggung jawab. Jika IA memberikan sesuatu hal bagi manusia, maka IA akan menyelesaikannya pula. JikaTuhan telah memulai sesuatu pekerjaan yang baik di dalam kita, Dia akan meneruskannya sampai pada kesudahannya. Maka dari hati yang dalam patutlah saya berdoa dengan kata-kata Paulus: "Aku bersyukur Kepada Allah yang telah memulai dan akan meneruskannya” (Bdk. Filipi 1:5-6).

Keyakinan bahwa Allah telah memulai yang baik dalam panggilan ini sudah saya rasakan sejak kecil, di mana saya terpanggil untuk menjadi imamnya. Panggilan itu mekar saat duduk dibangku sekolah dasar  kelas 6. Panggilan untuk menjadi imam dipengarui oleh figur seorang imam yang menurutku patut diidolakan. Karena diaperhatian, penuh cinta, keinginan untuk bergaul dengan siapa saja tanpa memilih-milih dan tidak membeda-bedakan . Lama saya pendam niatku untuk masuk seminari dan bercita-cita menjadi seorang imam. Tiga tahun kemudian disebuah pertemuan keluarga, saya beranikan untuk mengungkapkan maksudku untuk masuk seminari dan bercita-cita menjadi seorang imam. Keluarga saya  mendukung, tetapi, tanggapan ayah lain. Ayah menganjurkan saya untuk meneruskan ke SMU luar supaya motivasiku murni dan tidak hanya ikut-ikutan. Saya merasa kecewa harus menunda dan menunggu selama tiga tahun lagi.

Setelahlulus SMP saya melanjutkan ke SMU di luar. Tiga tahun saya jalani sebagai anak SMU yang mengalami pergolakan jiwa muda. Semangat panggilan untuk masuk seminari hampir hilang ditelan huru-hara masa SMU. Tiga tahunpun akhirnya berlalu dan keinginan untuk masuk seminari sepertinya tidak terlintas dalam benakku. Namun pada saat keluarga kami mengadakan pertemuan natal bersama, sayaditanya oleh sasudara-saudari mengenai keinginan untuk masuk seminari. Dengan semangat saya menjawab masih ada keinginan. Sebenarnya saya sedikit tersenta kdengan pertanyan itu, tetapi entah mengapa perasaan yang saya miliki ketika masih SMP muncul saat itu dan dengan semangat saya menjawab ya. Pesan RasulPaulus kepada umat di Filipi terasa seiring dengan langkah yang saya ambil saatitu, "…. aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada yang ada di hadapanku, dan berlari- lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus"(Filipi 3: 13-14).

Saya mendaftarkan diri menjadi calon siswa Seminari Menengah Palembang dengan beberapa teman dari parokiku dan  mengikuti test saringan di Palembang selama 1minggu dan tidak menyangka bahwa saya diterima. Masa pembentukan di Seminari Menengah menjadi saat yang tidak terlupakan dalam perjalan hidup panggilanku, karena masuk dalam suasana yang sungguh berbeda dengan kehidupan diluar.  Hidup di seminari menengah membutuhkan perjuangan yang cukup berat karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, manusia dan kebudayan setempat.

Dengan terang roh kudus dan dukungan dari keluarga ,teman-teman satu angkatan serta staff seminari, saya memutuskan untuk bergabung sebagai calon imam keuskupan Tanjungkarang dengan motivasi saya ingin menjadi imam yang membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan umat melalui karya dan doa. Sebagai putra daerah yang telah dibesarkan dan dibekali iman oleh umat dan terutama keluarga, saya ingin membangun daerahku dengan tidak menutup diri terhadap daerah lain. Syukur kepada Allah bahwa permohonan untuk bergabung dengan calon imam di keuskupan Tanjungkarang dikabulkan oleh Bapa uskup. Kehidupan baru saya jalani di Tahun Orientasi Rohani dengan proses jatuh bangun baik dalam doa maupun dalam segi kehidupan lain. Refleksi, meditadsi, permenungan dan kerja yang menjadi salah satu penekan di TOR, semakin membantuku menemukan suara Tuhan.

Masa di Seminari Tinggi Santo Petrus dan masa Tahun Orientasi Pastoral serta masa persiapan menjadi diakon  menjadi masa yang penuh pengalaman  menarik karena tantangan-tantangan yang saya hadapi. Tidak jarang muncul keraguan-keraguan dalam hatiku. Pergumulan itu terus berlangsung hingga saat ini. Satu prinsip yang saya pegang untuk usaha itu adalah bahwa saya saat inibisa dan setia dalam panggilan dan besok akan saya usahakan terus menerus. Hari  perhari menjadi saat yang penuh dengan perjuangan dan rakhmat. Kehidupan yang terarah kepada kesucian, kesempurnanan imamat setinggi-tingginya sedang dan akan saya usahakan, walaupun kerap jauh dari kesempurnaan. Saya percaya bahwa berkat  dukungan orang tua,  dari teman, serta berkat Tuhan, saya mampu untuk mengusahakannya.

Ada rasa lega dan haru, namun yang terutama adalahrasa syukur. Betapa tidak, perjalanan yang panjang akhirnya membuahkan hasil,walaupun memang hasil ini bukan merupakan tujuan akhirku, malahan baru merupakan awal bagi perjuanganku selanjutnya. Tuhan masih memberi saya KEBAHAGIAAN dan sekian banyak RAHMAT serta ANUGERAH kehidupan. Inilah dua kunci atau indikator yang dapat dijadikan patokan bahwa memang jalan hidup yang kualami saat ini sungguh merupakan pilihan hidup yang tepat bagi diriku

 Saya sadar bahwa kehidupan seorang imam di zaman ini selalu penuh tantangan, baik yang besar maupun kecil. Di manapun, kapanpun, dalam hal apapun, tantangan menghias isetiap jalan seorang imam bagaikan berjalan menemui kerikil-kerikil tajam.  Apapun tantangan dan cobaan saya ingin tetap bertahan, seraya memegang erat janji Tuhan yang selalu dapat saya temukan didalam 1 Kor 10:13, “Pencobaan- pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Padawaktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar sehingga kamu dapat menanggungnya.” Dan saya tahu bahwa dengan berpegang erat kepada Tuhan saya akan selalu mengalami pertolonganNya. Tuhan sendiri mengundangku untukselalu datang kepadaNya, seperti yang Ia ungkapkan dalam Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di depan nanti, apa yang Tuhan rencanakan bagi hidupku kelak. Satu hal dapat saya lakukan sebagai manusia adalah selalu ikut kehendak Tuhan, caranya dengan berpasrah, berdoa, menjalin relasi yang mendalam dengan Tuhan.

Kesetiaan untuk berjalan dalam jalan-Nya ini didukung oleh kesadaraan bahwa Dia yang yang telah memanggilku telah menyerahkan hidup-Nya demi hidupku. Dia datang supaya saya mempunyai hidup dan saya mempunyai dalam segala kelimpahan (Bdk.Yoh. 10:10). Dari sabda-Nya itu terinspirasi sebuah motto hidup yang selama ini saya hidupi dan memberi semangat dalam setiap karya dan doa; Hidup yang menghidupkan adalah hidup yang sejati. Hidup Kristus adalah hidup yang sejati sebab hidup-Nya telah memberi hidup kepada orang lain. Ia wafat dan memberikan hidup-Nya bagi keselamatan umat manusia,  bukan hanya orang benar melainkan orang-orang berdosa, miskin dan tertindas.

Sebagai pengikut Kristus, saya berusaha untuk senantiasa meneladan hidup Kristus yang telah memberi hidup kepada umat. Memang saya tidak bisa sempurna seperti Kristus, namun saya yakin dengan hal-hal kecil seperti memberi senyuman, menyapa, dan pelayanan tanpa pamrih mampu sedikit memberi hidup kepada orang lain baik dalam iman, harapan dan kasih. Dan saya yakin bahwa Allah yang telah memulai dan akan meneruskannya. Dan atas semua rahmat itu perkenankan saya berdoa bersama Yesus : “Aku bersyukur kepada-MuBapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” (Luk 10:21) ***

 

 

 

Categories: INFORMASI LINTAS PAROKI

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

1 Comment

Reply Antonius Widi
08:45 AM on June 10, 2012 
Selamat buat romo yang baru di tahbiskan terkhusus buat romo wiwied,....kami OMK Gisting jaya rindu untuk ketemu romo lagi,....maaf waktu misa perdana di baradatu ga bisa dateng.

Bible Search

Search the Bible



BibleGateway.com

Anda pengunjung yang ke:

Kirim info & artikel Anda

Kirimkan informasi atau artikel Anda ke email: <komsos@keuskupantanjungkarang.com> atau <ratnoscj@gmail.com>

Radio Suara Wajar - FM 96.8