KEUSKUPAN SUFRAGAN TANJUNGKARANG
"Non Est Personarum Acceptor Deus" (Kis 10,34)

WARTA GEREJA

Paus Fransiskus:
Jangan menjadi orang Kristen kalau berperilaku buruk

31/10/2014
Paus Fransiskus menyatakan bahwa cara orang Kristen berperilaku baik dapat membantu dan menginspirasi orang lain, atau sebaliknya membuat mereka yang pernah mengikuti Yesus akan meninggalkan Dia...... baca selengkapnya

Sumber: ucanews.com


______________________________________________________________

Paus Emeritus Benediktus:
Dialog sebagai cara berbagi sukacita Injil

29/10/2014

Ketika Paus Benediktus XVI mengumumkan pengunduran dirinya pada Februari 2013, ia mengatakan ia akan terus melayani Gereja “melalui doa-doanya.” .... baca selengkapnya

Sumber: ucanews.com


______________________________________________________________

Paus Fransiskus Menyerukan Penghapusan

Hukuman Mati dan Penjara Seumur Hidup


24/10/2014

Paus Fransiskus menyerukan penghapusan hukuman mati dan hukuman penjara seumur hidup, serta mengecam apa yang ia sebut sebagai “penal populism“, yang menjanjikan untuk memecahkan masalah dalam masyarakat dengan menghukum para pelaku kejahatan, dan bukannya mengutamakan keadilan sosial. .... baca selengkapnya


Sumber: ucanews.com


____________________________________________________________

CONVENIAT
Keuskupan Tanjungkarang
14 sd 16 Oktober 2014

Mgr. Yoh. Harun Yuwono sedang memberikan sambutan.

 RP. FX. Heru Atmaja, SCJ sedang memaparkan persoalan-persoalan perkawinan terkait dengan masalah Hukum Perkawinan Gereja Katolik.
 
Romo Purwanto, SCJ sedang mempresentasikan Pastoral Data.

PASTORAL DATA &

PASTORAL PERKAWINAN


Selasa, 14 Oktober 2014 di Wisma Albertus Bandar Lampung berlangsung acara "Conveniat" Keuskupan Sufragan Tanjungkarang. Ada pun pertemuan itu dihadiri oleh hampir seluruh para gembala (pastor & Diakon) yang bekerja di Keuskupan Tanjungkarang dan masih ditambah dengan para frater (diosesan & SCJ) yang sedang menjalani TOPP (Tahun Orientasi Pastoral Panggilan). Pada kesempatan itu hadir pula RD. Kamilus (Praja Pangkalpinang) dan RP Laurentius Sihaloho, OFM Conv. yang akan observasi dan berkarya di wilayah Gereja Katolik Lampung. Hari pertama Conveniat diisi dengan uraian atau penjelasan tentang Teologi Pastoral Data oleh RP FA Purwanto, SCJ (Dosen Dogmatik Fakultas Teolgi Wedhabakti-Yogyakarta) selama setengah hari. Dalam uraiannya antara lain Romo Pur menjelaskan bahwa dengan data-data yang telah kita dapat dari lapangan (paroki-keuskupan) kita bisa melihat gambaran real dari paroki atau keuskupan kita dengan segala kekuatan-kelemahan, potensinya, lalu pastoral apa yang diprioritaskan dan bagaimana pastoral itu dijalankannya.

Pada sore harinya, RP Eko Yuniarto SCJ memimpin rekoleksi hingga makan malam yang ditutup dengan Misa Kudus dengan mengambil tema "Belajar dari Model Kemuridan Maria dalam Komunitas para Murid."

Pada hari kedua, Conveniat dilanjutkan dengan penyegaran kembali Pastoral Perkawinan yang dipandu oleh RP. FX. Heru Atmaja, SCJ (Vikaris Judicial Keuskupan Agung Palembang). Romo Heru mengawali penyegaran ini dengan mengingat kembali pokok-pokok dasar perkawinan sebagai landasan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan perkawinan yang sering terjadi. Banyak pengalaman beliau selama berkarya di bidang itu di-share-kan dalam Conveniat itu. Dan pada hari terakhir para peserta diajak untuk melihat beberapa kasus perkawinan dan berfikir bersama bagaimana langkah-langkah penyelesaiannya. Selama Conveniat berlangsung Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Keuskupan Sufragan Tanjungkarang selalu hadir dan mengikuti pertemuan tersebut. ThS.

Para romo dan frater sedang berdiskusi memecahkan suatu masalah perkawinan.

______________________________________________________________

Pertemuan Pemandu Kitab Suci
Se-Regio Sumatera
08 - 10 Oktober 2014

Foto bersama peserta: (arah jarum jam)
1. di Ruang Pertemuan
2. di Rumah Emiritus dgn Mgr. Henri
3. HUT ke-1 Mgr. Yoh. Harun Yuwono (10 Okt 2014).

Di wisma Albertus, Pahoman – Bandar Lampung pada tanggal 8-10 Oktober 2014 berkumpul sekitar 70 orang yang perwakilan dari enam keuskupan dan paroki-paroki se-Keuskupan Tanjungkarang. Selama tiga hari mereka Mengikuti Pertemuan Pemandu Kitab Suci Se-Regio Sumatera. Dalam pertemuan ini RD. Edy Pasetyo dan RD. Ferdinandus Meo Bupu hadir sebagai narasumber.

            Tanggal 8 Oktober pagi pertemuan khusus para Delegatus Kitab Suci masing-masing keuskupan guna membahas persiapan Bulan Kitab Suci Nasional 2015 dan rencana kegiatan tahun 2015 yang akan diadakan di Keuskupan Sibolga. Sore harinya seluruh peserta memulai kegitan utama.  Rm. Edy sebagai perwakilan dari LBI (Lembaga Biblika Indonesia) memberi pengantar singkat pertemuan ini. Beliau menandaskan pentingnya para pemandu pendalam KS dan memberi  gambaran singkat tentang LBI (Lembaga Biblika Indonesia). Para pemandu menjadi ujung tombak dan sekaligus juga ujung tombok (berani merugi). Untuk itu mereka harus punya semangat pelayan.

            LBI pada awalnya merupakan lembaga milik Fransiskan. Bertolak dari sejarah lembaga ini menjadi instansi otonom dalam hubungannya dengan KWI. Dana yang menghidupi lembaga ini berasal dari Kolekte Minggu Kitab Suci yang dikumpulkan dari keuskupan-keuskupan se-Indonesia. Dana tersebut oleh LBI dikembalikan kepada umat dalam bentuk subsidi Kitab Suci, subsidi kegiatan kaderisasi di tingkat keuskupan dan regio maupun penerbitan buku yang kiranya membantu umat mencintai Kitab Suci dan memperdalam imannya.

            Setelah pengantar singkat dari Rm. Edy, didiskusikan dan diplenokan hambatan dan harapan terkait dengan kerasulan Kitab Suci maupun pemandu pendalaman Kitab Suci. Dari pleno yang disampaikan masing-masing kelompok muncul banyak hambatan yang dihadapi dan harapan dari kegiatan ini maupun kemajuan yang lebih baik dalam kehidupan Gereja terkait dengan Kitab Suci.

Pada hari kedua para peserta mendapat masukan materi dari 2 narasumber. Rm. Meo membagikan pengalaman dalam membaca Kitab Suci. Beliau menandaskan bahwa dalam belajar Kitab Suci ada tiga hal penting: membaca, membaca dan membaca. Dalam membaca Kitab Suci perlu diperhatikan konteks teks atau perikop yang kita baca. Selain itu dalam membaca Kitab Suci diperlukan konsentrasi dan ketelitian. Rm. Meo mengibaratkan dalam membaca Kitab Suci pembaca menempatkan diri sebagai orang yang masih belajar membaca. Hal ini menjadi penting karena banyak detail yang harus dicermati dalam teks Kitab Suci.

Menyusul kemudian pada sessi berikut, Rm. Edy dengan materinya tentang Pemandu Pendalaman di Lingkungan. Ditekankan bahwa pemandu merupakan fasilatator yang menjadikan pertemuan menjadi lancar. Agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik para pemandu harus memiliki  kemampuan, kepribadian maupun spiritualitas yang mendukung. Rm. Edy juga menyampaikan tugas pemandu pendalaman. Pada bagian akhir disampaikan beberapa model pendalaman yang bisa dijalankan. Ketujuh model itu ialah Model Tujuh Langkah, Model Lectio Divina,  Model Biasa,  Model Group Respons,  Model Look-Listen-Love,  Model Amos, dan  Model T – A - T.

Setelah mendapat masukan dari pemateri, para peserta diminta untuk berlatih menyiapkan bahan pendalaman dan kemudian apa yang telah dirumuskan dalam masing-masing kelompok diplenokan. Merupakan suatu kegembiraan, walaupun dalam waktu yang terbatas masing-masing kelompok mampu membuat persiapan yang cukup memadai.  Dari proses tersebut diharapankan para peserta kegiatan bisa membuat bahan pendalaman Kitab Suci yang berguna bagi kehidupan iman umat.

Pada hari terakhir para peserta mengikuti Perayaan Ekaristi dalam rangka ulang tahun yang pertama Tahbisan Uskup Mgr. Yohanes Harun Yuwono di Gereja Kristus Raja - Tanjungkarang. Setelah perayaan Ekaristi para peserta masih mengikuti bagian akhir kegiatan yakni kesimpulan dan evaluasi. Sebagai bentuk kebersamaan setelah seluruh rangkaian acara terselesaikan para peserta ‘jalan-jalan’ ke Gua Maria Padang Bulan, mengunjungi Bapa Uskup Emeritus Mgr. Andreas Henrisoesanta, SCJ serta mengunjungi makam Uskup Pertama Tanjungkarang Mgr. Albertus Hermelink, SCJ. *** Isabela FSGM


____________________________________________________________

Paus Fransiskus beatifikasi mendiang Paus Paulus VI


21/10/2014

Paus Fransiskus telah secara resmi membeatifikasi mendiang Paus Paulus VI, seraya berterima kasih atas “kerendah hati dan menjadi saksi kasih profetis demi Kristus dan Gereja-Nya”. ... baca selengkapnya


Sumber: ucanews.com


_______________________________________________

Sinode Berakhir dengan Mempertegas
Ajaran Gereja



Vincent Kardinal Nichols dari Westminster, Inggris, berbicara dengan Raymond Kardinal Burke, pejabat Vatikan.

 




21/10/2014

Setelah beberapa hari perdebatan terkait laporan pertengahan sinode, Sinode Uskup tentang Keluarga menyepakati dokumen akhir berdasarkan pada ajaran Gereja. Namun, Sinode itu gagal mencapai konsensus mengenai pertanyaan-pertanyaan terutama isu-isu kontroversial seperti umat Katolik bercerai dan menikah lagi secara sipil lalu menerima Komuni, serta pelayanan pastoral bagi pasangan sejenis.

Diskusi-diskusi di aula Sinode telah memanas setelah  laporan pengantar jangka menengah pada 13 Oktober menggunakan bahasa yang kurang etis terhadap orang-orang dengan cara hidup bertentangan dengan ajaran Gereja, termasuk umat Katolik bercerai dan menikah lagi secara sipil, kumpul kebo dan pernikahan sesama jenis.

Ringkasan dari diskusi kelompok, yang diterbitkan pada 16 Oktober, menunjukkan mayoritas Bapa-Bapa Sinode menginginkan dokumen akhir untuk lebih mempertegas ajaran Gereja dan memberi perhatian lebih pada keluarga-keluarga yang hidupnya mengikuti ajaran Gereja.

Laporan akhir, dimana Bapa Suci memerintahkan untuk diterbitkan menyusul kesimpulan sinode, menampilkan lebih banyak kutipan dari Kitab Suci, serta referensi pada Katekismus Gereja Katolik dan ajaran Beato Paus Paulus VI, Santo Yohanes Paulus II, dan Paus Emeritus Benediktus XVI.

Bapa-Bapa Sinode memilih pada masing-masing dokumen dengan 62 paragraf. Mayoritas menerima semuanya, tapi tiga Bapa Sinode tak setuju, namun telah mendapatkan dua pertiga mayoritas yang biasanya diperlukan untuk persetujuan dokumen sinode.

Dua dari paragraf tersebut berhubungan dengan sebuah proposal dari Walter Kardinal Kasper dari Jerman yang akan membuat lebih mudah bagi umat Katolik bercerai dan menikah lagi secara sipil lalu menerima Komuni. Dokumen itu mencatat perbedaan pendapat tentang topik dan direkomendasikan akan dikaji lebih lanjut.

Bagian dokumen tentang homoseksualitas, yang juga mendapat persetujuan supermayoritas, secara signifikan mengubah laporan paruh sinode. Judul asli – “menyambut kaum homoseksual” – diubah menjadi “pelayanan pastoral kepada orang-orang dengan orientasi homoseksual.”

Pastor Federico Lombardi, juru bicara Vatikan, mengatakan kepada para wartawan bahwa tidak ada supermajoritas menunjukkan kurangnya konsensus dan membutuhkan diskusi lebih lanjut, namun ia menekankan bahwa tidak ada dokumen yang menjadi beban doktrinal. Laporan akhir sinode akan berfungsi sebagai agenda untuk Oktober 2015 berkaitan dengan sinode dunia tentang keluarga, yang akan membuat rekomendasi kepada Bapa Suci.

Paus Fransiskus mengatakan ia menyambut ekspresi tak setuju dari sinode itu.

Sementara meyakinkan majelis bahwa kesatuan Gereja tidak dalam bahaya, Paus Fransiskus memperingatkan terhadap beberapa godaan yang katanya telah hadir selama dua minggu sinode.

Uskup Agung Joseph E. Kurtz dari Louisville, Kentucky, ketua presiden Konferensi Waligereja Amerika Serikat, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia “bersyukur bahwa klarifikasi dan pendalaman refleksi alkitabiah dan teologis muncul secara konsisten” melalui laporan akhir.


Sumber: ucanews.com


____________________________________________________________

PESAN SIDANG UMUM LUAR BIASA
PARA USKUP III TENTANG KELUARGA

(18 Oktober 2014)

Kami, para Bapa Sinode, yang berkumpul di Roma bersama-sama dengan Paus Fransiskus dalam Sidang Umum Luar Biasa Sinode para Uskup, menyambut semua keluarga dari berbagai benua dan khususnya semua orang yang mengikuti Kristus, Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Kami mengagumi dan berterima kasih atas kesaksian sehari-hari yang Anda tawarkan kepada kami dan dunia dengan kesetiaan, iman, pengharapan, dan kasih Anda.


Kami masing-masing, para gembala Gereja, dibesarkan dalam sebuah keluarga, dan kami datang dari berbagai macam latar belakang dan pengalaman. Sebagai para imam dan para uskup kami telah hidup bersama keluarga-keluarga yang telah berbicara kepada kami dan menunjukkan kami kisah sukacita mereka dan kesulitan mereka.


Persiapan untuk sidang sinode ini, dimulai dengan kuesioner yang dikirim ke Gereja-gereja  di seluruh dunia, telah memberikan kami kesempatan untuk mendengarkan pengalaman banyak keluarga. Dialog kami selama Sinode telah saling memperkaya, membantu kami untuk melihat situasi-situasi rumit yang dihadapi keluarga-keluarga hari ini.


Kami menawarkan sabda Kristus: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku" (Why 3:20). Pada perjalanan-Nya sepanjang jalan-jalan Tanah Suci, Yesus sudi memasuki rumah-rumah desa. Ia terus lewat bahkan hari ini di sepanjang jalan-jalan kota-kota kita. Dalam rumah-rumah Anda ada cahaya dan bayangan. Tantangan-tantangan sering menampilkan diri mereka dan kadang-kadang bahkan pencobaan-pencobaan besar. Kegelapan dapat tumbuh dalam hingga titik menjadi sebuah bayangan pekat ketika karya jahat dan dosa ke dalam hati keluarga.


Kami menyadari tantangan besar untuk tetap setia dalam kasih suami-istri. Iman yang diperlemah, dan ketidakpedulian terhadap nilai-nilai yang benar, individualisme, pemiskinan hubungan, dan tekanan yang mengecualikan permenungan meninggalkan jejak mereka pada kehidupan keluarga. Sering ada krisis dalam pernikahan, sering dihadapkan dengan ketergesa-gesaan dan tanpa keberanian untuk memiliki kesabaran dan merenung, untuk berkorban dan saling mengampuni. Kegagalan-kegagalan menimbulkan hubungan-hubungan baru, pasangan-pasangan baru, kesatuan-kesatuan sipil baru, dan pernikahan-pernikahan baru, menciptakan situasi-situasi keluarga yang rumit dan bermasalah, di mana pilihan Kristiani tidak jelas. 


Kami memikirkan juga beban yang dikenakan oleh kehidupan dalam penderitaan yang dapat timbul dengan seorang anak berkebutuhan khusus, dengan penyakit serius, dalam kemerosotan usia tua, atau dalam kematian orang yang dicintai. Kami mengagumi kesetiaan begitu banyak keluarga yang bertahan dalam pencobaan-pencobaan ini dengan keberanian, iman, dan kasih. Mereka melihat mereka bukan sebagai sebuah beban yang ditimbulkan pada mereka, tetapi sebagai sesuatu yang di dalamnya mereka sendiri berikan, melihat penderitaan Kristus dalam kelemahan daging.


Kita mengingat kesulitan-kesulitan yang disebabkan oleh sistem-sistem ekonomi, oleh "berhala uang dan kediktatoran dari sebuah ekonomi yang tidak bersifat pribadi yang minim tujuan yang benar-benar manusiawi" (Evangelii Gaudium 55) yang melemahkan martabat orang-orang. Kami mengingat para orang tua yang menganggur yang tidak berdaya untuk menyediakan kebutuhan dasar bagi keluarga-keluarga mereka, dan kaum muda yang melihat di hadapan mereka hari-hari pengharapan yang hampa, yang merupakan mangsa obat-obatan dan kejahatan. 


Kami memikirkan begitu banyak keluarga miskin, mereka yang hendak menggapai perahu-perahu untuk mencapai sebuah pantai kelangsungan hidup, para pengungsi yang berkeliaran tanpa harapan di padang gurun, mereka yang teraniaya oleh karena iman mereka dan nilai-nilai rohani dan manusiawi yang mereka pegang. Ini terserang oleh kebrutalan perang dan penindasan. Kami mengingat para wanita yang menderita kekerasan dan eksploitasi, para korban perdagangan manusia, anak-anak yang disalahgunakan oleh mereka yang seharusnya melindungi mereka dan memupuk perkembangan mereka, dan para anggota dari begitu banyak keluarga yang telah diperkeji dan dibebani dengan kesulitan-kesulitan. "Budaya kemakmuran mematikan kita .... semua kehidupan ini yang terhambat karena kurangnya kesempatan tampak sebuah tontonan belaka; mereka gagal untuk menggerakkan kita "(Evangelii Gaudium 54). Kami menghimbau para pemerintah dan para organisasi internasional untuk mempromosikan hak-hak keluarga untuk kebaikan bersama.


Kristus menginginkan Gereja-Nya menjadi sebuah rumah dengan pintu selalu terbuka untuk menyambut semua orang. Kami sangat berterima kasih kepada para gembala kami, kaum awam, dan komunitas-komunitas yang mendampingi pasangan-pasangan dan keluarga-keluarga serta merawat luka-luka mereka.


                                                                               ***


Ada juga cahaya malam di belakang kaca-kaca jendela dalam rumah-rumah kota-kota, dalam kediaman-kediaman sederhana pinggiran-pinggiran kota dan desa-desa, dan bahkan dalam gubuk-gubuk belaka, yang bersinar terang menghangati tubuh-tubuh dan jiwa-jiwa. Cahaya ini – cahaya sebuah kisah pernikahan - bersinar dari perjumpaan antara pasangan: itu adalah sebuah karunia, sebuah rahmat yang terungkap, sebagaimana dikatakan Kitab Kejadian (2:18), ketika keduanya "bertatap muka" sebagai para penolong yang sepadan dan saling menguntungkan. Kasih pria dan wanita mengajarkan kita bahwa masing-masing membutuhkan pasangannya agar benar-benar mandiri. Masing-masing tetap berbeda dari pasangannya yang membuka diri dan diungkapkan dalam karunia timbal balik. Inilah yang sang pengantin Kidung Agung nyanyikan dalam lagu gerejanya : "Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia... Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku" (Kid 2:16; 6:3).


Perjumpaan otentik ini dimulai dengan pacaran, sebuah waktu tunggu dan persiapan. Hal ini diwujudkan dalam sakramen di mana Allah menetapkan meterai-Nya, kehadiran, dan rahmat-Nya. Jalan ini juga mencakup hubungan seksual, kelembutan, keintiman, dan keindahan yang mampu berlangsung lebih lama daripada tenaga dan kesegaran kaum muda. Kasih seperti itu, dari kodratnya, berusaha untuk menjadi selamanya hingga titik meletakkan hidupnya bagi orang yang dikasihi (bdk. Yoh 15:13). Dalam terang ini kasih suami-istri, yang adalah unik dan tak terpisahkan, bertahan meskipun banyak kesulitan. Ini adalah salah satu yang paling indah dari semua mukjizat dan yang paling umum.


Kasih ini menyebar melalui kesuburan dan pengembangbiakan, yang melibatkan tidak hanya kelahiran anak-anak tetapi juga karunia kehidupan ilahi dalam baptisan, katekese mereka, dan pendidikan mereka. Ini mencakup kemampuan untuk menawarkan kehidupan, kasih sayang, dan nilai-nilai – sebuah pengalaman yang mungkin bahkan bagi mereka yang belum mampu melahirkan anak-anak. Keluarga-keluarga yang menjalani petualangan penuh cahaya ini menjadi sebuah tanda bagi semua orang, terutama bagi kaum muda.


Perjalanan ini kadang-kadang merupakan sebuah jalur pegunungan dengan kesulitan-kesulitan dan kegagalan-kegagalan. Allah selalu ada untuk menemani kita. Keluarga mengalami kehadiran-Nya dalam kasih sayang dan dialog antara suami dan istri, para orang tua dan anak-anak, para saudara laki-laki dan saudara perempuan. Mereka memeluk-Nya dalam doa keluarga dan mendengarkan Sabda Allah – sebuah oase semangat harian, yang sederhana. Mereka menemukan-Nya setiap hari ketika mereka mendidik anak-anak mereka dalam iman dan dalam keindahan sebuah kehidupan yang dihayati menurut Injil, sebuah kehidupan yang kudus. Para kakek-nenek juga berbagi dalam tugas ini dengan penuh kasih sayang dan dedikasi. Keluarga dengan demikian merupakan Gereja domestik yang otentik yang meluas hingga menjadi keluarga dari keluarga-keluarga yang merupakan komunitas gerejani. Suami-istri Kristiani dipanggil untuk menjadi guru-guru iman dan guru-guru kasih bagi para suami-istri muda juga.


Ungkapan persekutuan persaudaraan lainnya adalah amal, pemberian, kedekatan dengan mereka yang terakhir, yang terpinggirkan, miskin, kesepian, sakit, orang-orang asing, dan keluarga-keluarga dalam krisis, menyadari sabda Tuhan, "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima" (Kis 20:35). Ini adalah sebuah karunia kesanggupan, hubungan persahabatan, kasih dan kemurahan, dan juga sebuah kesaksian terhadap kebenaran, terhadap terang, dan terhadap makna hidup.


Titik utama yang merangkum semua benang persekutuan dengan Allah dan sesama adalah Ekaristi hari Minggu ketika keluarga dan seluruh Gereja duduk di meja bersama Tuhan. Ia memberikan diri-Nya bagi kita semua, berziarah melalui sejarah menuju tujuan perjumpaan akhir ketika "Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu" (Kol 3:11). Dalam tahap pertama rencana perjalanan Sinode kami, oleh karena itu, kami telah merenungkan tentang bagaimana menemani mereka yang telah bercerai dan menikah lagi dan tentang keikutsertaan mereka dalam sakramen-sakramen.


Kami para Bapa Sinode meminta Anda berjalan bersama kami menuju Sinode berikutnya. Kehadiran keluarga Yesus, Maria, dan Yusuf di rumah sederhana mereka melayang di atas Anda. Dipersatukan kepada Keluarga Nazaret, kita memanjatkan kepada Bapa semua permohonan kami bagi keluarga-keluarga dunia:


Bapa, anugerahilah kepada semua keluarga kehadiran pasangan suami-istri  yang kuat dan bijaksana agar boleh menjadi sumber keluarga yang bebas dan bersatu.


Bapa, anugerahilah agar para orang tua boleh memiliki sebuah rumah yang di dalamnya menghidupkan kedamaian bersama keluarga-keluarga mereka.


Bapa, anugerahilah agar anak-anak boleh menjadi sebuah tanda kepercayaan dan harapan dan agar orang-orang muda boleh memiliki keberanian untuk menempa komitmen setia seumur hidup.


Bapa, anugerahilah kepada semua orang agar mereka boleh dapat memperoleh rejeki dengan tangan mereka, agar mereka boleh menikmati ketenangan jiwa dan agar mereka boleh tetap menyalakan obor iman bahkan dalam masa-masa kegelapan.


Bapa, anugerahilah agar kami semua boleh melihat berkembangnya sebuah Gereja yang semakin setia dan dapat dipercaya, sebuah kota yang adil dan manusiawi, sebuah dunia yang mencintai kebenaran, keadilan dan belas kasihan.

 

(Alih bahasa : Peter Suriadi)

From: provindoscj

Posted by: ysamiran@gmail.com


____________________________________________________________

UNIT PASTORAL BANDAR SAKTI
Gereja Tri Tunggal Mahakudus

Pada hari Minggu, 12 Oktober 2014, kembali Gereja Tri Tunggal Mahakudus Bandarsakti diberkati setelah direnovasi oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Gereja ini telah dibangun pada tahun 1973 dan diberkati oleh Mgr. A. Henrisoesanta, SCJ yang kini telah emiritus (pensiun) pada tanggal 2 Oktober 1979 yang lalu.

Kalau kita melihat sekilas ke belakang, pada awal sebelum definitif menjadi Unit Pastoral, wilayah ini masuk dalam wilayah pelayanan Paroki Santa Liduina – Bandarjaya. Namun sejak tahun 1999 karena jarak yang cukup jauh dari pusat paroki dan banyaknya stasi di paroki Bandarjaya maka beberapa stasi di wilayah digabung menjadi satu disebut “Rayon Utara” yang terdiri dari: Stasi Umas Jaya (GGP), Stasi Bandar Sakti, Stasi Bandar Agung, Stasi GMP (Gunung Madu Plantations), Stasi Astra Ksetra, Stasi GPM (Gula Putih Mataram), dan Stasi Trans Indotani. Padaa saat itu dilayani oleh para Pastor SCJ dan Diosesan (Praja).

Seiiring dengan perkembangan an berjalannya waktu serta kebutuhan pelayanan pastoral terhadap umat yang semakin dirasakan, maka Keuskupan Tanjungkarang (Bapa Uskup) mengeluarkan kebijakan bahwa Wilayah Rayon Utara ini menjadi Kuasi Paroki atau yang lebih dikenal dengan nama Unit Pastoral (UP) dan pada tahun 2001 berpusat di Stasi Bandar Sakti sehingga disebut dengan UPBS (Unit Pastoral Bandar Sakti). Bersamaan dengan itu, yakni dengan selesainya pembangunan Rumah Pastor (Pastoran) swadaya umat, Mgr Henrisoesanta, SCJ pada tanggal 3 September 2001 memberkati gedung itu dengan nama pelindung Santo Gregorius Agung.

Pada saat sekarang ini untuk pelayanan pastoral dengan mempertimbangkan luas dan jarak serta letak geografis Stasi-stasi yang ada, maka dibagilah pelayanan:

1. Wilayah Barat: Umas Jaya (GGP); Bandar Sakti; Bandar Agung; GMP (Gunung Madu Plantations); Multi Agro dan Astra Ksetra (LanUd AURI).

2. Wilayah Timur: GPM (Gula Putih Mataram); SIL (Sweet Indo Lampung); ILP (Indo Lampung Perkasa); Sidorejo; Tanjungsari; Trans Indotani; KM 66.

Para gembala yang melayani Unit Pastral Bandar Sakti sampai sekarang ini adalah para imam dari CongregasiPasionis (CP), yakni: RP. Marius Lami, CP dan RP. Rafael Gabhe, CP. (Fransiska, FSGM)


____________________________________________________________

UNIT PASTORAL BANDAR SAKTI
Stasi SP II - Way Terusan (Trans Indo Tani)

Pada hari Sabtu, 11 Oktober 2014 terselenggara pemberkatan kapel St. Thomas dalam Misa Kudus yang dipimpin oleh Bapa Uskup Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Sebagaimana diketahui bahwa Kapel (atau Gerja) merupakan simbol kesatuan umat Katolik di samping tempat ibadah. Maka peristiwa pemberkatan ini tentunya semakin menyemangati umat Katolik untuk bersatu dan terus menerus berjuang hidup menurut ajaran Gereja Katolik.

Stasi Trans Indotani yang sebelumnya mendapat pelayanan dari Paroki Kota Gajah namun dengan segala pertimbangan akhirnya sejak Th 2002 hingga sekarang dilayani oleh Unit Pastoral Bandar Sakti. Umat pada waktu itu hanya 16 KK dan yang aktif barulah separuhnya (7 KK). Dengan berjalannya waktu dan pelayanan akhirnya sekarang yang aktif berjumlah 10 KK. Umat di stasi ini tersebar di wilayah Way Terusan dan Way Kuau. Perkembangan umat di stasi ini bertumbuh dan berkembang tak lepas dari dukungan Kepala Kampung SP 2 Way Terusan (Bp. Ngadiman) dan Kepala Dusu, serta Ketua Stasi GPM (Gula Putih Mataram) (Bp. Albertus Suryanto), di samping Para pastor Unit Pastoral Bandar Sakti sebagai gembalanya (RP. Marius Lami, CP dan RP. Rafael Gabhe, CP). Ada pun seorang awam yang “berjasa” mencari, menemukan dan membawa “kabar baik” ke Unit Pastoral sehingga mereka mendapat perhatian dan pelayanan adalah Bp. Christoforus Sudrajat Widiarso. (Fransiska FSGM).


____________________________________________________________

KABAR DARI VATIKAN

Perceraian membuat para peserta Sinode terbelah

10/10/2014


Sinode Luar Biasa tentang Keluarga sedang menangani masalah umat yang bercerai dan menikah lagi, lalu menerima Komuni. Bapa-Bapa Sinode telah menangani masalah tersebut – yang telah muncul sesekali dalam diskusi sejak Rabu sore karena mereka bekerja dengan cara mereka melalui Instrumentum Laboris, dokumen kerja Sinode.

Sinode terbelah, antara mereka yang mendukung untuk mengizinkan umat bercerai, lalu menikah lagi dan menerima Komuni dalam kasus-kasus tertentu dan yang lain juga.

Namun, kedua pihak, setia  pada ajaran Yesus tentang belas kasih dan mendukung perkawinan tak terceraikan. Hal ini belum waktunya mempertimbangkan, kami tidak menghitung siapa yang “mendukung” dan yang “menentang” dalam Sinode tersebut, kata Juru Bicara Vatikan Pastor Federico Lombardi.

Dua jalur argumen itu muncul selama konferensi pers harian. Satu jalur “bersikeras apa yang Injil mengatakan tentang pernikahan: jika pernikahan pertama sah, seseorang menikah lagi tidak dapat menerima sakramen tersebut karena harus ada koherensi di antara doktrin dan kesetiaan kepada Sabda Tuhan.

Jalur lain mengingatkan kembali, “Yesus melihat pengalaman manusia dengan mata penuh belas kasih” dan “mempertimbangkan” “perbedaan” dalam setiap “kasus tertentu”, yang menerima Komuni mungkin dalam beberapa kasus.

Namun demikian, “mereka yang paling mempertahankan doktrin, jauh dari mematikan terhadap penderitaan orang menghadapi situasi sulit.” Sebaliknya, mereka yang terbuka dengan mengizinkan menerima Komuni “tidak berarti menyangkal perkawinan tak terceraikan.”

Selama perdebatan Rabu, “penekanan kuat ditempatkan pada pentingnya menghormati umat bercerai, lalu menikah lagi karena mereka sering menemukan diri mereka dalam situasi yang tidak nyaman dan mengalami ketidakadilan sosial; mereka menderita dalam diam dan dalam banyak kasus, mencoba secara bertahap kembali menjadi peserta penuh dalam kehidupan Gereja. Jadi pelayanan pastoral tidak boleh represif, tapi penuh belas kasih.”

Selama debat terbuka Rabu malam, para peserta Sinode mengatakan yang “penting berhati-hati menghindari pertimbangan moral dan berbicara tentang ‘status dosa permanen.” Sebaliknya, sebuah upaya harus dilakukan untuk memahami bahwa tidak menerima Komuni tidak berarti menutup kemungkinan rahmat Kristus, tetapi lebih terkait dengan realitas obyektif dari ikatan sakramental tak terceraikan sebelumnya.

Oleh karena itu, penekanan sering diberikan pada pentingnya persekutuan spiritual. Namun, juga harus digarisbawahi bahwa proposal ini tidak bebas masalah. Tidak ada solusi ‘mudah’ untuk masalah ini. “Hari ini” refleksi tentang menerima Komuni bagi umat bercerai dan menikah lagi.” Peserta Sinode menekankan sekali lagi bahwa perkawinan adalah tak terceraikan, “setiap kasus harus dipertimbangkan secara individual.”

Mereka juga mengingatkan umat bercerai, lalu menikah lagi, “hanya karena mereka tidak boleh menerima Komuni, tidak berarti bahwa mereka bukan anggota komunitas Gereja.”

Pastor  Lombardi mengatakan tidak mungkin pada saat ini berbicara tentang mayoritas atau minoritas suara. “Kami tidak menghitung siapa yang “mendukung” dan “menentang” selama Sinode, dan “mengambil berdasarkan pidato peserta karena Gereja berada dalam perjalanan berbagi pengetahuan dan “semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa hormat.”


Sumber: ucanews.com

http://indonesia.ucanews.com/2014/10/10/perceraian-membuat-para-peserta-sinode-terbelah/


____________________________________________________________

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM

8 Oktober 2014 : PERPECAHAN DI ANTARA ORANG-ORANG KRISTIANI MERUPAKAN LUKA-LUKA DALAM GEREJA




Saudara dan saudari terkasih,

Dalam katekese terakhir, kita berusaha menerangi sifat dan keindahan Gereja, dan kita bertanya pada diri kita sendiri apa yang diperlukan kita masing-masing untuk menjadi bagian dari umat ini. Kita tidak boleh melupakan, bagaimanapun juga, bahwa ada begitu banyak saudara yang berbagi dengan kita iman dalam Kristus, tetapi yang memiliki pengakuan-pengakuan iman lain dan tradisi-tradisi yang berbeda dari kita. Banyak yang menerima nasib terhadap perpecahan ini, yang dalam perjalanan sejarah sering menjadi penyebab konflik dan penderitaan. Bahkan saat ini hubungan-hubungan tidak selalu ditandai dengan rasa hormat dan keramahtamahan ... Dan kita, bagaimana kita mengatasi semua ini? Apakah kita juga menerima nasib jika tidak, pada kenyataannya, acuh tak acuh? Atau apakah kita percaya dengan tegas bahwa kita bisa dan harus berjalan ke arah rekonsiliasi dan persekutuan penuh?

Perpecahan-perpecahan di antara orang-orang Kristiani, seraya melukai Gereja, melukai Kristus. Gereja, pada kenyataannya, adalah Tubuh yang Kristus adalah Kepalanya. Kita mengenal dengan baik betapa Yesus menaruh perhatian agar murid-murid-Nya tetap
bersatu dalam kasih-Nya. Cukuplah memikirkan kata-kata-Nya yang dilaporkan dalam bab 17 Injil Yohanes, doa yang ditujukan kepada Bapa-Nya dalam Sengsara-Nya yang mendekat : "Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita" (Yoh 17:11). Kesatuan ini sudah terancam sementara Yesus masih berada di antara para murid-Nya : dalam Injil, pada kenyataannya, kita diingatkan bahwa para Rasul bertengkar di antara mereka sendiri mengenai siapa yang terbesar, yang terpenting (bdk. Luk 9:46). Tuhan, tetapi, begitu bersikeras pada kesatuan dalam nama Bapa, membuat kita mengerti bahwa pemakluman kita dan kesaksian kita akan menjadi jauh lebih dapat dipercaya semakin kita dapat hidup dalam persekutuan dan saling mengasihi. Alangkah para Rasul-Nya, dengan rahmat Roh Kudus, kemudian sangat memahami dan membawa ke hati, sedemikian sehingga Santo Paulus tiba di titik memohon dengan sangat jemaat Korintus dengan kata-kata ini: "Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir" (1 Kor 1:10).

Selama perjalanannya dalam sejarah, Gereja tergoda oleh Si Jahat, yang mencoba memisahkannya dan, sayangnya, ia telah ditandai oleh pemisahan-pemisahan yang parah
dan menyakitkan. Mereka adalah perpecahan-perpecahan yang kadang-kadang telah berlarut-larut lama dalam waktu, hingga hari ini, sehingga sulitlah pada titik ini untuk menata ulang seluruh motivasi dan terutama untuk menemukan penyelesaian-penyelesaian yang mungkin. Alasan-alasan yang menyebabkan pemutusan-pemutusan dan pemisahan-pemisahan dapat menjadi yang paling beragam: dari perbedaan-perbedaan pada prinsip-prinsip dogmatik dan moral dan pada konsep-konsep teologis dan pastoral yang berbeda, hingga motif-motif kenyamanan politik, hingga perselisihan-perselisihan karena antipati dan ambisi pribadi. Apa yang pasti yaitu, dalam satu atau lain cara, di belakang pencabikan-pencabikan ini selalu ada keangkuhan dan egoisme, yang merupakan penyebab dari seluruh ketidaksetujuan dan yang menyebabkan kita tidak toleran, tidak mampu mendengarkan dan menerima bahwa ada sebuah cara pandang atau sebuah kedudukan yang berbeda dari kita.

Sekarang, dalam menghadapi semua ini, apakah ada sesuatu yang kita masing-masing, sebagai para anggota Gereja Bunda yang Kudus, dapat dan harus lakukan? Tanpa diragukan lagi, doa tidak boleh kurang, dalam keberlanjutan dan dalam persekutuan dengan doa Yesus. Dan, bersama-sama dengan doa, Tuhan meminta kita untuk memperbaharui keterbukaan : Ia meminta kita tidak menutup diri untuk berdialog dan bertemu, selain mengambil segala sesuatu yang sahih dan positif yang ditawarkan kepada kita juga dari orang yang berpikir secara berbeda dari kita atau memiliki kedudukan yang berbeda. Ia meminta kita untuk tidak mengarahkan pandangan kita pada apa yang memisahkan kita, tetapi lebih pada apa yang menyatukan kita, berusaha untuk memahami dan mengasihi Yesus dengan lebih baik dan untuk berbagi kekayaan kasih-Nya. Dan ini mensyaratkan secara nyata kepatuhan kepada kebenaran, bersama-sama dengan kemampuan untuk saling mengampuni, merasakan diri kita bagian dari keluarga yang sama, menganggap diri kita sebuah karunia bagi satu sama lain dan melakukan banyak hal yang baik bersama-sama, banyak karya amal.

Teman-teman, marilah kita berjalan maju sekarang menuju kesatuan penuh! Sejarah telah memisahkan kita, tetapi kita berada di jalan menuju rekonsiliasi dan persekutuan! Dan ketika tujuan mungkin tampak terlalu jauh, hampir tidak terjangkau, dan kita merasakan mangsa keputusasaan, marilah kita didorong oleh pemikiran bahwa Allah tidak bisa menutup telinga-Nya terhadap suara Putra-Nya Yesus dan mendengar doa-Nya dan doa kita, agar semua orang Kristiani benar-benar menjadi satu.

Penutur:

Saya menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, termasuk berbagai kelompok dari Inggris, Wales, Skotlandia, Irlandia, Australia, Slovenia, Norwegia, Finlandia, Nigeria, Arab Saudi, Taiwan, Filipina, Malaysia dan Amerika Serikat. Dalam cara tertentu, sambutan saya tertuju kepada delegasi ekumenis dan antaragama dari Taiwan dan kelompok dari Institutum Romanum Finlandiae. Atas Anda dan keluarga-keluarga Anda, saya memanjatkan sukacita dan damai sejahtera di dalam Tuhan Yesus. Tuhan memberkati Anda semua!

* * *

Saya memberikan sambutan ramah untuk para peziarah berbahasa Italia, khususnya, untuk rohaniwan Pallotine; untuk para mahasiswa Kolose Santo Petrus Rasul; untuk umat dari jemaat-jemaat yang memiliki Santo Vitus Martir sebagai pelindung dan untuk orang-orang muda dari Gerakan Schoenstatt, bertepatan dengan seratus tahun berdirinya, yang akan berangkat ke Koblenz. Saya menyambut Lembaga Nasional Universitas-universitas Abad Ketiga; para korban perang sipil, maupun para promotor Hari Eropa untuk Donasi Organ Tubuh serta saya berharap bahwa dengan cara kesaksian kasih bagi sesama yang tak lazim ini, kepastian donor organ tubuh terjaga dan penyalahgunaan, perdagangan dan jual beli dihindari.

Akhirnya, pikiran khusus tertuju kepada orang-orang muda, orang-orang sakit dan para pengantin baru. Bulan Oktober didedikasikan untuk doa Rosario. Orang-orang muda yang terkasih, panggillah selalu pengantaraan Perawan Maria, agar ia menerangi Anda dalam setiap kebutuhan; orang-orang sakit yang terkasih, terutama Anda dari Kelompok Perawatan dan Rehabilitasi, semoga kenyamanan doa Maria hadir setiap hari dalam hidup Anda; dan Anda, para pengantin baru yang terkasih, perkuatlah ikatan suami-istri Anda dengan doa. ***

 

Sumber:

http://katekesekatolik.blogspot.com/2014/10/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi_9.html#more

 

____________________________________________________________

Mengenang
Sr. ANTONIA, HK
Bandar Lampung, 10 Okt 2014

PEZIARAHAN HIDUP

SEORANG RELIGIUS HK

DALAM SOSOK SUSTER ANTONIA, HK

 

Sepanjang tujuh puluh tiga tahun enam bulan lima hari

 

BATURETNO, 4 APRIL 1941 -

BANDAR LAMPUNG 9 OKTOBER 2014

 


BAHAGIA KITA

Bahagia kita, didalam rumah Bapa kita, mari kita bersama-sama menuju rumahNya.

Sepenggal lagu tersebut mengingatkan kita akan siapa sosok Suster Antonia, HK yang selama ini kurang lebih sembilan tahun ini bergulat dalam kerapuhan fisik, keterbatasan gerak, namun tetap leluasa dan kuat merajut hari-hari di usia lanjutnya dengan berbagi kekayaan rohani dari hidup religiusnya melalui Happy Life Community (HLC) Palembang - Lampung. Lentur, mengikat, setia dan tekun menyatu dalam dirinya seperti kala ia merangkai manik-manik menjadi untaian rosario.

Siapa sebenarnya Suster Antonia, HK?

Kronologi kehidupannya diawali dari kelahirannya pada 4 April 1941 di Bata (mboto) Baturetno dari keluarga Ibu Bapa C. Warsokromo. Sebagai putri tengah dari delapan bersaudara, katulisitasnya diawali saat dipermandikan pada 1 Juni 1941 dan menerima Sakramen Penguatan pada 18 Juni 1950. Sementara itu kehidupan religiusnya sebagai calon Suster belaskasih ditapaki mulai dari masa postulat 3 September 1974, masa novisiat 17 Desember 1974 dan sebagai anggota HK dengan kaul pertamanya pada 14 Desember 1976.

Berlanjut selama masa yunioratnya ia mendapat perutusan rasuli pastoral di komunitas Seputih Banyak (1977-1979), komunitas Palembang dengan perutusan rasuli di Komisi Kepemudaan Keuskupan (1979 - 1989). Dalam kurun waktu tersebut tepatnya 3 Oktober 1983 ia berkaul kekal dan menjadi anggota definitif religius HK. Inisiasi hidup religiusnya dari penerimaan postulan, penerimaan busana biara, kaul pertama, maupun kaul kekal terselenggara di Metro.

Pengembangan diri sebagai religius rasuli HK dipupuk dan diperkuat melalui aneka pembekalan diri yang dijalani dari waktu ke waktu melalui kesempatan diklat maupun kursus seperti : pendamping remaja (1975); pembimbing retret dan pendamping kaum muda (1980); dasar penggerak KKS (1981); bina lanjut (1994); kepemimpinan kristiani  (1996/1997); pastoral keluarga (2003). Sedangkan hidup berkomunitasnya berkelanjutan dengan aneka komunitas seperti: Asrama Borromea (1989-1994) perutusan rasuli asrama; Kalianda (1994-1997) perutusan rasuli piko dan Kepala TK  Xaverius; Godean (1998-1999) perutusan rasuli pastoral; Pondok Raden Patah Sayung (1999-2002) perutusan rasuli kerasulan doa dan pastoral; Poncowati (2002-2004) perutusan rasuli pastoral. Dalam kurun waktu ini Suster Antonia, HK merayakan Pesta Perak keanggotaannya sebagai HK pada tahun 2001.

Kala Kongregasi bertumbuh sejak kemandiriannya pada tahun 1993 dan dalam periode waktu 2001-2005 mengajak seluruh anggotanya dengan pedoman gerak Hidup berkongregasi Hendaklah Terangmu Semakin Bersinar (HTSB), di penghujung tahun 2004 Suster Antonia, HK terdeteksi terkena tumor berbatas tegas di paru-parunya, dan sejak saat itu ia menjalani pengobatan rutin dan intensif. Pengolahan hidup di masa senior (usia lanjut) semakin dimatangkan melalui proses kesadaran dan penerimaan diri kendati mulai mengalami kerapuhan dan aneka keterbatasan, baik fisik, psikologis, sosial maupun kerohanian. Hidup tetap berlanjut sebagai anugerah, daya tarik novisiat dan hadir dengan perutusan keraulan doa maupun pelayanan intern dijalani pada 2004-2005. Sejak Kongregasi mencanangkan kerasulan pokok dari para suster lansia adalah kerasulan doa, perutusan ini berkesinambungan dijalani oleh Suster Antonia, HK di komunitas Bendungan (2005-2009); komunitas Biara Induk (2009-2011); komunitas Hasanudin (2011-2014) dan per 5 Juli 2014 kembali ke komunitas Biara Induk.

Hati yang tergerak oleh Belaskasih (HTBK) merupakan pedoman gerak berkongregasi (periode 2013-2017). Metanoia sebagai perubahan radikal dalam arah pencarian, penegasan dan pelaksanaan kehendak Tuhan menjadi sikap dasar dan orientasi hidup seorang HK yang lahir secara baru dari Cinta Hati Yesus yang Berbelaskasih untuk tumbuh sebagai pribadi pemerhati, pemurah dan pengampun dan melalui kontemplasi refleksi menjadi manusia yang dengan senang hati memelihara sikap rela dan sedia diutus. Amanah ini kita temukan dalam sosok pribadi Suster Antonia, HK yang kendati sejak 2004 terdeteksi penyakitnya dan terus mengupayakan pengobatan dimana dari waktu ke waktu sudah menjadi semakin rapuh, membutuhkan bantuan, perawatan intensif ditangani oleh tenaga ahli khususnya sejak 2012, begitu juga lewat perawatan di ruang Lusia maupun Rumah Sakit. Hal-hal yang kita temukan mengalir dari pribadinya sebagai sosok HK pemerhati, pemurah dan pengampun ada terungkap dari beberapa kesaksian berikut:

*    Guyonan yang dengan sangat relax bisa ia ungkapkan juga dulu ketika masih bersama suster-suster Belanda dengan ciptaan namanya: Sr. Antonia Warinah Sri Rejeki Andang Murwaningsih bla bla bla ..... dimana orang lain sangat sulit menirukan dengan cepat dan membuat tertawa terbahak-bahak.

*    Dalam sakit, derita bahkan rasa sepi hal yang selalu terungkap dari refleksi dirinya adalah kata percaya, sabar dan pasrah. Dalam doa dan permohonannya minta kesembuhan sering kali terselip kerinduan dan imannya sampai kapan aku menerima sakit ini sebagai salib. Rasa sepi sering menggelayuti dirinya dan menjadi peka akan perhatian.

*    Penuh semangat, dedikasi dan mempersembahkan seluruh hatinya untuk pelayanan Tuhan merupakan ungkapan duka cita yang disampaikan oleh Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ beserta para Imam dan umat Keuskupan Agung Palembang.

*    Rajin berdoa, menuliskan refleksi dan membuat ungkapan perasaan hatinya melalui gambar, bahkan saat sakit dan opname, ia menuliskan siapa-siapa yang mengunjunginya dan ketika ditanyakan mengapa demikian, dijawab agar bisa mendoakan sebagai ungkapan terima kasih.

*    Meski didera oleh sariawan yang hebat, kerapuhan tubuh, bahkan patah tulang tetap berusaha mandiri, baru pada saat-saat terakhir dimana sungguh mengalami ketakberdayaan merelakan diri ditolong sepenuhnya.

*    Memiliki dan membangun relasi personal yang baik dan membuat secara leluasa tetap menjalin komunikasi dan persahabatan dengan banyak pribadi dan pihak secara intensif dan positif, meski dalam ketakberdayaan.

*    Aura merah maupun merah jambu tetap menjadi pilihan warna kesayangannya yang dengan spontan diperlihatkan dan mudan dikenali.

 

Di hadapan kita yang kini terbaring, kita kenali Suster Antonia, HK yang ternyata kiprah hidup religiusnya paling lama di Palembang. Perutusan rasulinya di tengah kaum muda, pancaran belarasanya berbagi pengalaman iman dan hidup rohani baik dengan doa maupun refleksi untuk aneka kelompok sasaran, khususnya tahun-tahun terakhir dengan HLC.

Kemenangan pribadinya sampai saat dia dipanggil Tuhan pada Kamis 9 Oktober 2014 pkl. 00.45 adalah sikap batin dalam trilogi yang terungkap melalui kata percaya, sabar dan pasrah sebagaimana terungkap dari isi lampiran doa. Selamat jalan Suster Antonia, HK, terima kasih untuk hidup dan baktimu. Maafkan kami semua dan "berbahagialah engkau di rumah Bapa kita, berjumpa dengan Sang Empunya Cinta Hati yang Berbelaskasih, pujaan dan andalan hidupmu sepanjang waktu".


Bandar Lampung, 10 Oktober 2014,

Salam kasih kami dan memenuhi permintaanmu,

Teman-teman sekongregasi


____________________________________________________________

PESAN PAUS PADA PEMBUKAAN SINODE TTG KELUARGA

Dalam pesan pembukaan Sinode, Paus ingatkan tentang ‘gembala yang buruk’ 06/10/2014

 

Paus Fransiskus membuka Sinode para uskup dari seluruh dunia pada Minggu (5/10) di Vatikan -  dengan mengingatkan tentang “gembala yang buruk” yang terlalu membebani umat beriman.

Paus Fransiskus berbicara dalam homili pada Misa pembukaan Sinode di Basilika Santo Petrus yang berfokus pada perjuangan kehidupan keluarga modern.

Mengacu pada bacaan Misa untuk hari itu dan peringatan Nabi Yehezkiel tentang gembala yang memikirkan diri mereka sendiri, bukan domba mereka, Paus mengatakan sejumlah gembala juga tergoda oleh “keserakahan demi uang dan kekuasaan.”

“Untuk memenuhi keserakahan ini “gembala yang buruk” meletakan beban yang berat di pundak orang lain, yang mereka sendiri menolak,” kata Paus Fransiskus.

Paus juga menjelaskan tentang tujuan Sinode itu diadakan.

“Sinode ini tidak dimaksudkan untuk membahas ide-ide yang indah dan cerdas, atau melihat siapa yang lebih cerdas,” kata Paus Fransiskus.

Menurutnya, “Sinode ini dimaksudkan untuk memelihara kebun anggur Tuhan dengan lebih baik, membantu mewujudkan mimpi-Nya, rencana-Nya, mencintai umat-Nya.”

Kata-kata Paus Fransiskus dalam homilinya tersebut kemungkinan akan bertemu dengan banyak spekulasi atas apa harapan Paus terhadap Sinode itu, dimana sekitar 190 uskup dan kardinal akan membahas topik-topik mengenai kehidupan keluarga dalam sesi tertutup, yang dimulai  pada 6-19 Oktober.

Mengacu pada bacaan Injil Minggu – sebuah perumpamaan dari Yesus dalam Injil Mateus tentang penyewa yang mengambil alih pemilik kebun anggur – Paus Fransiskus mengatakan para uskup juga dapat “tergoda untuk ‘mengambil alih’ kebun anggur.”


Sumber: ucanews


____________________________________________________________