KEUSKUPAN SUFRAGAN TANJUNGKARANG
"Non Est Personarum Acceptor Deus" (Kis 10,34)

RENUNGAN HARIAN

Jumat, 24 Oktober 2014
Hari Biasa Pekan Biasa XXIX
Injil: Luk 12:54-59


RENUNGAN:
“Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilai, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” (Luk 12:56).


Sepintas lalu firman hari ini memberi kesan bahwa Yesus sekadar menegur para murid-Nya – dan kita tentunya – karena tidak menaruh perhatian pada tanda-tanda zaman. Akan tetapi, Dia sebenarnya mendorong kita untuk memandang ke sekeliling kita dan melihat sendiri bagaimana Roh Kudus-Nya bekerja di atas muka bumi. Sepanjang memandang, kita akan melihat dunia dewasa ini sangat menderita kelaparan dan kehausan. Apa yang diderita manusia yang hidup dalam dunia yang materialistik ini adalah kelaparan dan kehausan berkaitan dengan pengenalan akan kasih Allah. Kita-manusia mencoba untuk mengisi kekosongan dalam hidup kita dengan pengganti-pengganti palsu dari cintakasih yang jujur, misalnya uang, sukses, kenikmatan seksual, hal-hal duniawi, narkoba dan alkohol. Sebagai akibatnya, kita tak bisa melihat keberadaan kasih yang dapat memuaskan rasa lapar dan haus kita: …… kasih Allah sendiri!
Kepada kita semua telah diberikan Roh Kudus. Janganlah kita menantikan kedatangan kembali Yesus secara pasif. Sebaliknya, marilah kita berdoa dengan tekun: “Datanglah Kerajaan-Mu; jadilah kehendak-Mu, di atas bumi dan di dalam surga”. Selagi kita menantikan kedatangan kembali sang Kristus Raja, marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar Dia memperbaharui pikiran kita dan memampukan kita memahami kasih-Nya dan karya-karya-Nya. Dengan demikian kita akan lebih siap menyambut kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan dan hati kita tidak tersesat.


DOA:
“Ya Roh Kudus Allah, perbaharuilah pikiran-pikiran kami. Ajarlah kami untuk menantikan kedatangan kembali Kristus dengan penuh pengharapan. Siapkanlah diri kami untuk menanggapi – dalam iman dan ketaatan – apa saja yang diminta oleh Bapa surgawi dari diri kami masing-masing untuk kami kerjakan. Amin.”


JENDELA IMAN
24 Oktober - St. Antonius Maria Claret

Antonius dilahirkan di Spanyol pada tahun 1807. Pada tahun yang sama Napoleon menyerbu Spanyol. Mungkin itu adalah “pertanda” akan peristiwa-peristiwa mendebarkan yang akan terjadi sepanjang hidupnya. Antonius ditahbiskan menjadi seorang imam pada tahun 1835 dan ditugaskan di paroki kota asalnya. Kemudian ia pergi ke Roma dan membantu karya misi. Ia menggabungkan diri dengan Serikat Yesus sebagai novis, tetapi kesehatannya tidak mendukungnya. Ia kembali ke Spanyol dan bertugas sebagai imam. Pastor Antonius melihat seluruh dunia sebagai suatu daerah misi yang luas. Ia memiliki hati seorang misionaris. Ia seorang imam yang berdedikasi tinggi di parokinya. Ia mengadakan seminar-seminar bagi para imam.

Pastor Antonius yakin akan kekuatan karya tulis. Ia menulis sedikitnya 150 buah buku. Bukunya yang paling terkenal, Jalan yang Benar, telah dibaca jutaan orang. Sebagian orang tidak dapat mengerti pemikiran Pastor Antonius. Kesuksesan serta semangatnya membuat mereka khawatir. Mungkin pertentangan tersebut memang diijinkan oleh Tuhan agar imam yang penuh semangat ini dapat mengunjungi Kepulauan Canary pada tahun 1848. Pastor Antonius tinggal di sana selama satu tahun dengan mewartakan Kabar Gembira. Kemudian Pastor Antonius kembali ke Catalonia, Spanyol dan kepada karya penginjilannya di sana. Pada tahun 1849, Pastor Antonius membentuk suatu ordo religius baru yang disebut Putera-putera Misionaris dari Hati Maria Yang Tak Bernoda atau lebih dikenal dengan nama Kongregasi Misionaris Claretian, CMF.

Ratu Isabela II dari Spanyol amat menghormati St. Antonius. Ratu berpendapat bahwa St. Antonius adalah orang yang paling tepat untuk menjadi Uskup Agung Santiago, Kuba. Karya kerasulannya di Kuba menjadi suatu pengalaman selama tujuh tahun yang mendebarkan. Uskup Agung Antonius mengunjungi paroki-paroki, berkhotbah menentang kejahatan sosial, terutama perbudakan. Ia memberkati pernikahan serta membaptis anak-anak. Ia seorang pembaharu dan karenanya mempunyai banyak musuh. Beberapa kali ia menerima ancaman pembunuhan. Namun demikian, ancaman tersebut tidak mampu menghalangi karyanya yang mengagumkan itu hingga ia dipanggil kembali ke Spanyol pada tahun 1857.

Selama menjadi imam, St Antonius juga memimpin sebuah seminari di Madrid. Ia mendirikan sekolah St. Mikhael untuk memajukan karya seni dan kesusasteraan dan bahkan berusaha mendirikan sebuah sekolah pertanian. Ia pergi ke Roma untuk membantu mempersiapkan Konsili Vatikan Pertama pada tahun 1869 dan wafat pada tahun 1870. St. Antonius Maria Claret dinyatakan kudus oleh Paus Pius XII pada tahun 1950.


St. Antonius mendorong yang lain, terutama kaum awam, untuk setia kepada Injil dalam hidup mereka sehari-hari. Berapa sering saya memikirkan apakah kehidupan saya sendiri telah sesuai dengan ajaran Kristus?

http://yesaya.indocell.net/id247_st__antonius_maria_claret.htm


CONVENIAT
Keuskupan Tanjungkarang
14 sd 16 Oktober 2014

Mgr. Yoh. Harun Yuwono sedang memberikan sambutan.

 RP. FX. Heru Atmaja, SCJ sedang memaparkan persoalan-persoalan perkawinan terkait dengan masalah Hukum Perkawinan Gereja Katolik.
 
Romo Purwanto, SCJ sedang mempresentasikan Pastoral Data.

PASTORAL DATA &

PASTORAL PERKAWINAN


Selasa, 14 Oktober 2014 di Wisma Albertus Bandar Lampung berlangsung acara "Conveniat" Keuskupan Sufragan Tanjungkarang. Ada pun pertemuan itu dihadiri oleh hampir seluruh para gembala (pastor & Diakon) yang bekerja di Keuskupan Tanjungkarang dan masih ditambah dengan para frater (diosesan & SCJ) yang sedang menjalani TOPP (Tahun Orientasi Pastoral Panggilan). Pada kesempatan itu hadir pula RD. Kamilus (Praja Pangkalpinang) dan RP Laurentius Sihaloho, OFM Conv. yang akan observasi dan berkarya di wilayah Gereja Katolik Lampung. Hari pertama Conveniat diisi dengan uraian atau penjelasan tentang Teologi Pastoral Data oleh RP FA Purwanto, SCJ (Dosen Dogmatik Fakultas Teolgi Wedhabakti-Yogyakarta) selama setengah hari. Dalam uraiannya antara lain Romo Pur menjelaskan bahwa dengan data-data yang telah kita dapat dari lapangan (paroki-keuskupan) kita bisa melihat gambaran real dari paroki atau keuskupan kita dengan segala kekuatan-kelemahan, potensinya, lalu pastoral apa yang diprioritaskan dan bagaimana pastoral itu dijalankannya.

Pada sore harinya, RP Eko Yuniarto SCJ memimpin rekoleksi hingga makan malam yang ditutup dengan Misa Kudus dengan mengambil tema "Belajar dari Model Kemuridan Maria dalam Komunitas para Murid."

Pada hari kedua, Conveniat dilanjutkan dengan penyegaran kembali Pastoral Perkawinan yang dipandu oleh RP. FX. Heru Atmaja, SCJ (Vikaris Judicial Keuskupan Agung Palembang). Romo Heru mengawali penyegaran ini dengan mengingat kembali pokok-pokok dasar perkawinan sebagai landasan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan perkawinan yang sering terjadi. Banyak pengalaman beliau selama berkarya di bidang itu di-share-kan dalam Conveniat itu. Dan pada hari terakhir para peserta diajak untuk melihat beberapa kasus perkawinan dan berfikir bersama bagaimana langkah-langkah penyelesaiannya. Selama Conveniat berlangsung Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Keuskupan Sufragan Tanjungkarang selalu hadir dan mengikuti pertemuan tersebut. ThS.

Para romo dan frater sedang berdiskusi memecahkan suatu masalah perkawinan.


Pertemuan Pemandu Kitab Suci
Se-Regio Sumatera
08 - 10 Oktober 2014

Foto bersama peserta: (arah jarum jam)
1. di Ruang Pertemuan
2. di Rumah Emiritus dgn Mgr. Henri
3. HUT ke-1 Mgr. Yoh. Harun Yuwono (10 Okt 2014).

Di wisma Albertus, Pahoman – Bandar Lampung pada tanggal 8-10 Oktober 2014 berkumpul sekitar 70 orang yang perwakilan dari enam keuskupan dan paroki-paroki se-Keuskupan Tanjungkarang. Selama tiga hari mereka Mengikuti Pertemuan Pemandu Kitab Suci Se-Regio Sumatera. Dalam pertemuan ini RD. Edy Pasetyo dan RD. Ferdinandus Meo Bupu hadir sebagai narasumber.

            Tanggal 8 Oktober pagi pertemuan khusus para Delegatus Kitab Suci masing-masing keuskupan guna membahas persiapan Bulan Kitab Suci Nasional 2015 dan rencana kegiatan tahun 2015 yang akan diadakan di Keuskupan Sibolga. Sore harinya seluruh peserta memulai kegitan utama.  Rm. Edy sebagai perwakilan dari LBI (Lembaga Biblika Indonesia) memberi pengantar singkat pertemuan ini. Beliau menandaskan pentingnya para pemandu pendalam KS dan memberi  gambaran singkat tentang LBI (Lembaga Biblika Indonesia). Para pemandu menjadi ujung tombak dan sekaligus juga ujung tombok (berani merugi). Untuk itu mereka harus punya semangat pelayan.

            LBI pada awalnya merupakan lembaga milik Fransiskan. Bertolak dari sejarah lembaga ini menjadi instansi otonom dalam hubungannya dengan KWI. Dana yang menghidupi lembaga ini berasal dari Kolekte Minggu Kitab Suci yang dikumpulkan dari keuskupan-keuskupan se-Indonesia. Dana tersebut oleh LBI dikembalikan kepada umat dalam bentuk subsidi Kitab Suci, subsidi kegiatan kaderisasi di tingkat keuskupan dan regio maupun penerbitan buku yang kiranya membantu umat mencintai Kitab Suci dan memperdalam imannya.

            Setelah pengantar singkat dari Rm. Edy, didiskusikan dan diplenokan hambatan dan harapan terkait dengan kerasulan Kitab Suci maupun pemandu pendalaman Kitab Suci. Dari pleno yang disampaikan masing-masing kelompok muncul banyak hambatan yang dihadapi dan harapan dari kegiatan ini maupun kemajuan yang lebih baik dalam kehidupan Gereja terkait dengan Kitab Suci.

Pada hari kedua para peserta mendapat masukan materi dari 2 narasumber. Rm. Meo membagikan pengalaman dalam membaca Kitab Suci. Beliau menandaskan bahwa dalam belajar Kitab Suci ada tiga hal penting: membaca, membaca dan membaca. Dalam membaca Kitab Suci perlu diperhatikan konteks teks atau perikop yang kita baca. Selain itu dalam membaca Kitab Suci diperlukan konsentrasi dan ketelitian. Rm. Meo mengibaratkan dalam membaca Kitab Suci pembaca menempatkan diri sebagai orang yang masih belajar membaca. Hal ini menjadi penting karena banyak detail yang harus dicermati dalam teks Kitab Suci.

Menyusul kemudian pada sessi berikut, Rm. Edy dengan materinya tentang Pemandu Pendalaman di Lingkungan. Ditekankan bahwa pemandu merupakan fasilatator yang menjadikan pertemuan menjadi lancar. Agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik para pemandu harus memiliki  kemampuan, kepribadian maupun spiritualitas yang mendukung. Rm. Edy juga menyampaikan tugas pemandu pendalaman. Pada bagian akhir disampaikan beberapa model pendalaman yang bisa dijalankan. Ketujuh model itu ialah Model Tujuh Langkah, Model Lectio Divina,  Model Biasa,  Model Group Respons,  Model Look-Listen-Love,  Model Amos, dan  Model T – A - T.

Setelah mendapat masukan dari pemateri, para peserta diminta untuk berlatih menyiapkan bahan pendalaman dan kemudian apa yang telah dirumuskan dalam masing-masing kelompok diplenokan. Merupakan suatu kegembiraan, walaupun dalam waktu yang terbatas masing-masing kelompok mampu membuat persiapan yang cukup memadai.  Dari proses tersebut diharapankan para peserta kegiatan bisa membuat bahan pendalaman Kitab Suci yang berguna bagi kehidupan iman umat.

Pada hari terakhir para peserta mengikuti Perayaan Ekaristi dalam rangka ulang tahun yang pertama Tahbisan Uskup Mgr. Yohanes Harun Yuwono di Gereja Kristus Raja - Tanjungkarang. Setelah perayaan Ekaristi para peserta masih mengikuti bagian akhir kegiatan yakni kesimpulan dan evaluasi. Sebagai bentuk kebersamaan setelah seluruh rangkaian acara terselesaikan para peserta ‘jalan-jalan’ ke Gua Maria Padang Bulan, mengunjungi Bapa Uskup Emeritus Mgr. Andreas Henrisoesanta, SCJ serta mengunjungi makam Uskup Pertama Tanjungkarang Mgr. Albertus Hermelink, SCJ. *** Isabela FSGM



Sinode Berakhir dengan Mempertegas
Ajaran Gereja



Vincent Kardinal Nichols dari Westminster, Inggris, berbicara dengan Raymond Kardinal Burke, pejabat Vatikan.

 




21/10/2014

Setelah beberapa hari perdebatan terkait laporan pertengahan sinode, Sinode Uskup tentang Keluarga menyepakati dokumen akhir berdasarkan pada ajaran Gereja. Namun, Sinode itu gagal mencapai konsensus mengenai pertanyaan-pertanyaan terutama isu-isu kontroversial seperti umat Katolik bercerai dan menikah lagi secara sipil lalu menerima Komuni, serta pelayanan pastoral bagi pasangan sejenis.

Diskusi-diskusi di aula Sinode telah memanas setelah  laporan pengantar jangka menengah pada 13 Oktober menggunakan bahasa yang kurang etis terhadap orang-orang dengan cara hidup bertentangan dengan ajaran Gereja, termasuk umat Katolik bercerai dan menikah lagi secara sipil, kumpul kebo dan pernikahan sesama jenis.

Ringkasan dari diskusi kelompok, yang diterbitkan pada 16 Oktober, menunjukkan mayoritas Bapa-Bapa Sinode menginginkan dokumen akhir untuk lebih mempertegas ajaran Gereja dan memberi perhatian lebih pada keluarga-keluarga yang hidupnya mengikuti ajaran Gereja.

Laporan akhir, dimana Bapa Suci memerintahkan untuk diterbitkan menyusul kesimpulan sinode, menampilkan lebih banyak kutipan dari Kitab Suci, serta referensi pada Katekismus Gereja Katolik dan ajaran Beato Paus Paulus VI, Santo Yohanes Paulus II, dan Paus Emeritus Benediktus XVI.

Bapa-Bapa Sinode memilih pada masing-masing dokumen dengan 62 paragraf. Mayoritas menerima semuanya, tapi tiga Bapa Sinode tak setuju, namun telah mendapatkan dua pertiga mayoritas yang biasanya diperlukan untuk persetujuan dokumen sinode.

Dua dari paragraf tersebut berhubungan dengan sebuah proposal dari Walter Kardinal Kasper dari Jerman yang akan membuat lebih mudah bagi umat Katolik bercerai dan menikah lagi secara sipil lalu menerima Komuni. Dokumen itu mencatat perbedaan pendapat tentang topik dan direkomendasikan akan dikaji lebih lanjut.

Bagian dokumen tentang homoseksualitas, yang juga mendapat persetujuan supermayoritas, secara signifikan mengubah laporan paruh sinode. Judul asli – “menyambut kaum homoseksual” – diubah menjadi “pelayanan pastoral kepada orang-orang dengan orientasi homoseksual.”

Pastor Federico Lombardi, juru bicara Vatikan, mengatakan kepada para wartawan bahwa tidak ada supermajoritas menunjukkan kurangnya konsensus dan membutuhkan diskusi lebih lanjut, namun ia menekankan bahwa tidak ada dokumen yang menjadi beban doktrinal. Laporan akhir sinode akan berfungsi sebagai agenda untuk Oktober 2015 berkaitan dengan sinode dunia tentang keluarga, yang akan membuat rekomendasi kepada Bapa Suci.

Paus Fransiskus mengatakan ia menyambut ekspresi tak setuju dari sinode itu.

Sementara meyakinkan majelis bahwa kesatuan Gereja tidak dalam bahaya, Paus Fransiskus memperingatkan terhadap beberapa godaan yang katanya telah hadir selama dua minggu sinode.

Uskup Agung Joseph E. Kurtz dari Louisville, Kentucky, ketua presiden Konferensi Waligereja Amerika Serikat, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia “bersyukur bahwa klarifikasi dan pendalaman refleksi alkitabiah dan teologis muncul secara konsisten” melalui laporan akhir.


Sumber: ucanews.com



RENUNGAN HARIAN

Kamis, 23 Oktober 2014

Hari Biasa Pekan Biasa XXIX

Injil: Luk 12:49-53

 

RENUNGAN:

Kita pada umumnya mencari damai bahkan dalam Tuhan kita Yesus.  Namun Yesus bersabda: “Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan” (Luk 12:51).

Injil Yesus rupanya bukanlah sekadar sebuah pesan damai-sejahtera dan sukacita, melainkan juga mengenai perpecahan dan pertentangan.

Yesus Kristus, sang Raja Damai, ingin agar kita memahami bahwa damai-sejahtera-Nya akan memenuhi diri kita bila kita mengikuti Dia di jalan-Nya. Yesus juga ingin agar kita memahami bahwa kemuridan Kristiani itu mahal biayanya; bahkan dapat menyebabkan perpecahan serta pertentangan dalam keluarga. Walaupun begitu, bahkan dalam keadaan yang paling sulit dan genting sekali pun, Yesus memerintahkan kita – dan memberdayakan kita – untuk mengasihi musuh-musuh kita dan mendoakan mereka yang menganiaya kita. Inilah pilihan dan berkat bagi kita di tengah konflik keluarga yang terjadi dalam kehidupan kita. Mengasihi musuh kita memang tidak mudah, namun hal itu akan mengalir secara bebas apabila kita mengingat belas-kasih Allah atas diri kita, dan menempatkan iman dalam kehadiran Roh-Nya dalam diri kita.

Yesus mengutus Roh Kudus – api cintakasih Allah – untuk mencerahkan pikiran kita agar dapat memahami kebenaran-kebenaran Kerajaan-Nya. Jikalau kita setia kepada Yesus dalam doa-doa harian dan pembacaan serta permenungan Kitab Suci, dan selagi kita berpartisipasi dalam liturgi-liturgi gereja kita dan pelayanan-pelayanan gerejawi lainnya, maka kita akan mengenali dan mengalami kehadiran Roh-Nya dalam diri kita masing-masing. Ia akan memperkuat dan membimbing kita melalui setiap konflik dan perjuangan.

 

DOA:

“Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkau memang pantas dan layak dikasihi dan senantiasa dimuliakan oleh semua orang. Jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu yang kudus, dan penuhilah pikiran kami dengan kebenaran-kebenaran-Mu. Amin.”


JENDELA IMAN
23 Oktober - St. Yohanes dari Capestrano

St. Yohanes dari Capestrano dilahirkan di Italia pada tahun 1386. Ia seorang pengacara dan gubernur kota Perugia. Ketika para musuh yang menyerang kotanya menjebloskannya ke dalam penjara, Yohanes mulai berpikir tentang arti hidup yang sebenarnya. Para musuh politik Yohanes tidak ingin segera membebaskannya. Jadi, Yohanes punya banyak waktu untuk menyadari bahwa hal yang paling penting adalah keselamatan jiwa. Ketika pada akhirnya sekonyong-konyong ia dibebaskan, Yohanes masuk ke sebuah biara Fransiskan. Usianya tiga puluh tahun ketika itu. Bagi Yohanes, hidup sebagai seorang biarawan miskin sungguh merupakan suatu tantangan yang berat. Ia harus mengorbankan kebebasannya demi cintanya kepada Yesus. Dan ia berusaha melakukannya dengan segenap hatinya.

Setelah ditahbiskan menjadi seorang imam, Yohanes diutus untuk berkhotbah. Ia dan St. Bernardinus dari Siena, yang tadinya pembimbing novisnya, menyebarluaskan devosi kepada Nama Yesus yang Tersuci ke berbagai tempat. Yohanes berkhotbah menjelajahi Eropa selama empat puluh tahun. Semua orang yang mendengar khotbahnya tergerak hatinya untuk mengasihi serta melayani Kristus dengan lebih baik.

Suatu peristiwa terkenal dalam hidup orang kudus ini terjadi saat peperangan Belgrade. Turki telah bertekad untuk menguasai Eropa serta membinasakan Gereja Yesus. Paus mengutus St. Yohanes dari Capestrano untuk pergi menghadap semua raja Kristen di Eropa untuk memohon agar mereka bersatu dalam menghadapi pasukan Turki yang amat kuat. Para raja taat kepada biarawan yang miskin serta bertelanjang kaki ini. Ia mengobarkan cinta mereka kepada Tuhan serta menyemangati mereka dengan kata-katanya yang berapi-api. Namun demikian, meskipun suatu balatentara Kristen yang besar bersatu untuk melawan Mohamad II dan pasukan Turkinya, tampaknya mereka akan kalah. Pasukan musuh jauh lebih besar jumlahnya. Pada saat itulah Yohanes sendiri, meskipun usianya telah tujuhpuluh tahun, lari ke garis depan untuk membakar semangat pasukannya agar terus bertempur. Dengan mengangkat salibnya tinggi-tinggi, orang tua yang kurus kecil ini terus berteriak, “Menang, Yesus, menang!” Dan para laskar Kristen itupun merasa jauh lebih bersemangat dari sebelumnya. Mereka bertempur hingga pasukan musuh lari ketakutan.

St. Yohanes dari Capestrano meninggal tidak selang lama kemudian, pada tanggal 23 Oktober 1456. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1724.

“(Para imam) telah ditempatkan di sini untuk memberikan perhatian kepada sesamanya. Hidupnya sendiri haruslah menjadi teladan bagi sesamanya, dengan menunjukkan bagaimana mereka harus hidup di dalam rumah Tuhan.” 
http://yesaya.indocell.net/id247_st__yohanes__dari_capestrano.htm

RENUNGAN HARIAN

Rabu, 22 Oktober 2014

Hari Biasa Pekan Biasa XXIX

INJIL: Luk 12:39-48

 

 

RENUNGAN:

“Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.....Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.

“Nasib” (kalau boleh dikatakan nasib) setiap manusia adalah “pasti akan mati”. Mati adalah upah dosa dan setiap orang pasti berdosa maka kematian tak terhindarkan. Namun datangnya kematian itu tidak ada yang tahu. Fakta menunjukkan bahwa hampir semua orang takut mati dan senang kalau hidup bahkan kalau bisa hidup (se)lama(nya). Silahkan bertanya diri: apakah aku menginginkan kematian? Pasti tidak jawabannya, kecuali orang yang frustasi atau putus asa.

Bagi orang beriman seharusnya tidak takut akan kematian karena yang namanya kematian pasti dikehendaki Allah. Dialah Sang Pemberi kehidupan dan sekaligus yang berhak mengambil kehidupan kita. Yang penting dan harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk selalu siap menyongsong kedatangan Anak Manusia itu. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan melakukan apa yang menjadi tugas dan kewajiban kita sebagai orang beriman, yakni mencari, menemukan dan melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Allah akan menyelamatkan kita bila disposisi kita seperti itu. Kapan selesai? Tak pernah selesai.... yang jelas adalah “berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.”

Mencari untuk menemukan kehendak Allah paling “mudah” (sederhana) adalah dengan membaca dan merenungkan Sabda Tuhan lewat Kitab Suci. Tetapi kita harus mengakui bahwa berapa banyak orang beriman yang melakukan hal itu? Tidakkah terkadang kita pun termasuk orang seperti itu? Itulah kelemahan kita. Maka, mulai sekarang marilah kita membangun suatu niat dan tekad untuk memperbaiki diri, bertobat!

 

DOA:

“Ya Tuhan, berilah aku kekuatan utk bertobat sehingga dapat selalu mencari, menemukan dan melakukan apa yag menjadi kehendak-Mu. Amin.”


JENDELA IMAN
22 Oktober - B. Timotius Giaccardo

Yosef Giaccardo dilahirkan pada tanggal 13 Juni 1896 di Narzole, Italia. Kedua orangtuanya adalah petani yang giat bekerja. Yosef mewarisi kebiasaan-kebiasaan baik mereka, termasuk mencintai iman Katolik mereka. Yosef berdoa kepada Yesus dalam Sakramen Ekaristi dan kepada Bunda Maria. Ada padanya sebuah patung kecil Bunda Maria di atas sebuah rak di kamarnya. Yosef menjadi putera altar yang setia melayani dalam Misa Kudus. Demikianlah ia bertemu dengan seorang imam muda yang datang membantu di Gereja St Bernardus. Imam muda ini hendak mendirikan suatu ordo religius baru yang mengagumkan, yakni Serikat St Paulus. Nama imam muda ini ialah Yakobus Alberione. Yosef amat mengasihinya, sebaliknya sang imam juga amat terkesan pada Yosef. Ia membimbing Yosef dalam kehidupan rohani. Di kemudian hari, Yosef masuk seminari di Alba. Pada tahun 1917, ketika masih seorang seminaris, Yosef memohon ijin pada bapa uskup untuk meninggalkan seminari. Ia ingin menggabungkan diri pada ordo baru yang dibentuk P Alberione. Dengan berat hati bapa uskup mengijinkan Yosef meninggalkan seminari dan menggabungkan diri dalam Serikat St Paulus.
Yosef mengucapkan kaulnya pada tahun 1920. Ia memilih nama Timotius sesuai nama murid yang paling dikasihi St Paulus. Timotius Giaccardo ditahbiskan dua tahun kemudian sebagai imam pertama dalam kongregasi baru P Alberione. Ordo ini baru saja didirikan pada tahun 1914.

Panggilan khusus P Giaccardo sebagai seorang imam Pauline adalah menjadi seorang rasul media. Ia menulis, mengedit, mencetak dan menyebarluaskan Sabda Allah. Ia melakukan banyak tugas tanggung-jawab dengan gagah berani dan penuh kerendahan hati. Sebagian orang tidak paham akan karya kerasulan Serikat St Paulus dan Puteri-puteri St Paulus. Mereka heran bagaimana para imam, para biarawan dan biarawati dapat menjadi penerbit. Bagaimana mereka dapat mempergunakan media sebagai sarana untuk mewartakan Kabar Gembira? P Giaccardo membantu orang memahami panggilan mengagumkan kaum religius Pauline. Ia adalah juga seorang guru besar bagi para imam dan kaum religius yang terpanggil pada karya kerasulan baru ini. Ia melayani Tuhan di Italia utara dan di Roma. Ia menjadi rekan terdekat P Alberione. Sesungguhnya P Alberione menyebut B Timotius sebagai “yang paling setia dari yang setia”. Tetapi Timotius tidak menjadi penerus Pendiri Pauline sebagaimana diharapkan P Alberione. Timotius sakit parah karena leukemia. Ia wafat pada tanggal 24 Januari 1948. Ia dimaklumkan “beato” oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 22 Oktober 1990.

Timotius Giaccardo adalah anggota Serikat St Paulus, suatu komunitas yang didirikan untuk mempergunakan sarana-sarana komunikasi modern untuk menyebarluaskan Kabar Gembira Yesus Kristus. Bagaimanakah aku mengkomunikasikan nilai-nilai Injil dalam hidupku? Seberapa seringkah aku memikirkan nilai-nilai apakah yang disajikan dalam media yang aku gunakan (film, koran, website, dll)?

http://yesaya.indocell.net/id247_b__timotius_giaccardo.htm


HOMILI PAUS

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 21 Oktober 2014 : DIPERSATUKAN DALAM ALLAH, KITA BUKANLAH PULAU-PULAU TANPA NAMA

Bacaan Ekaristi :

Ef 2:12-22;

Luk 12:35-38


Paus Fransiskus mengatakan "seorang Kristiani adalah seorang yang tahu bagaimana menunggu Yesus menumbuhkan sebuah harapan yang kukuh dalam Keselamatan” dalam homilinya selama Misa harian Selasa pagi 21 Oktober 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan. Merenungkan bacaan-bacaan liturgi hari itu, Injil Lukas (12:35-38) dan Surat Santo Paulus kepada jemaat di Efesus (Ef 2:12-22), Paus Fransiskus mengatakan umat Allah dipersatukan dalam Kristus, bersyukur kepada-Nya memiliki sebuah nama, dan mengatasi setiap kebencian.

Mengutip dari Injil Lukas, Paus Fransiskus mengatakan "berbahagialah hamba-hamba yang menunggu kepulangan tuan mereka dari pernikahan dengan pelita menyala". Dalam adegan yang mengikuti – beliau melanjutkan - Yesus memiliki hamba-hamba bersandar di meja dan terus menunggu. Pelayanan pertama yang ditunjukkan Sang Guru bagi orang-orang Kristiani, adalah memberi mereka "jatidiri". Tanpa Kristus - Paus Fransiskus mengatakan - kita tidak memiliki jatidiri.

Dan beliau merenungkan kata-kata Santo Paulus yang di dalamnya ia memberitahu orang-orang kafir untuk mengingat bahwa tanpa Kristus, mereka terasing dari masyarakat Israel.

Apa yang dilakukan Kristus yang datang – beliau menjelaskan - adalah untuk memberikan kewarganegaraan, suatu kepemilikan terhadap umat, sebuah nama dan sebuah nama keluarga. Jadi dari menjadi musuh tanpa damai – beliau berkata - Kristus telah mengubah kita menjadi satu oleh darah-Nya, meruntuhkan tembok-tembok yang memisahkan.

"Kita semua tahu bahwa ketika kita tidak berada dalam damai dengan orang lain, ada sebuah tembok. Ada sebuah tembok yang memisahkan kita. Tetapi Yesus menawarkan kita pelayanan untuk meruntuhkan tembok ini sehingga kita dapat bertemu. Dan jika kita terpisah, kita bukan teman: kita adalah musuh. Dan Ia telah mendamaikan kita semua dalam Allah. Ia telah mendamaikan kita sebagai teman, sebagai musuh, sebagai orang asing, sebagai anak laki-laki dan anak perempuan".

Dari hanya menjadi orang-orang di jalan, orang-orang yang bahkan bukan tamu - Paus Fransiskus mengatakan - menjadi "kawan sewarga dengan orang-orang kudus dan anggota-anggota rumah tangga Allah". Inilah apa yang diciptakan Allah dengan kedatangan-Nya. Tapi apa syarat-syarat-Nya? - Paus Fransiskus bertanya - "mereka adalah menunggu-Nya, seperti hamba-hamba menunggu tuan mereka".
 
"Menunggu Yesus. Barangsiapa yang tidak menunggu Yesus, yang menutup pintunya bagi Yesus, tidak memperbolehkan-Nya maju dengan karya perdamaian, karya masyarakat, karya kewarganegaraan-Nya. Dan Ia melakukan lebih: Ia memberi kita sebuah nama. Ia menjadikan kita anak-anak Allah. Kita perlu mengambil sikap yang berisi harapan Kristiani. Seorang Kristiani adalah seorang laki-laki atau seorang perempuan harapan. Ia tahu Tuhan akan datang. Kita tidak tahu kapan, kita tidak tahu pukul berapa, tetapi Ia akan datang dan Ia tidak harus menemukan kita terpisah. Ia harus mendapati kita seperti Ia menjadikan kita dengan pelayanan-Nya : sahabat-sahabat yang tinggal dalam damai".

Pada titik ini - Paus Fransiskus mengakhiri - ada pertanyaan lain yang harus diajukan seorang Kristiani pada dirinya sendiri: bagaimana saya menunggu Yesus? Dan pertama-tama : "Akankah saya menunggu-Nya atau tidak?": "Apakah saya memiliki iman dalam harapan ini bahwa Ia akan datang? Apakah hati saya terbuka untuk mendengarkan-Nya mengetuk pintu, untuk mendengarkan-Nyaa memasuki pintu? Seorang Kristiani adalah seorang laki-laki atau seorang perempuan yang tahu bagaimana menunggu Yesus. Ia adalah seorang harapan. Sebaliknya seorang kafir - dan begitu sering kita orang-orang Kristiani bersikap seperti orang-orang kafir - melupakan Yesus, berpikir tentang dirinya sendiri, tidak menunggu Yesus. Pagan yang egois berperilaku seakan-akan ia sendiri adalah seorang dewa: ‘Saya memperlakukan milik saya sendiri'. Dan ia tidak berakhir dengan baik, ia berakhir tanpa sebuah nama, tanpa kedekatan, tanpa kewarganegaraan".


http://pope-at-mass.blogspot.com/2014/10/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-21.html#more

RENUNGAN HARIAN

Selasa, 21 Oktober 2014
Hari Biasa Pekan Biasa XXIX
Injil: Luk 12:35-38


RENUNGAN:
“Apabila ia datang pada tengah malam atau pada dini hari dan mendapati mereka berbuat demikian, maka berbahagialah mereka.”  Kita harus selalu tetap mengenakan baju kerja kita dengan pelita yang bernyala. Hal ini bukan hanya berarti bahwa berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan tuan kita, melainkan juga senantiasa memperhatikan diri kita sendiri dan hidup-iman kita. Satu cara praktis untuk melakukan “cek iman” adalah untuk menanyakan kepada diri kita sendiri beberapa pertanyaan mendasar berkaitan dengan area-area kunci kehidupan kita. Peninjauan kembali secara regular ini dapat mendorong kita kepada kesetiaan yang lebih besar – asalkan kita melakukannya dengan penuh keyakinan akan kasih penuh kerahiman dari Tuhan, dan bukan dengan rasa takut akan hukuman-Nya.
Marilah kita memeriksa kembali hubungan kita dengan sesama kita. Juga periksalah relasi anda dengan Tuhan, misal dengan bertanya diri: Apakah aku jujur terhadap Tuhan? Apakah aku bertumbuh dalam hal kesadaranku akan belas kasih Allah? Apakah aku bersedia menerima belas kasih dari Allah yang akan mendorong aku untuk berbelaskasih kepada sesama?
Periksalah juga tanggung-jawab anda: Apakah aku sungguh berniat menjadi hamba yang setia selagi aku melaksanakan pekerjaan yang telah dipercayakan Allah kepadaku? Apakah aku melihat Tuhan dalam orang-orang yang kujumpai setiap hari? Apakah tindakan-tindakanku menyampaikan kasih Allah dan kehangatan kepada orang-orang lain? Berbicaralah dengan Tuhan mengenai rencana-rencana dan pekerjaan-pekerjaan anda. Anda juga harus memandang ke depan, yaitu kepada situasi khusus yang anda harapkan dan memohon agar Dia ada bersama anda.


DOA:
“Ya Tuhan Yesus, dikuatkan oleh kuasa Roh Kudus-Mu, aku berdiri sekarang siap untuk menyambut-Mu pada saat Engkau datang kembali. Amin.”



JENDELA IMAN
St. Hilarion - 21 Oktober

Hilarion hidup pada abad keempat. Ia seorang remaja yang tidak percaya ketika meninggalkan rumahnya di Palestina. Ia sedang dalam perjalanan ke Mesir untuk bersekolah. Di sana ia belajar mengenai iman Kristiani, dan segera ia dibaptis. Hilarion baru berumur limabelas tahun pada waktu itu. Pertobatannya merupakan awal dari suatu perjalanan gemilang yang menghantarnya semakin akrab dengan Tuhan. Tak lama berselang, ia pergi mengunjungi St Antonius yang terkenal itu di padang gurun. Hilarion ingin bersendiri dan melayani Yesus yang baru saja ia kasihi dengan begitu mendalam.
Hilarion tinggal bersama St Antonius selama dua bulan lamanya, tetapi tempat itu tidak cukup tenang baginya. Banyak orang berdatangan mohon pertolongan St Antonius. Hilarion tidak dapat menemukan kedamaian yang ia rindukan, sebab itu ia pergi. Setelah memberikan segala yang ia miliki kepada orang-orang miskin, ia pergi ke alam liar untuk hidup sebagai seorang pertapa.

Hilarion harus berjuang melawan banyak pencobaan. Kadang kala, ia merasa, seolah tak satu pun dari doa-doanya yang didengarkan Tuhan sama sekali. Walau demikian ia tidak membiarkan godaan-godaan ini membuatnya berhenti berdoa dengan terlebih sungguh. Setelah duapuluh tahun di padang gurun, orang kudus ini mengadakan mukjizatnya yang pertama. Segera saja banyak orang mulai berdatangan ke gubugnya untuk memohon pertolongan. Beberapa orang minta diperbolehkan tinggal bersamanya untuk belajar darinya bagaimana berdoa dan bermatiraga. Dalam kedalaman kasihnya kepada Tuhan dan sesama, ia mengundang mereka untuk tinggal. Tetapi, pada akhirnya, ketika usianya enampuluh lima tahun, ia mulai berkelana. Ia pergi dari satu negeri ke negeri lainnya demi mencari kedamaian dan ketenangan. Namun demikian, mukjizat-mukjizat belas kasihnya yang tersohor senantiasa mengundang banyak orang berdatangan. Beberapa tahun menjelang wafatnya pada tahun 371, Hilarion pada akhirnya merasakan bahwa ia sungguh-sungguh sendiri bersama Tuhan. Usianya delapanpuluh tahun ketika ia wafat.

Nilai kesendirian sungguh berarti bagi orang kudus ini. Adakah aku menyisihkan suatu waktu sepanjang hari yang aku lewatkan di mana aku dapat sendiri bersama Tuhan?

http://yesaya.indocell.net/id247_st__hilarion.htm


JENDELA IMAN
20 Oktober - St. Irene dari Portugal, Martir


Irene dilahirkan dalam sebuah keluarga terpandang di Tomar, Portugal. Sebab menghendaki yang terbaik bagi puteri mereka, orangtuanya mengirimkan Irene bersekolah di biara. Kecantikannya membuat dua laki-laki terpikat kepadanya, tetapi Irene dengan halus menolak, sebab ia telah menjadi Mempelai Kristus. Karena sakit hati, seorang dari mereka menyebarluaskan fitnah bahwa Irene berbuat tidak pantas. Kabar busuk segera menyebar ke seantero kota dan memancing kemarahan laki-laki lainnya yang cintanya ditolak. Ia menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi riwayat biarawati yang jiwanya jauh lebih cantik dari parasnya itu. Irene ditikam hingga tewas dan mayatnya dicampakkan ke Sungai Tagus. Para biarawati lain mencari dan mencari tetapi tak dapat menemukannya. Dibimbing sinar ajaib, para biarawan Benediktin menemukan jenazah Irene yang tidak rusak dekat kota Scalabris. Mereka memakamkannya secara pantas. Penduduk di sana memberikan penghormatan mendalam kepada Irene hingga mengubah nama kota mereka, Scalabris, menjadi Santarem [= Santa Irene]. St Irene wafat pada tahun 653.
Renungan:

Allah adalah kasih. Allah tidak bisa tidak mengasihi. Itulah pengalaman semua rasul dan para martir. Hanya, dari pihak manusia kasih kepada Tuhan dan kepada sesama dapat tidak awet bahkan dapat musnah. Irene, seorang perempuan cantik jelita, karena kasihnya kepada Kristus lebih suka mempersembahkan diri kepada Kristus daripada menjadi isteri orang kaya. Akibat pilihan hidupnya itu, ia tewas dibunuh oleh pembunuh bayaran. Jadi, di manakah terletaknya kasih Kristus? Tentu saja dalam hidup kekal; itulah tujuan akhir hidup kita. Orang beriman sejati akan tetap mengasihi Tuhan karena kasih setia-Nya. “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu” (Mazmur 13:6).

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka4/id30.htm


HOMILI PAUS

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA BEATIFIKASI PAUS PAULUS VI DAN PENUTUPAN SINODE PARA USKUP 19 Oktober 2014

Bacaan Ekaristi :

Yes 45:1,4-6; 1Tes1:1-5b; Mat 22:15-21

Kita baru saja mendengar salah satu frasa yang paling terkenal dalam seluruh Injil: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah" (Mat 22:21).

Terdorong oleh orang-orang Farisi yang ingin, seakan-akan, memberi-Nya sebuah ujian dalam agama dan menangkap-Nya dalam kesalahan, Yesus memberikan jawaban yang ironis dan cerdas ini. Ini adalah sebuah frasa yang mencolok yang telah diwariskan Tuhan kepada semua orang yang mengalami keraguan hati nurani, terutama ketika kenyamanan mereka, kekayaan mereka, harga diri mereka, kekuasaan mereka dan reputasi mereka dipertanyakan. Hal ini terjadi sepanjang waktu; itu selalu terjadi.

Tentu saja Yesus menempatkan tekanan pada bagian kedua frasa tersebut : "dan (berikan) kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah". Panggilan ini untuk menyatakan dan mengakui - dalam menghadapi kekuasaan apapun - bahwa Allah sendiri adalah Tuhan umat manusia, bahwa tidak ada yang lain. Ini adalah kebaruan abadi yang ditemukan setiap hari, dan memerlukan penguasaan rasa takut yang sering kita rasakan pada kejutan-kejutan
Allah.

Allah tidak takut akan hal-hal baru! Itulah mengapa Ia terus sedang mengejutkan kita, sedang membuka hati kita dan sedang membimbing kita dalam cara yang tak terduga. Ia memperbaharui kita: ia terus menjadikan kita "baru". Seorang Kristiani yang menghayati Injil adalah "kebaruan Allah" dalam Gereja dan dalam dunia. Betapa Allah mengasihi "kebaruan" ini!

"Berikan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah" berarti taat kepada kehendak-Nya, mengabdikan hidup kita kepada-Nya dan bekerja untuk kerajaan belas kasih, kasih dan damai-Nya.

Di sinilah kekuatan sejati kita ditemukan; di sinilah ragi yang membuatnya tumbuh dan garam yang memberikan rasa bagi semua upaya kita untuk memerangi pesimisme lazim yang diusulkan dunia kepada kita. Di sini juga adalah tempat harapan kita ditemukan, karena ketika kita menaruh harapan kita kepada Allah kita tidak sedang melarikan diri dari kenyataan maupun sedang mencari alibi: sebaliknya, kita sedang berusaha memberikan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah. Itulah sebabnya kita orang-orang Kristiani melihat ke masa depan, masa depan Allah. Hal ini agar kita dapat menjalani hidup ini menuju yang paling penuh - dengan kaki kita tertanam kuat di tanah - dan menanggapi dengan berani apa pun tantangan-tantangan baru yang mendatangi jalan kita.

Dalam hari-hari ini, selama Sinode Luar Biasa Para Uskup, kita telah melihat bagaimana sesungguhnya hal ini. "Sinode" berarti "melakukan perjalanan bersama-sama". Dan memang para gembala dan umat awam dari setiap bagian dari dunia telah datang ke Roma, membawa suara Gereja-gereja partikular mereka untuk membantu keluarga-keluarga saat ini berjalan di jalan Injil dengan pandangan mereka tertuju kepada Yesus. Ini telah menjadi sebuah pengalaman luar biasa, yang di dalamnya kita telah menghayati sinodalitas dan kolegialitas, dan merasakan kuasa Roh Kudus yang terus-menerus membimbing dan memperbaharui Gereja. Karena Gereja dipanggil untuk tidak membuang-buang waktu dalam pencarian untuk membalut luka-luka menganga dan untuk menghidupkan kembali harapan dalam begitu banyak orang yang telah kehilangan harapan.

Untuk karunia Sinode ini dan untuk semangat membangun yang telah ditunjukkan setiap
orang, dalam kesatuan dengan Rasul Paulus "kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami" (1 Tes 1:2). Semoga Roh Kudus, yang selama hari-hari sibuk ini telah memungkinkan kita untuk bekerja dengan murah hati, dalam kebebasan sejati dan kreativitas yang rendah hati, terus membimbing perjalanan yang, dalam Gereja-gereja di seluruh dunia, sedang membawa kita ke Sinode Biasa Para Uskup pada bulan Oktober 2015. Kita telah menabur dan kita terus menabur, dengan sabar dan tekun, dalam kepastian bahwa Tuhanlah yang memberi pertumbuhan kepada apa yang telah kita tabur (bdk.1 Kor 3:6).

Pada hari Beatifikasi Paus Paulus VI ini, saya memikirkan kata-kata yang dengannya ia menetapkan Sinode Para Uskup: "dengan seksama mengamati tanda-tanda zaman, kita sedang membuat setiap usaha untuk menyesuaikan cara-cara dan metode-metode ... untuk pertumbuhan kebutuhan-kebutuhan zaman kita dan perubahan kondisi-kondisi masyarakat"(Surat Apostolik Motu Proprio Apostolica Sollicitudo).

Ketika kita melihat ke Paus besar ini, Kristen berani ini, rasul tak kenal lelah ini, kita tidak bisa tidak mengatakan di hadapan Allah kata yang sederhana seperti itu tulus dan penting: terima kasih! Terima kasih, Sayang kami dan dicintai Paus Paulus VI! Terima kasih atas kesaksian yang rendah hati dan kenabian Anda kasih kepada Kristus dan Gereja-Nya!

Ketika kita memandang kepada Paus besar ini, orang Kristiani yang berani ini, rasul yang tak kenal lelah ini, kita tidak bisa tidak mengatakan di hadapan Allah sebuah kata sesederhana kata yang tulus dan penting: terima kasih! Terima kasih, Paus Paulus VI kita yang terkasih dan tercinta! Terima kasih atas kesaksian kasih Anda yang rendah hati dan bersifat kenabian bagi Kristus dan Gereja-Nya!

Dalam jurnal pribadinya, sang juru mudi besar Konsili (Vatikan II) menulis, pada kesimpulan pembahasan akhirnya: "Mungkin Tuhan telah memanggil saya dan melanggengkan saya untuk pelayanan ini bukan karena saya sangat cocok untuk itu, atau sehingga saya bisa memerintah dan menyelamatkan Gereja dari kesulitan-kesulitannya
yang ada, tetapi sehingga saya bisa menderita sesuatu bagi Gereja, dan dengan cara itu akan menjadi jelas bahwa Ia, dan tidak ada lainnya, adalah pembimbing dan penyelamatnya" (P. Macchi, Paolo VI nella sua parola, Brescia, 2001, halaman 120-121). Dalam kerendahan hati ini keagungan Beato Paulus VI bersinar: sebelum munculnya masyarakat sekuler dan bermusuhan, ia bisa berpegang teguh, dengan rabun jauh dan kebijaksanaan - dan kadang-kadang saja - pada kemudi bahtera Santo Petrus, seraya tidak pernah kehilangan sukacitanya dan kepercayaannya kepada Tuhan. 

Paulus VI benar-benar "memberikan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah" dengan mengabdikan seluruh hidupnya bagi "tugas suci, resmi dan penting untuk melanjutkan dalam sejarah dan memperluas di bumi perutusan Kristus" (Homili untuk Ritus Pemahkotaan: Insegnamenti I, 1963, halaman 26), mengasihi Gereja dan memimpinnya sehingga ia memungkinkan menjadi "seorang ibu yang penuh kasih dari keluarga manusia dan pada saat yang sama pelayan keselamatannya" (Surat Ensiklik Ecclesiam Suam, Pendahuluan).


http://pope-at-mass.blogspot.com/2014/10/homili-paus-fransiskus-dalam-misa_19.html#more

JENDELA IMAN
19 Oktober - St. Paulus dari Salib


Paulus Danei dari Ovada, Italia, dilahirkan dalam sebuah keluarga pedagang pada tahun 1694. Ia seorang Kristen yang baik serta saleh. Ketika usianya sembilan belas tahun, Paulus memutuskan untuk menjadi seorang tentara. Setahun kemudian ia meninggalkan dinas kemiliteran. Pada musim panas tahun 1720, Paulus memperoleh suatu pengalaman rohani. Ia memperoleh tiga penglihatan untuk membentuk suatu ordo religius baru. Paulus tidak dapat membayangkan apa yang bakal terjadi, jadi ia pergi kepada Bapa Uskup untuk mohon bimbingan. Bapa Uskup mempelajari masalahnya dan percaya bahwa penglihatan tersebut adalah benar. Ia mengatakan kepada Paulus untuk terus maju dengan panggilan khususnya. Ia patut melakukan apa yang diperintahkan kepadanya melalui penglihatan-penglihatan tersebut.
Paulus melewatkan empatpuluh hari lamanya untuk berdoa dan bermatiraga. Selama waktu itu ia menuliskan regula yang akan menjadi dasar hidupnya serta para pengikut kongregasinya yang baru. Yohanes, saudara Paulus, dan dua orang muda lain ikut bergabung dengannya. Paulus dan Yohanes ditahbiskan sebagai imam oleh Paus Benediktus XIII pada tahun 1727.

Sepuluh tahun kemudian, Biara Passionis (CP = Kongregasi Biarawan Passionis) yang pertama berdiri. Paus Klemens XIV menyetujui ordo baru tersebut. Ia juga menyetujui regula biara selang beberapa waktu kemudian. Disamping ketiga kaul kekal, yaitu: kemiskinan, kemurnian dan ketaatan, Paulus dari Salib menambahkan kaul keempat, yaitu: devosi kepada Sengsara Kristus. Pada tahun 1747, Passionis telah memiliki tiga biara. Mereka berkhotbah serta memberikan retret dan bimbingan rohani kepada umat di seluruh Italia.

Ketika ia wafat ada tahun 1775,  Paulus dari Salib sedang mulai membentuk Kongregasi Biarawati Passionis. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius IX pada tahun 1867.

St. Paulus dari Salib mengajarkan bahwa dalam Salib Yesus kita menemukan kebijaksanaan sejati. Jika kita sedang mengalami kesulitan atau penderitaan, marilah kita berdoa memohon kebijaksanaan sejati.

http://yesaya.indocell.net/id247.htm


PESAN SIDANG UMUM LUAR BIASA
PARA USKUP III TENTANG KELUARGA

(18 Oktober 2014)

Kami, para Bapa Sinode, yang berkumpul di Roma bersama-sama dengan Paus Fransiskus dalam Sidang Umum Luar Biasa Sinode para Uskup, menyambut semua keluarga dari berbagai benua dan khususnya semua orang yang mengikuti Kristus, Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Kami mengagumi dan berterima kasih atas kesaksian sehari-hari yang Anda tawarkan kepada kami dan dunia dengan kesetiaan, iman, pengharapan, dan kasih Anda.


Kami masing-masing, para gembala Gereja, dibesarkan dalam sebuah keluarga, dan kami datang dari berbagai macam latar belakang dan pengalaman. Sebagai para imam dan para uskup kami telah hidup bersama keluarga-keluarga yang telah berbicara kepada kami dan menunjukkan kami kisah sukacita mereka dan kesulitan mereka.


Persiapan untuk sidang sinode ini, dimulai dengan kuesioner yang dikirim ke Gereja-gereja  di seluruh dunia, telah memberikan kami kesempatan untuk mendengarkan pengalaman banyak keluarga. Dialog kami selama Sinode telah saling memperkaya, membantu kami untuk melihat situasi-situasi rumit yang dihadapi keluarga-keluarga hari ini.


Kami menawarkan sabda Kristus: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku" (Why 3:20). Pada perjalanan-Nya sepanjang jalan-jalan Tanah Suci, Yesus sudi memasuki rumah-rumah desa. Ia terus lewat bahkan hari ini di sepanjang jalan-jalan kota-kota kita. Dalam rumah-rumah Anda ada cahaya dan bayangan. Tantangan-tantangan sering menampilkan diri mereka dan kadang-kadang bahkan pencobaan-pencobaan besar. Kegelapan dapat tumbuh dalam hingga titik menjadi sebuah bayangan pekat ketika karya jahat dan dosa ke dalam hati keluarga.


Kami menyadari tantangan besar untuk tetap setia dalam kasih suami-istri. Iman yang diperlemah, dan ketidakpedulian terhadap nilai-nilai yang benar, individualisme, pemiskinan hubungan, dan tekanan yang mengecualikan permenungan meninggalkan jejak mereka pada kehidupan keluarga. Sering ada krisis dalam pernikahan, sering dihadapkan dengan ketergesa-gesaan dan tanpa keberanian untuk memiliki kesabaran dan merenung, untuk berkorban dan saling mengampuni. Kegagalan-kegagalan menimbulkan hubungan-hubungan baru, pasangan-pasangan baru, kesatuan-kesatuan sipil baru, dan pernikahan-pernikahan baru, menciptakan situasi-situasi keluarga yang rumit dan bermasalah, di mana pilihan Kristiani tidak jelas. 


Kami memikirkan juga beban yang dikenakan oleh kehidupan dalam penderitaan yang dapat timbul dengan seorang anak berkebutuhan khusus, dengan penyakit serius, dalam kemerosotan usia tua, atau dalam kematian orang yang dicintai. Kami mengagumi kesetiaan begitu banyak keluarga yang bertahan dalam pencobaan-pencobaan ini dengan keberanian, iman, dan kasih. Mereka melihat mereka bukan sebagai sebuah beban yang ditimbulkan pada mereka, tetapi sebagai sesuatu yang di dalamnya mereka sendiri berikan, melihat penderitaan Kristus dalam kelemahan daging.


Kita mengingat kesulitan-kesulitan yang disebabkan oleh sistem-sistem ekonomi, oleh "berhala uang dan kediktatoran dari sebuah ekonomi yang tidak bersifat pribadi yang minim tujuan yang benar-benar manusiawi" (Evangelii Gaudium 55) yang melemahkan martabat orang-orang. Kami mengingat para orang tua yang menganggur yang tidak berdaya untuk menyediakan kebutuhan dasar bagi keluarga-keluarga mereka, dan kaum muda yang melihat di hadapan mereka hari-hari pengharapan yang hampa, yang merupakan mangsa obat-obatan dan kejahatan. 


Kami memikirkan begitu banyak keluarga miskin, mereka yang hendak menggapai perahu-perahu untuk mencapai sebuah pantai kelangsungan hidup, para pengungsi yang berkeliaran tanpa harapan di padang gurun, mereka yang teraniaya oleh karena iman mereka dan nilai-nilai rohani dan manusiawi yang mereka pegang. Ini terserang oleh kebrutalan perang dan penindasan. Kami mengingat para wanita yang menderita kekerasan dan eksploitasi, para korban perdagangan manusia, anak-anak yang disalahgunakan oleh mereka yang seharusnya melindungi mereka dan memupuk perkembangan mereka, dan para anggota dari begitu banyak keluarga yang telah diperkeji dan dibebani dengan kesulitan-kesulitan. "Budaya kemakmuran mematikan kita .... semua kehidupan ini yang terhambat karena kurangnya kesempatan tampak sebuah tontonan belaka; mereka gagal untuk menggerakkan kita "(Evangelii Gaudium 54). Kami menghimbau para pemerintah dan para organisasi internasional untuk mempromosikan hak-hak keluarga untuk kebaikan bersama.


Kristus menginginkan Gereja-Nya menjadi sebuah rumah dengan pintu selalu terbuka untuk menyambut semua orang. Kami sangat berterima kasih kepada para gembala kami, kaum awam, dan komunitas-komunitas yang mendampingi pasangan-pasangan dan keluarga-keluarga serta merawat luka-luka mereka.


                                                                               ***


Ada juga cahaya malam di belakang kaca-kaca jendela dalam rumah-rumah kota-kota, dalam kediaman-kediaman sederhana pinggiran-pinggiran kota dan desa-desa, dan bahkan dalam gubuk-gubuk belaka, yang bersinar terang menghangati tubuh-tubuh dan jiwa-jiwa. Cahaya ini – cahaya sebuah kisah pernikahan - bersinar dari perjumpaan antara pasangan: itu adalah sebuah karunia, sebuah rahmat yang terungkap, sebagaimana dikatakan Kitab Kejadian (2:18), ketika keduanya "bertatap muka" sebagai para penolong yang sepadan dan saling menguntungkan. Kasih pria dan wanita mengajarkan kita bahwa masing-masing membutuhkan pasangannya agar benar-benar mandiri. Masing-masing tetap berbeda dari pasangannya yang membuka diri dan diungkapkan dalam karunia timbal balik. Inilah yang sang pengantin Kidung Agung nyanyikan dalam lagu gerejanya : "Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia... Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku" (Kid 2:16; 6:3).


Perjumpaan otentik ini dimulai dengan pacaran, sebuah waktu tunggu dan persiapan. Hal ini diwujudkan dalam sakramen di mana Allah menetapkan meterai-Nya, kehadiran, dan rahmat-Nya. Jalan ini juga mencakup hubungan seksual, kelembutan, keintiman, dan keindahan yang mampu berlangsung lebih lama daripada tenaga dan kesegaran kaum muda. Kasih seperti itu, dari kodratnya, berusaha untuk menjadi selamanya hingga titik meletakkan hidupnya bagi orang yang dikasihi (bdk. Yoh 15:13). Dalam terang ini kasih suami-istri, yang adalah unik dan tak terpisahkan, bertahan meskipun banyak kesulitan. Ini adalah salah satu yang paling indah dari semua mukjizat dan yang paling umum.


Kasih ini menyebar melalui kesuburan dan pengembangbiakan, yang melibatkan tidak hanya kelahiran anak-anak tetapi juga karunia kehidupan ilahi dalam baptisan, katekese mereka, dan pendidikan mereka. Ini mencakup kemampuan untuk menawarkan kehidupan, kasih sayang, dan nilai-nilai – sebuah pengalaman yang mungkin bahkan bagi mereka yang belum mampu melahirkan anak-anak. Keluarga-keluarga yang menjalani petualangan penuh cahaya ini menjadi sebuah tanda bagi semua orang, terutama bagi kaum muda.


Perjalanan ini kadang-kadang merupakan sebuah jalur pegunungan dengan kesulitan-kesulitan dan kegagalan-kegagalan. Allah selalu ada untuk menemani kita. Keluarga mengalami kehadiran-Nya dalam kasih sayang dan dialog antara suami dan istri, para orang tua dan anak-anak, para saudara laki-laki dan saudara perempuan. Mereka memeluk-Nya dalam doa keluarga dan mendengarkan Sabda Allah – sebuah oase semangat harian, yang sederhana. Mereka menemukan-Nya setiap hari ketika mereka mendidik anak-anak mereka dalam iman dan dalam keindahan sebuah kehidupan yang dihayati menurut Injil, sebuah kehidupan yang kudus. Para kakek-nenek juga berbagi dalam tugas ini dengan penuh kasih sayang dan dedikasi. Keluarga dengan demikian merupakan Gereja domestik yang otentik yang meluas hingga menjadi keluarga dari keluarga-keluarga yang merupakan komunitas gerejani. Suami-istri Kristiani dipanggil untuk menjadi guru-guru iman dan guru-guru kasih bagi para suami-istri muda juga.


Ungkapan persekutuan persaudaraan lainnya adalah amal, pemberian, kedekatan dengan mereka yang terakhir, yang terpinggirkan, miskin, kesepian, sakit, orang-orang asing, dan keluarga-keluarga dalam krisis, menyadari sabda Tuhan, "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima" (Kis 20:35). Ini adalah sebuah karunia kesanggupan, hubungan persahabatan, kasih dan kemurahan, dan juga sebuah kesaksian terhadap kebenaran, terhadap terang, dan terhadap makna hidup.


Titik utama yang merangkum semua benang persekutuan dengan Allah dan sesama adalah Ekaristi hari Minggu ketika keluarga dan seluruh Gereja duduk di meja bersama Tuhan. Ia memberikan diri-Nya bagi kita semua, berziarah melalui sejarah menuju tujuan perjumpaan akhir ketika "Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu" (Kol 3:11). Dalam tahap pertama rencana perjalanan Sinode kami, oleh karena itu, kami telah merenungkan tentang bagaimana menemani mereka yang telah bercerai dan menikah lagi dan tentang keikutsertaan mereka dalam sakramen-sakramen.


Kami para Bapa Sinode meminta Anda berjalan bersama kami menuju Sinode berikutnya. Kehadiran keluarga Yesus, Maria, dan Yusuf di rumah sederhana mereka melayang di atas Anda. Dipersatukan kepada Keluarga Nazaret, kita memanjatkan kepada Bapa semua permohonan kami bagi keluarga-keluarga dunia:


Bapa, anugerahilah kepada semua keluarga kehadiran pasangan suami-istri  yang kuat dan bijaksana agar boleh menjadi sumber keluarga yang bebas dan bersatu.


Bapa, anugerahilah agar para orang tua boleh memiliki sebuah rumah yang di dalamnya menghidupkan kedamaian bersama keluarga-keluarga mereka.


Bapa, anugerahilah agar anak-anak boleh menjadi sebuah tanda kepercayaan dan harapan dan agar orang-orang muda boleh memiliki keberanian untuk menempa komitmen setia seumur hidup.


Bapa, anugerahilah kepada semua orang agar mereka boleh dapat memperoleh rejeki dengan tangan mereka, agar mereka boleh menikmati ketenangan jiwa dan agar mereka boleh tetap menyalakan obor iman bahkan dalam masa-masa kegelapan.


Bapa, anugerahilah agar kami semua boleh melihat berkembangnya sebuah Gereja yang semakin setia dan dapat dipercaya, sebuah kota yang adil dan manusiawi, sebuah dunia yang mencintai kebenaran, keadilan dan belas kasihan.

 

(Alih bahasa : Peter Suriadi)

From: provindoscj

Posted by: ysamiran@gmail.com


RENUNGAN HARIAN

Sabtu, 18 Oktober 2014

Pesta Santo Lukas, Penginjil

Injil: Luk 10:1-9

 

RENUNGAN:

Santo Lukas bukanlah seorang saksi langsung dari kehidupan Yesus tetapi ia mendengar pewartaan Injil dari orang lain. Namun, karena diberdayakan oleh Roh Kudus, Lukas berpartisipasi dalam pewartaan Injil seturut amanat agung Yesus yang tercatat dalam Mat 28:18-20. Lukas bersama Paulus sebagai seorang anggota tim misioner sang Rasul, dan membuat Yesus Kristus dikenal di Timur Dekat dan Eropa.

Kita semua dipanggil Allah untuk melakukan evangelisasi, mewartakan Injil.

Lalu, bagaimana memulainya? Bersama Yesus sendiri! Memberitakan Tuhan Yesus berarti bersumber dari relasi kita sendiri dengan Dia. Kalau kita setiap hari menyediakan waktu cukup untuk berdoa kepada-Nya, mendengarkan Friman-Nya lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci serta mempraktekkannya, maka upaya mewartakan Kabar Baik tentang Dia kepada orang lain menjadi suatu tindakan yang alamiah, karena Roh Kudus-Nyalah yang sebenarnya bekerja. 

Tanpa harus melakukan perjalanan jauh-jauh seperti yang telah dilakukan oleh Santo Lukas dan Santo Paulus, kita dapat memberitakan Injil. Setiap hari kita mempunyai kesempatan untuk memberikan diri kita sendiri kepada orang-orang lain yang kita temui, untuk bercerita kepada orang-orang itu bahwa Allah mengasihi mereka,  kita berdoa untuk mereka dan berbagi iman-kepercayaan kita dengan mereka. Semua tentunya harus dilakukan berdasarkan inspirasi dari Roh Kudus, karena kalau tidak demikian halnya kita dapat saja merasa dan/atau berpikir bahwa kitalah aktor utama dalam setiap karya evangelisasi.

Seperti halnya dengan Santo Lukas dan semua misionaris Gereja Perdana, kita tidak pernah boleh merasa takut dan ciut. Ingatlah bahwa Dia menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman.

 

DOA:

“Ya Bapa surgawi, dengan Roh Kudus-Mu bentuklah diriku menjadi seperti Santo Lukas yang dengan penuh dedikasi melaksanakan kehendak-Mu, mewartakan Injil Putra-Mu. Amin.” 


JENDELA IMAN
18 Oktober - St. Lukas

Menurut tradisi, Lukas adalah seorang dokter kafir. Ia seorang yang lembut serta baik hati, yang mengenal Kristus melalui pewartaan Rasul St. Paulus. Setelah menjadi seorang Kristen, ia pergi menyertai Paulus ke berbagai tempat. Lukas merupakan seorang penolong yang banyak membantu Rasul Paulus dalam mewartakan iman. Kitab Suci menyebut Lukas sebagai “tabib Lukas yang kekasih.”
St. Lukas adalah penulis dua buah kitab dalam Kitab Suci, yaitu Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Meskipun Lukas tidak pernah bertemu dengan Yesus semasa Ia hidup di dunia, Lukas ingin menulis tentang Dia bagi umat Kristiani yang baru bertobat. Jadi, ia berbicara dengan mereka-mereka yang mengenal Yesus. Ia mencatat semua perbuatan Yesus yang mereka lihat dan Sabda Yesus yang mereka dengar. Menurut tradisi, Lukas memperoleh sebagian informasi penting dari Santa Perawan Maria sendiri. Bunda Maria merupakan orang yang tepat yang dapat menggambarkan secara jelas kedatangan Malaikat Gabriel kepadanya untuk menyampaikan Kabar Gembira. Bunda Maria-lah yang paling dapat menceritakan secara rinci kisah kelahiran Yesus di Betlehem serta pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir.

Lukas juga menuliskan kisah tentang bagaimana para rasul mulai mewartakan Sabda Yesus setelah Ia kembali ke surga. Dalam kitab tulisan Lukas, Kisah Para Rasul, kita mengetahui bagaimana Gereja mulai tumbuh dan berkembang.

St. Lukas adalah santo pelindung para dokter. Kita tidak tahu pasti bilamana atau di mana Lukas wafat. Ia merupakan salah seorang dari keempat penulis Injil.

Dari Injil Lukas kita mengenal cinta serta belas kasih Yesus. Luangkan sedikit waktu hari ini untuk membaca dengan khidmat sebagian dari Injil yang ia tulis.


http://yesaya.indocell.net/id247_st__lukas.htm

HOMILI PAUS

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 17 Oktober 2014 :

ROH KUDUS MEMBERI KITA JATI DIRI DAN WARISAN


Bacaan Ekaristi : Ef 1:11-14; Luk 12:1-7

Roh Kudus tidak hanya memberikan orang-orang Kristiani jati diri, tetapi juga "uang muka" warisan surgawi kita. Paus Fransiskus menyatakan hal ini dalam homilinya selama Misa harian Jumat pagi 17 Oktober 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan. Paus Fransiskus merenungkan Bacaan Pertama (Ef 1:11-14), yang di dalamnya Santo Paulus mengatakan
bahwa orang-orang Kristiani telah "dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan".
"Jati diri kita justru meterai ini, kekuatan Roh Kudus ini, yang kita semua telah terima dalam Baptisan", kata Bapa Suci.

"Roh ini, yang dijanjikan kepada kita – yang dijanjikan Yesus kepada kita - Roh ini tidak hanya memberi kita jati diri, tetapi juga uang muka warisan kita. Dengan-Nya, Surga dimulai. Kita sudah sedang hidup di Surga ini, kekekalan ini, karena kita telah dimeteraikan oleh Roh Kudus, yang merupakan benar-benar permulaan Surga : itu merupakan uang muka kita; kita memegangnya. Kita memegang Surga dengan meterai ini".

Paus Fransiskus melanjutkan dengan mengatakan bahwa meskipun warisan surgawi ini, orang-orang Kristiani kadang-kadang dapat tergoda "belum tentu membatalkan jadi diri ini, tetapi memudarkannya". Dengan melakukan demikian, beliau berkata, mereka menjadi "orang-orang Kristiani yang suam-suam kuku".

"Ini adalah seorang Kristen yang, ya, pergi ke Misa pada hari Minggu, tetapi jati dirinya tidak terlihat dalam cara hidupnya. Ia bahkan mungkin hidup seperti seorang kafir, tetapi ia
adalah seorang Kristiani", kata Paus Fransiskus.

"Dosa lain, yang tentangnya Yesus berbicara kepada para murid-Nya, dan yang kita dengar : ‘Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi’. ‘Kepura-puraan' : Saya berpura-pura menjadi seorang Kristiani, tetapi saya bukan. Saya tidak transparan, saya mengatakan satu hal – ‘ya, ya saya seorang Kristiani'- tetapi saya melakukan lainnya, sesuatu yang tidak bersifat Kristiani".

Mengakhiri homilinya, Paus Fransiskus mengingatkan umat beriman tentang karunia-karunia yang datang dari suatu kehidupan Kristiani yang bersatu dengan Roh Kudus. "Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri", beliau menekankan, adalah karunia-karunia yang menuntun kita di jalan menuju Surga ini.

"Mari kita memohon kepada Tuhan rahmat untuk berhati-hati dengan meterai ini, dengan jati diri Kristen kita ini, yang tidak hanya merupakan sebuah janji, tidak, kita sudah memegangnya di tangan kita, kita memiliki uang muka", pungkas beliau.

 

http://pope-at-mass.blogspot.com/2014/10/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-17.html#more

RENUNGAN HARIAN

Jumat, 17 Oktober 2014
Peringatan S. Ignatius dr Antiokhia, Uskup & Martir
Bacaan I: Ef 1:11-14


RENUNGAN:
“Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef 1:14). Menurut Paulus, Roh Kudus adalah “jaminan” atau semacam “uang muka” dari warisan surgawi kita. Katakanlah, cicilan pertama dari hidup kekal bersama Allah. Seperti juga cicilan pertama yang dapat kita gunakan sementara kita menantikan sisa selebihnya, maka Roh Kudus juga tersedia bagi kita sekarang, dalam pengalaman kita setiap hari. Kita tidak perlu menunggu sampai kita mati untuk ikut ambil bagian dalam warisan yang dimenangkan Kristus itu. Kita sudah dapat terlibat dalam hidup Roh sekarang juga. Setiap hari Roh Kudus ingin membuka mata kita terhadap kasih Allah. Roh Kudus menolong kita untuk mengenali dan mengalami kehadiran Allah dalam kebaikan hati dan kemurahan hati orang-orang lain.
Apabila kita sungguh mendengarkan, maka kita akan mendengar Roh Kudus berbicara dalam hati kita, memanggil kita untuk pergi meninggalkan dosa jauh-jauh. Dia akan membisikkan nasihat-nasihat di telinga kita tentang bagaimana dan mendidik anak-anak kita, dan bagaimana menghadapi berbagai kesulitan hidup ini dlsb. Roh Kudus ini akan membuat diri-Nya dikenal oleh kita ketika seseorang menyapa kita dengan hangat. Roh Kudus akan memberdayakan kita untuk mau dan mampu ke luar menemui seorang pribadi yang membutuhkan pertolongan, walaupun orang itu sering menjengkelkan karena tingkah lakunya. Manakala kita menderita, Roh Kudus akan menginspirasikan doa kita dan akan membawa penghiburan, kesembuhan dan rahmat.


DOA:
“Ya Roh Kudus Allah, aku menyambut-Mu ke dalam hidupku. Dengan rendah hati aku memohon kepada-Mu agar bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam diriku dan melalui diriku pada saat-saat aku melayani sesamaku. Amin.”



JENDELA IMAN
17 Okrober - St. Ignatius dr Antiokhia

St. Ignatius dari Antiokhia telah dikenal sejak masa gereja perdana. Ia dilahirkan pada tahun 50. St. Hieronimus dan St. Yohanes Krisostomus keduanya berpendapat bahwa makamnya terletak dekat pintu gerbang kota Antiokhia. Ignatius adalah Uskup Antiokhia yang ketiga. Di kota inilah St. Petrus berkarya sebelum ia pindah ke Roma. Di kota ini jugalah pertama kalinya para pengikut Kristus disebut Kristen. Ignatius dijatuhi hukuman mati dalam masa pemerintahan Kaisar Trajan. Ia digiring dari Antiokhia ke gelanggang pertunjukan di pusat kota Roma.


Meskipun kepergiannya ke Roma berada dalam pengawalan ketat pasukan, Ignatius sempat singgah di Smyrna dan Troas. Dari kota-kota tersebut ia menulis beberapa pucuk surat kepada umat Kristiani. Dengan demikian, ia menggunakan cara yang sama dengan St. Paulus dalam mewartakan Kabar Sukacita. Salah satu surat yang ditulis Ignatius dari Troas ditujukan kepada St. Polikarpus, seorang rekan uskup, yang kelak juga menjadi seorang martir.

Ketika Ignatius yang terkasih tiba di Roma, ia bergabung dengan umat Kristiani yang pemberani yang menantinya di penjara. Akhirnya, tibalah hari dimana sang uskup dilemparkan ke arena pertunjukan. Dua ekor singa ganas menerkamnya. St. Ignatius wafat sekitar tahun 107. Ia mewariskan kepada kita kesaksian hidup Kristiani serta surat-suratnya yang indah.

“Berdoalah bagiku, supapa aku jangan jatuh dalam pencobaan.”
Mari menimba keberanian dalam kesaksian hidup serta doa-doa St. Ignatius.


http://yesaya.indocell.net/id247_st__ignatius_dari_antiokhia.htm

HOMILI PAUS

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 16 Oktober 2014 :

DOA PUJIAN KEPADA ALLAH


Bacaan Ekaristi : Ef 1:1-10; Luk 11:47-54

Sangat mudah berdoa memohonkan rahmat, jauh lebih sulit berdoa dalam pujian kepada Tuhan, tetapi inilah doa sukacita sejati, kata Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Kamis pagi16 Oktober 2014 di Casa Santa Marta, Vatikan. Merenungkan Surat Santo Paulus kepada jemaat di Efesus (Ef 1:1-10), yang dengan penuh sukacita mengangkat doa berkat kepada Allah, Paus Fransiskus mencatat bahwa ini adalah sesuatu "yang tidak biasa kita lakukan": Sebaliknya memberikan "pujian kepada Allah adalah persenan sejati" dan dengan berbuat demikian kita masuk ke dalam "sebuah sukacita yang besar".

"Kita tahu betul bagaimana berdoa ketika kita ingin meminta sesuatu, bahkan ketika kita ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, tetapi sebuah doa pujian sedikit lebih sulit bagi kita. Kita tidak terbiasa memuji Tuhan. Kita bisa melakukan ini lebih baik dengan mengingat semua hal-hal yang telah Tuhan lakukan bagi kita dalam hidup kita: 'Di dalam Dia – di dalam Kristus - Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan’. Terbekatilah Engkau, Tuhan, karena Engkau memilih aku! Itulah sukacita sebuah kedekatan yang lembut dan kebapaan".

"Doa pujian" - beliau melanjutkan - membawakan kita sukacita ini, [sukacita] berbahagia di hadapan Tuhan. Mari kita membuat upaya nyata untuk menemukan kembali hal ini!". Namun, lanjut Paus Fransiskus, "titik awaln"-nya adalah "mengingat" pilihan ini: "Allah memilih aku sebelum dunia dijadikan".

"Ini tidak mungkin dipahami atau bahkan dibayangkan: Fakta bahwa Tuhan mengenal
saya sebelum penciptaan dunia, bahwa nama saya ada di dalam hati Tuhan. ini adalah kebenaran! Ini adalah pewahyuan! Jika kita tidak mempercayai hal ini maka kita bukanlah orang Kristiani! Kita dapat mengasyikkan diri dalam religiositas ketuhanan, tetapi bukan orang Kristiani! Orang Kristiani adalah orang yang dipilih, orang Kristiani adalah seseorang yang telah dipilih dalam hati Allah sebelum penciptaan dunia. Pemikiran ini juga memenuhi hati kita dengan sukacita : saya dipilih! Ini memberi kita kepercayaan diri".

"Nama kita - kata Paus Fransiskus - ada di dalam hati Allah, ada di dalam perut Allah, sama seperti bayi di dalam ibunya. Sukacita kita terletak pada keterpilihan kita". Paus Fransiskus melanjutkan bahwa kita tidak dapat memahami hal ini dengan kepala kita sendiri. [Kita tidak bisa memahami hal ini] bahkan dengan hati kita. Untuk memahami hal ini kita harus masuk ke dalam Misteri Yesus Kristus. Misteri Putra-Nya yang terkasih: ‘Ia telah mencurahkan darah-Nya bagi kita dalam kelimpahan, dengan segala kebijaksanaan dan kecerdasan, membuat kita mengenal misteri kehendak-Nya'. Dan ini adalah sikap ketiga untuk dimiliki : masuk ke dalam Misteri": "Ketika kita merayakan Ekaristi, kita masuk ke dalam Misteri ini, yang kita tidak dapat sepenuhnya pahami :  Tuhan hidup, Ia bersama kami, di sini, dalam kemuliaan-Nya, dalam segala kepenuhan-Nya dan memberikan hidup-Nya bagi kita sekali lagi. Kita harus mempelajari sikap masuk ke dalam Misteri ini setiap hari. Orang Kristiani adalah seorang wanita, seorang pria, yang berupaya untuk masuk ke dalam Misteri. Misteri tidak dapat dikendalikan: ini adalah Misteri! Saya masuk [ke dalamnya]".

Sebuah doa pujian – Paus Fransiskus mengakhiri - karena itu adalah pertama-tama dan terutama sebuah "doa sukacita", lalu sebuah "doa pengenangan : Berapa banyak yang
telah Tuhan lakukan bagi saya! Bagaimana lembutnya Iia telah menemani saya, bagaimana Ia telah merendahkan diri-Nya sendiri : seorang ayah membungkukkan diri atas seorang anak untuk membantunya berjalan”. Dan akhirnya sebuah doa kepada Roh Kudus agar kita dapat menerima rahmat "untuk masuk ke dalam Misteri, terutama ketika kita merayakan Ekaristi".


 http://pope-at-mass.blogspot.com/2014/10/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-16.html#more


HOMILI PAUS

PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 15 Oktober 2013 :

WASPADALAH TERHADAP PENYEMBAHAN BERHALA DAN KEMUNAFIKAN


Bacaan Ekaristi: Rm 1:16-25; Luk 11:37-41

Penyembahan berhala dan kemunafikan tidak mengecualikan pula kehidupan Kristiani. Paus Fransiskus meminta kita waspada terhadap kedua sifat buruk tersebut dalam homilinya pada Misa Selasa pagi 15 Oktober 2013 di Casa Santa Marta. Agar tidak tunduk kepada bahaya dosa-dosa ini, beliau berkata, perlu mempraktekkan perintah kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.

Sekali lagi, liturgi Misa memunculkan dari Paus Fransiskus sebuah permenungan pada perangkap yang menyela kehidupan iman: menjadi seorang rasul dari gagasan sendiri, atau seorang pemuja dari kesejahteraan diri sendiri, daripada dari Allah; berbicara buruk tentang seseorang karena ia tidak sesuai dengan formalitas tertentu, melupakan bahwa "baru" perintah kekristenan “baru” adalah kasih kepada sesama tanpa seandainya dan tapi-tapian. Dari kata-kata Santo Paulus, Paus melanjutkan dengan mengutuk dosa penyembahan berhala, dosa orang-orang yang – sebagaimana dikatakan Rasul Paulus - "karena meskipun mereka mengenal Allah mereka tidak memberi Dia kemuliaan sebagai Allah dan memberi Dia terima kasih” lebih suka menyembah "ciptaan daripada pencipta". Merupakan suatu penyembahan berhala, Paus mengatakan, yang "menghambat kebenaran Iman" yang di dalamnya "terungkap kebenaran Allah":

"Tetapi karena kita semua memiliki kebutuhan menyembah - karena kita memiliki jejak
Allah dalam diri kita - ketika kita tidak menyembah Allah, kita menyembah ciptaan. Dan ini adalah bagian dari iman kepada penyembahan berhala. Orang-orang ini, para penyembah berhala, tidak mempunyai alasan: karena telah mengenal Allah, mereka tidak memuliakan atau menyembah Dia sebagai Allah. Dan apa cara penyembahan berhala? Beliau mengatakan dengan jelas : 'mereka menjadi sia-sia dalam penalaran mereka, dan pikiran bodoh mereka menjadi gelap'. Keegoisan pikiran mereka sendiri, pikiran yang mahakuasa, yang karenanya saya pikir benar : saya memikirkan kebenaran, saya membuat kebenaran dengan pikiran saya."

Kritik Santo Paulus, dua ribu tahun yang lalu, tertuju kepada para penyembah berhala yang tidak berdaya di hadapan hewan melata, burung, dan makhluk berkaki empat. Dan di sini, Paus Fransiskus segera menanggapi keberatan bahwa masalah ini tidak muncul, karena tidak seorang pun di sekeliling menyembah patung. Bukan demikian, Paus menjawab: penyembahan berhala telah menemukan bentuk dan  corak baru:

"Bahkan saat ini, ada begitu banyak berhala, dan bahkan saat ini ada begitu banyak penyembah berhala, begitu banyak yang berpikir bahwa mereka bijaksana. Tetapi bahkan di antara kita, di antara orang-orang Kristiani, eh? Saya tidak sedang berbicara tentang mereka, saya menghormati mereka, orang-orang yang bukan Kristiani. Tetapi di antara kita - kita sedang berbicara dalam keluarga - mereka pikir mereka bijaksana, mereka tahu segalanya ... Mereka telah menjadi bodoh dan menukar kemuliaan Allah yang tidak fana dengan sebuah gambar : diri saya sendiri, gagasan-gagasan saya, kenyamanan saya... Hari ini, kita semua – Saya meneruskan, eh! Bukan hanya sesuatu yang bersejarah - bahkan saat ini, di sepanjang jalan ada berhala-berhala, bahkan satu langkah maju... Kita semua memiliki dalam diri kita beberapa berhala tersembunyi. Kita bisa bertanya kepada diri kita, di hadapan Allah: apa berhala tersembunyi saya? Apakah mengambil tempat Allah?"

Jika Santo Paulus menyebut para penyembah berhala bodoh, dalam Injil hari itu Yesus mengatakan hal yang sama tentang orang-orang munafik, dalam pribadi orang-orang Farisi yang menjadi heboh karena Sang Guru tidak mencuci tangan karena merupakan tatakrama sebelum duduk di meja makan. "Kamu orang-orang Farisi!", jawab Yesus. "Meskipun kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”. Dan Ia menambahkan, "Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu”.

"Yesus menasehatkan : jangan melihat penampilan, berjalanlah dengan kebenaran. Piring adalah piring, tetapi apa yang penting adalah apa yang ada di piring: makanan. Tetapi jika Anda besar kepala, jika Anda seorang pengejar karir, jika Anda ambisius, jika Anda adalah seorang yang selalu menempatkan dirinya maju atau suka memajukan diri Anda, karena
Anda pikir Anda sempurna, memberikan sedikit sedekah dan itu menyembuhkan kemunafikan Anda. Inilah jalan Tuhan: menyembah Allah, mengasihi Allah di atas segalanya dan mengasihi sesama Anda. Begitu sederhana, tetapi begitu sulit! Hal ini hanya dapat dilakukan dengan rahmat. Mari kita meminta rahmat ini".

Sumber : Radio Vatikan

http://pope-at-mass.blogspot.com/2013/10/paus-fransiskus-dalam-misa-15-oktober.html

RENUNGAN HARIAN

Rabu, 15 Oktober 2014
Peringatan S. Teresia dr Avila
Injil: Luk 11:42-46


RENUNGAN:
Yesus menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi. Sejumlah orang Farisi dalam menafsir Hukum Musa menggunakan pendekatan kaku yang mengabaikan panggilan untuk membuat keseimbangan antara keadilan dan belas kasih. Yesus menanggapi dan berupaya untuk menunjukkan kepada mereka “semangat” atau roh dari hukum tersebut. Yang hadir pada acara makan malam tsb., adalah para pakar dalam bidang hukum Musa dan Yesus ingin agar mereka melihat bahwa Kerajaan Allah adalah terlebih-lebih mengenai relasi daripada mengenai peraturan-peraturan. Tantangannya bukanlah sekadar kepatuhan-kaku untuk melakukan kewajiban-kewajiban keagamaan, melainkan untuk mengasihi Allah dan bersikap serta berlaku adil terhadap umat-Nya.
Ingatlah Yesus telah memikul semua beban dan dosa-dosa kita pada kayu salib. Yesus datang untuk membersihkan kita luar-dalam, guna memurnikan hati kita dan menarik diri kita kepada-Nya. Yesus tidak hanya mengatakan kepada kita bagaimana kita harus bertindak namun Ia sendiri mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban agar dengan demikian kita akan memiliki kuasa untuk mengikuti perintah-perintah-Nya.
“Sabda menjadi daging!”. Yesus datang ke dunia untuk berada bersama kita, spy kita dapat menjadi seperti Dia dan hidup dengan-Nya untuk selama-lamanya, menolong kita memikul beban-beban kita dan untuk mencurahkan rahmat ilahi secara berlimpah. Yesus meninggalkan Roh Kudus-Nya bagi kita untuk menjadi Penasihat dan Penghibur kita, dan Ia meninggalkan bagi kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam Ekaristi. Inilah bukti bhw betapa besar kasih-Nya kepada kita?


DOA:
“Ya Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku, jiwa dan ragaku! Ini, terimalah hatiku ini! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil dosa-dosaku dan memikul beban-bebanku. Amin.”



JENDELA IMAN
15 Oktober - St. Theresia dari Avila

Theresia dilahirkan di Avila, Spanyol, pada tanggal 28 Maret tahun 1515. Sebagai seorang gadis kecil di rumah keluarganya yang kaya, Theresia dan kakaknya: Rodrigo suka sekali membaca riwayat hidup para kudus dan para martir. Bagi mereka, tampaknya menjadi martir adalah cara mudah untuk dapat pergi ke surga. Oleh karena itu kedua anak tersebut secara diam-diam berencana untuk pergi ke tanah Moor. Sementara mereka menapaki jalan, mereka berdoa agar mereka boleh wafat bagi Kristus. Tetapi, mereka belumlah jauh dari rumah ketika mereka bertemu dengan paman mereka. Seketika itu juga sang paman membawa mereka pulang ke pelukan ibu mereka yang sudah teramat cemas. Kemudian, anak-anak itu bermaksud untuk menjadi pertapa di pekarangan rumah mereka. Rencana ini pun tidak berhasil juga. Mereka tidak dapat mengumpulkan cukup banyak batu untuk membangun gubug mereka. St. Teheresia sendirilah yang menuliskan kisah masa kecilnya yang menggelikan itu.
Namun demikian, ketika Theresia tumbuh menjadi seorang gadis remaja, ia berubah. Ia banyak membaca buku-buku novel dan kisah-kisah roman picisan hingga ia tidak punya banyak waktu lagi untuk berdoa. Ia lebih banyak memikirkan cara merias serta mendadani dirinya agar tampak cantik. Tetapi, setelah ia sembuh dari suatu penyakit parah, Theresia membaca sebuah buku tentang St. Hieronimus yang hebat. Pada saat itu juga, ia bertekad untuk menjadi pengantin Kristus. Ketika menjadi seorang biarawati, amatlah susah bagi Theresia untuk berdoa. Selain itu, kesehatannya pun buruk. Ia menghabiskan waktunya setiap hari dengan mengobrol tentang hal-hal yang remeh. Suatu hari, di hadapan lukisan Yesus, ia merasakan suatu kesedihan yang mendalam bahwa ia tidak lagi mencintai Tuhan. Sejak itu, ia mulai hidup hanya bagi Yesus saja, tidak peduli betapa pun besarnya pengorbanan yang harus dilakukannya.

Sebagai balas atas cintanya, Kristus memberikan kepada St. Theresia karunia untuk mendengar-Nya berbicara kepadanya. Ia juga mulai belajar berdoa dengan cara yang mengagumkan juga. St. Theresia dari Avila terkenal karena mendirikan biara-biara Karmelit yang baru. Biara-biara tersebut dipenuhi oleh para biarawati yang rindu untuk hidup kudus. Mereka banyak berkurban untuk Yesus. Theresia sendiri memberi teladan kepada mereka. Ia berdoa dengan cinta yang menyala-nyala dan bekerja keras melakukan tugas-tugas biara.

St. Theresia adalah seorang pemimpin besar dan seorang yang sungguh-sungguh mengasihi Yesus serta Gereja-Nya. Ia wafat pada tahun 1582 dan dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius XV pada tahun 1622. Ia digelari Pujangga Gereja oleh Paus Paulus VI pada tahun 1970.

St. Theresia mengajarkan bahwa kita harus memiliki kepercayaan yang besar akan kasih penyelenggaraan Tuhan bagi kita. Ia menulis bahwa seseorang yang memiliki Tuhan, tidak kekurangan suatu apa pun; Tuhan saja sudah cukup.

http://yesaya.indocell.net/id247_st__theresia_dari_avila.htm


RENUNGAN HARIAN

Selasa, 14 Oktober 2014

Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII

Injil: Luk 11:37-41

 

RENUNGAN:

Yesus berkata-kata keras (“bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”; Luk 11:39). bukan karena Dia tidak mengasihi orang Farisi. Yesus bertindak demikian karena orang itu punya masalah. Walaupun dari luar kelihatan bahwa perilaku keagamaannya itu nyaris sempurna, namun hatinya dipenuhi dengan motivasi-motivasi non-religius. Pada dasarnya orang Farisi ini seorang pribadi yang serakah … tamak,  yang menginginkan untuk memperoleh lebih dan lebih lagi bagi dirinya, bukan memberi kepada orang-orang lain. Perilaku keagamaannya hanyalah merupakan tabir yang menghalanginya untuk dapat melihat kebutuhannya sendiri akan suatu perubahan batiniah.

Lalu, sampai seberapa seringkah kita menghindar, tidak mau menghadapi masalah keserakahan/ketamakan  yang ada dalam hati dan pikiran kita? Sadarilah bhw Yesus ingin membangunkan kita dari tidur dan mengingatkan akan kebutuhan kita untuk bertobat karena Dia ingin menyembuhkan kita. Yesus ingin membersihkan hati, menyembuhkan pikiran dan hati kita yang suka mementingkan diri sendiri, nafsu-nafsu dan kecemburuan serta rasa iri hati kita. Sekarang, maukah kita memperkenankan Yesus menjamah kita, menyentuhkan jari-jari kasih-Nya pada pemikiran-pemikiran dan pola-pola perilaku kita yang membutuhkan perubahan?

Yesus akan memberi solusi dan tidak hanya mengkritisi orang Farisi itu. Dia menunjukkan kepadanya jalan keluar dari keterikatan pada hal-hal yang buruk itu: “Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu” (Luk 11:41). Yesus berjanji kepada kita, bahwa apabila kita melangkah keluar dari pemikiran, sikap dan perilaku yang mementingkan diri sendiri, dan mulai menunjukkan perhatian secara konkret-praktis terhadap orang-orang lain, maka kita akan mengalami rahmat-Nya bekerja dalam diri kita dan mengubah hati kita.

 

DOA:

“Ya Tuhan Yesus, aku memang membutuhkan perubahan batiniah. Namun aku tidak dapat melakukannya sendiri, untuk itu tolonglah aku. Amin.”



JENDELA IMAN
14 Oktober - St. Kalistus I

Paus hebat yang wafat sebagai martir ini hidup pada awal abad ketiga. Dulunya ia seorang budak belian muda di Roma yang terjerumus dalam suatu masalah yang amat serius. Tuannya, seorang Kristen, memberinya tanggung jawab untuk mengelola sebuah bank. Suatu ketika, Kalistus kehilangan uang yang dititipkan kepadanya oleh orang-orang Kristen lainnya. Karena ketakutan, Kalistus melarikan diri dari Roma. Ia tertangkap setelah mencoba meloloskan diri dengan menceburkan diri ke dalam laut. Hukuman yang dijatuhkan kepadanya sungguh sangat mengerikan: ia dirantai dan dihukum kerja paksa di sebuah penggilingan.
Kalistus dibebaskan dari hukuman ini hanya karena para nasabahnya berharap bahwa ia dapat mengembalikan sebagian dari uang mereka. Tetapi, sekali lagi ia ditangkap. Kali ini karena ia terlibat dalam suatu perkelahian. Kalistus dikirim ke pertambangan-pertambangan di Sardinia. Ketika kaisar membebaskan semua tawanan Kristen yang dihukum di pertambangan-pertambangan tersebut, Kalistus juga ikut dibebaskan. Sejak saat itu, hidupnya mulai membaik.

Paus St. Zephrinus mengenal serta memberikan kepercayaan kepada budak yang baru dibebaskan itu. Ia menugaskan Kalistus untuk mengurus pemakaman umum umat Kristiani di Roma. Sekarang pemakaman tersebut dinamai sesuai namanya: Katakombe St. Kalistus. Banyak paus dimakamkan dalam katakombe tersebut. Kalistus membuktikan bahwa dirinya pantas mendapat kepercayaan dari Bapa Suci. St. Zephrinus tidak saja mentahbiskannya sebagai seorang imam, tetapi juga menganggapnya sebagai seorang sahabat sekaligus penasehat.

Kelak, St. Kalistus sendiri menjadi seorang paus. Sebagian orang mengeluh karena ia terlalu murah hati kepada orang-orang berdosa. Namun demikian, paus yang kudus itu memutuskan bahwa bahkan para pembunuh pun diperkenankan menerima Komuni Kudus setelah mereka bertobat serta mengakukan dosa-dosa mereka. Paus hebat ini selalu mempertahankan ajaran-ajaran Yesus yang benar. Ia wafat pada tahun 222 dalam kemuliaan seorang martir.   

Hidup St. Kalistus mengingatkan kita bahwa Tuhan dapat memilih siapa saja untuk melakukan karya-Nya - yang kita perlukan hanyalah iman dalam kuasa-Nya.

Sumber: http://yesaya.indocell.net/id247_st__kalistus_i.htm


RENUNGAN HARIAN

Senin, 13 Oktober 2014

Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII

Injil: Luk 11:29-32

 

RENUNGAN:

 “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Luk 11:29).

Banyak orang menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya yang dibuat oleh Yesus. Segala mukjizat dan tanda heran itu tidak dapat disangkal kebenarannya: penyembuhan-penyembuhan, pengusiran roh-roh jahat, penggandaan makanan dlsb. Sekarang masalahnya adalah, mengapa mereka meminta tanda lagi? Mereka ternyata mencari makna, bukan mencari tanda-tanda itu sendiri. Walaupun mereka telah menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat oleh Yesus, mereka luput memperoleh pesan sesungguhnya yang disampaikan lewat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda tersebut, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

Lalu apakah kita sungguh perlu untuk menjadi sebuah “tanda”. Tentu saja! Semoga saja kita tidak pernah membiarkan orang-orang yang tidak percaya merusak kesempatan bagi orang-orang lain untuk percaya. Dari sekian ratus orang yang tidak percaya kepada Yesus, tentunya ada satu-dua yang percaya. Maka kita harus memberi kesempatan kepada orang-orang yang hidup pada zaman modern ini melalui diri kita untuk menjadi percaya kpd Yesus.

Kehadiran kita hendaknya menjadi “garam bumi” dan “terang dunia” (Mat 5:13-16). Semakin dekat kita dengan Yesus, maka diri kita pun menjadi semakin terasa “asin”. Orang-orang akan melihat Kristus dalam diri kita dan semakin merasa haus akan kehadiran-Nya. Dan semakin dekat kita kepada Yesus, semakin bercahaya pula terang kita ke tengah dunia yang sudah sekian lama terjebak dalam kegelapan dan dosa. Selagi terang kita semakin bercahaya, maka terang kita itu dapat menarik banyak orang kepada Yesus: para anggota keluarga, para sahabat, dan bahkan orang-orang yang tidak kita kenal.

Setiap hari dalam doa, perkenankanlah Allah mengubah diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan Putera-Nya. Dengan berjalannya hari, biarlah Dia berbicara melalui kata-kata dan tindakan-tindakan kita. Kita dapat menjadi sebuah “tanda” bagi dunia ini. Hayatilah dan jalanilah dengan tekun hidup Injili, maka dalam artian tertentu Anda  juga mewartakan Injil. Didorong oleh kasih Kristus, bersahabatlah dengan orang-orang, maka Roh Kudus dapat mempertobatkan orang-orang itu lewat “pewartaan Injil” Anda.

 

DOA:

“Ya Bapa surgawi, penuhilah diriku dengan kasih tanpa syarat kepada sesamaku. Roh Kudus, biarlah terang-Mu bercahaya melalui diriku. Amin.”



JENDELA IMAN
13 Oktober - St. Edward

Raja St Edward adalah salah seorang yang paling dikasihi dari semua raja Inggris. Ia hidup pada abad kesebelas. Oleh sebab para musuh di tanah airnya sendiri, ia harus tinggal di Normandy, Perancis, sejak usianya sepuluh tahun hingga empatpuluh tahun. Ketika ia pulang kembali untuk memimpin negeri, segenap rakyat menyambutnya dengan sukacita.
St Edward adalah seorang yang tinggi dan tegap perawakannya, tetapi kesehatannya amat rapuh. Meski begitu ia dapat memimpin negerinya dengan baik dan senantiasa memelihara kedamaian di negerinya. Ini karena ia percaya dan mengandalkan Tuhan. Raja Edward ikut ambil bagian dalam misa setiap hari. Ia adalah seorang yang lemah lembut dan baik hati, yang tidak pernah berbicara kasar. Kepada orang-orang miskin dan orang-orang asing, ia menunjukkan belas kasih yang istimewa. Ia juga membantu para biarawan dengan segala cara yang dapat ia lakukan. Adalah keadilannya kepada setiap orang dan kasihnya kepada Gereja Tuhan yang menjadikan St Edward begitu populer di kalangan rakyat Inggris. Mereka akan bersorak-sorai sementara ia mengendarai kudanya keluar istana.

Meski ia seorang raja dengan kekuasaan yang besar, St Edward menunjukkan kejujurannya dengan jalan menepati janjinya kepada Tuhan dan kepada rakyat. Sewaktu masih tinggal di Normandy, ia mengucapkan suatu ikrar kepada Tuhan. Ia mengatakan bahwa apabila keluarganya berkesempatan melihat masa-masa yang lebih baik, ia akan pergi berziarah ke makam St Petrus di Roma. Setelah dinobatkan sebagai raja, ia rindu untuk menepati ikrarnya ini. Tetapi para bangsawan tahu bahwa tak akan ada siapa-siapa lagi yang akan memelihara perdamaian diantara orang-orang yang gemar berperang di tanah itu. Jadi, meski mereka mengagumi devosi raja, mereka tak hendak membiarkannya pergi. Segala masalah ini disampaikan kepada paus, St Leo IX. Bapa Suci memutuskan bahwa raja dapat tinggal di kerajaannya. Beliau mengatakan bahwa hendaknyalah Raja Edward membagi-bagikan uang yang seharusnya dipergunakannya untuk berziarah kepada orang-orang miskin. Ia hendaknya juga membangun atau memperbaiki suatu biara demi menghormati St Petrus. Dengan taat, raja melaksanakan keputusan paus. Raja wafat pada tahun 1066 dan dimakamkan di sebuah biara indah yang telah ia bangun kembali. Ia dimaklumkan sebagai santo oleh Paus Alexander III pada tahun 1161.

Raja yang kudus ini berusaha sepanjang hidupnya untuk mempergunakan karunia-karunia yang diberikan kepadanya demi menolong sesama. Adakah aku mempergunakan karunia-karunia yang diberikan kepadaku untuk berbuat kebajikan?

Sumber:http://yesaya.indocell.net/id247_st_edward.htm


RENUNGAN HARIAN

Minggu, 12 Oktober 2014

HARI MINGGU BIASA XXVIII/A

Injil: Mat 22:1-14 

 

RENUNGAN:

Dalam ‘perumpamaan tentang perjamuan kawin’ hari ini, kita kembali membaca tentang suatu perjamuan kawin yang terbuka untuk semua orang, sebuah pesta di mana tidak seorang pun dikecualikan. Semua orang diundang tanpa melihat status kehidupan mereka, posisi dalam masyarakat, kekayaan materi, ras, umur dst. Pencampuran kelompok-kelompok sosial merupakan suatu konsep yang radikal pada masa Yesus dan juga pada masa kita. Orang-orang Farisi pada masa Yesus, misalnya memandang hina para pemungut cukai dan pendosa, namun para “pendosa” ini sering diterima oleh Yesus  di depan orang-orang Farisi yang memandang diri paling benar itu. Sekarang, umumnya orang-orang yang terdidik dan berkecukupan seringkali menghindari Injil, sedang orang miskin dan wong cilik justru memeluk Inji itu dengan penuh gairah.

Dalam Sakramen Ekaristi, Allah mengundang semua orang untuk mencicipi kasih-Nya yang besar. Bagaimana kita akan menanggapi undangan Allah untuk perjamuan kawin Putera-Nya? Akankah kita begitu disibukkan dengan berbagai masalah dunia sehingga tidak mudah menerima undangan itu dengan rendah hati?

Yesus bersabda: “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Mat 22:14). Raja menolak orang yang tidak mengenakan pakaian pesta karena orang itu tidak memandang undangannya sebagai suatu kehormatan besar. Sebaliknya, para tamu yang mengenakan pakaian pesta adalah orang-orang yang dapat mengenali kerahiman (belas kasihan) dan kasih Allah yang berlimpah-limpah sebagai sumber kekuatan dan pengharapan mereka satu-satunya, sehingga dengan demikian mereka sendiri dapat mengenakan baju belas kasihan Allah ini. Marilah kita merangkul karunia kasih Allah dan rahmat-Nya dalam Ekaristi.

 

DOA:

“Ya Bapa surgawi, tolonglah dan buatlah aku agar tidak ragu menanggapi undangan-Mu. Ingatkanlah aku juga agar tidak lupa mengenakan pakaian pestaku. Amin.”


JENDELA IMAN
12 Oktober - St Felix & St Siprianus

Felix dan Siprianus, keduanya adalah Uskup Afrika yang hidup pada abad kelima. Mereka menderita bersama lebih dari 4900 martir dalam masa penganiayaan yang hebat oleh bangsa Vandal. Huneric, raja Vandal, membuang umat Kristiani ini ke pengasingan di padang gurun Libya. Mereka diperlakukan dengan begitu keji oleh bangsa Moor.


 

Seorang uskup yang kudus bernama Victor berusaha menolong umat Kristiani yang malang ini, yang dijebloskan ke dalam sebuah penjara yang ngeri. Mereka dikurung tanpa udara maupun penerangan yang cukup. Uskup Victor menuliskan kisah keberanian dan penderitaan yang mereka alami. Beliau menceritakan bahwa ketika mereka diperintahkan untuk pergi ke tempat pembuangan di padang gurun yang ganas, mereka keluar dari penjara dengan menyanyikan madah pujian. Umat Kristiani lainnya mencucurkan arimata melihat kegagahan mereka. Bahkan para perempuan dan anak-anak ikut pergi bersama mereka ke pembuangan dan tewas di sana. Dalam kisah ini diceritakan pula tentang Uskup St Felix. Ia tua renta dan setengah lumpuh hingga seseorang mengatakan kepada raja Vandal, “Baginda dapat meninggalkan dia mati di sini.” Tetapi Raja Huneric dengan keji menjawab, “Jika ia tidak dapat menunggang kuda, ia dapat diseret dengan lembu.” Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk mengikatkan uskup tua yang gagah berani ini pada seekor keledai dan dengan demikian ia dibuang agar mati di padang gurun.

 

Kita juga merayakan St Siprianus. Uskup Siprianus hidup dua abad sesudah St Siprianus dari Kartago. St Siprianus yang pestanya kita rayakan hari ini mempertaruhkan nyawanya sendiri demi memelihara sebanyak mungkin para tawanan. Ia menghabiskan segenap waktu dan kekuatannya, pula segala yang dimilikinya, demi menolong mereka. Akhirnya, ia sendiri ditangkap juga dan dibuang ke pengasingan. Di sana ia wafat sebagai martir akibat perlakuan keji terhadap umat Kristiani.

 

Kedua orang kudus ini mengikuti teladan Yesus sebagai pemimpin Gereja. Mereka berusaha melayani umat yang dibimbingnya dengan kemurahan hati yang luar biasa.

 

Sumber:

http://yesaya.indocell.net/id247.htm



KABAR DARI VATIKAN

Perceraian membuat para peserta Sinode terbelah

10/10/2014


Sinode Luar Biasa tentang Keluarga sedang menangani masalah umat yang bercerai dan menikah lagi, lalu menerima Komuni. Bapa-Bapa Sinode telah menangani masalah tersebut – yang telah muncul sesekali dalam diskusi sejak Rabu sore karena mereka bekerja dengan cara mereka melalui Instrumentum Laboris, dokumen kerja Sinode.

Sinode terbelah, antara mereka yang mendukung untuk mengizinkan umat bercerai, lalu menikah lagi dan menerima Komuni dalam kasus-kasus tertentu dan yang lain juga.

Namun, kedua pihak, setia  pada ajaran Yesus tentang belas kasih dan mendukung perkawinan tak terceraikan. Hal ini belum waktunya mempertimbangkan, kami tidak menghitung siapa yang “mendukung” dan yang “menentang” dalam Sinode tersebut, kata Juru Bicara Vatikan Pastor Federico Lombardi.

Dua jalur argumen itu muncul selama konferensi pers harian. Satu jalur “bersikeras apa yang Injil mengatakan tentang pernikahan: jika pernikahan pertama sah, seseorang menikah lagi tidak dapat menerima sakramen tersebut karena harus ada koherensi di antara doktrin dan kesetiaan kepada Sabda Tuhan.

Jalur lain mengingatkan kembali, “Yesus melihat pengalaman manusia dengan mata penuh belas kasih” dan “mempertimbangkan” “perbedaan” dalam setiap “kasus tertentu”, yang menerima Komuni mungkin dalam beberapa kasus.

Namun demikian, “mereka yang paling mempertahankan doktrin, jauh dari mematikan terhadap penderitaan orang menghadapi situasi sulit.” Sebaliknya, mereka yang terbuka dengan mengizinkan menerima Komuni “tidak berarti menyangkal perkawinan tak terceraikan.”

Selama perdebatan Rabu, “penekanan kuat ditempatkan pada pentingnya menghormati umat bercerai, lalu menikah lagi karena mereka sering menemukan diri mereka dalam situasi yang tidak nyaman dan mengalami ketidakadilan sosial; mereka menderita dalam diam dan dalam banyak kasus, mencoba secara bertahap kembali menjadi peserta penuh dalam kehidupan Gereja. Jadi pelayanan pastoral tidak boleh represif, tapi penuh belas kasih.”

Selama debat terbuka Rabu malam, para peserta Sinode mengatakan yang “penting berhati-hati menghindari pertimbangan moral dan berbicara tentang ‘status dosa permanen.” Sebaliknya, sebuah upaya harus dilakukan untuk memahami bahwa tidak menerima Komuni tidak berarti menutup kemungkinan rahmat Kristus, tetapi lebih terkait dengan realitas obyektif dari ikatan sakramental tak terceraikan sebelumnya.

Oleh karena itu, penekanan sering diberikan pada pentingnya persekutuan spiritual. Namun, juga harus digarisbawahi bahwa proposal ini tidak bebas masalah. Tidak ada solusi ‘mudah’ untuk masalah ini. “Hari ini” refleksi tentang menerima Komuni bagi umat bercerai dan menikah lagi.” Peserta Sinode menekankan sekali lagi bahwa perkawinan adalah tak terceraikan, “setiap kasus harus dipertimbangkan secara individual.”

Mereka juga mengingatkan umat bercerai, lalu menikah lagi, “hanya karena mereka tidak boleh menerima Komuni, tidak berarti bahwa mereka bukan anggota komunitas Gereja.”

Pastor  Lombardi mengatakan tidak mungkin pada saat ini berbicara tentang mayoritas atau minoritas suara. “Kami tidak menghitung siapa yang “mendukung” dan “menentang” selama Sinode, dan “mengambil berdasarkan pidato peserta karena Gereja berada dalam perjalanan berbagi pengetahuan dan “semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian dan rasa hormat.”


Sumber: ucanews.com

http://indonesia.ucanews.com/2014/10/10/perceraian-membuat-para-peserta-sinode-terbelah/


WEJANGAN PAUS FRANSISKUS

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM

8 Oktober 2014 : PERPECAHAN DI ANTARA ORANG-ORANG KRISTIANI MERUPAKAN LUKA-LUKA DALAM GEREJA




Saudara dan saudari terkasih,

Dalam katekese terakhir, kita berusaha menerangi sifat dan keindahan Gereja, dan kita bertanya pada diri kita sendiri apa yang diperlukan kita masing-masing untuk menjadi bagian dari umat ini. Kita tidak boleh melupakan, bagaimanapun juga, bahwa ada begitu banyak saudara yang berbagi dengan kita iman dalam Kristus, tetapi yang memiliki pengakuan-pengakuan iman lain dan tradisi-tradisi yang berbeda dari kita. Banyak yang menerima nasib terhadap perpecahan ini, yang dalam perjalanan sejarah sering menjadi penyebab konflik dan penderitaan. Bahkan saat ini hubungan-hubungan tidak selalu ditandai dengan rasa hormat dan keramahtamahan ... Dan kita, bagaimana kita mengatasi semua ini? Apakah kita juga menerima nasib jika tidak, pada kenyataannya, acuh tak acuh? Atau apakah kita percaya dengan tegas bahwa kita bisa dan harus berjalan ke arah rekonsiliasi dan persekutuan penuh?

Perpecahan-perpecahan di antara orang-orang Kristiani, seraya melukai Gereja, melukai Kristus. Gereja, pada kenyataannya, adalah Tubuh yang Kristus adalah Kepalanya. Kita mengenal dengan baik betapa Yesus menaruh perhatian agar murid-murid-Nya tetap
bersatu dalam kasih-Nya. Cukuplah memikirkan kata-kata-Nya yang dilaporkan dalam bab 17 Injil Yohanes, doa yang ditujukan kepada Bapa-Nya dalam Sengsara-Nya yang mendekat : "Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita" (Yoh 17:11). Kesatuan ini sudah terancam sementara Yesus masih berada di antara para murid-Nya : dalam Injil, pada kenyataannya, kita diingatkan bahwa para Rasul bertengkar di antara mereka sendiri mengenai siapa yang terbesar, yang terpenting (bdk. Luk 9:46). Tuhan, tetapi, begitu bersikeras pada kesatuan dalam nama Bapa, membuat kita mengerti bahwa pemakluman kita dan kesaksian kita akan menjadi jauh lebih dapat dipercaya semakin kita dapat hidup dalam persekutuan dan saling mengasihi. Alangkah para Rasul-Nya, dengan rahmat Roh Kudus, kemudian sangat memahami dan membawa ke hati, sedemikian sehingga Santo Paulus tiba di titik memohon dengan sangat jemaat Korintus dengan kata-kata ini: "Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir" (1 Kor 1:10).

Selama perjalanannya dalam sejarah, Gereja tergoda oleh Si Jahat, yang mencoba memisahkannya dan, sayangnya, ia telah ditandai oleh pemisahan-pemisahan yang parah
dan menyakitkan. Mereka adalah perpecahan-perpecahan yang kadang-kadang telah berlarut-larut lama dalam waktu, hingga hari ini, sehingga sulitlah pada titik ini untuk menata ulang seluruh motivasi dan terutama untuk menemukan penyelesaian-penyelesaian yang mungkin. Alasan-alasan yang menyebabkan pemutusan-pemutusan dan pemisahan-pemisahan dapat menjadi yang paling beragam: dari perbedaan-perbedaan pada prinsip-prinsip dogmatik dan moral dan pada konsep-konsep teologis dan pastoral yang berbeda, hingga motif-motif kenyamanan politik, hingga perselisihan-perselisihan karena antipati dan ambisi pribadi. Apa yang pasti yaitu, dalam satu atau lain cara, di belakang pencabikan-pencabikan ini selalu ada keangkuhan dan egoisme, yang merupakan penyebab dari seluruh ketidaksetujuan dan yang menyebabkan kita tidak toleran, tidak mampu mendengarkan dan menerima bahwa ada sebuah cara pandang atau sebuah kedudukan yang berbeda dari kita.

Sekarang, dalam menghadapi semua ini, apakah ada sesuatu yang kita masing-masing, sebagai para anggota Gereja Bunda yang Kudus, dapat dan harus lakukan? Tanpa diragukan lagi, doa tidak boleh kurang, dalam keberlanjutan dan dalam persekutuan dengan doa Yesus. Dan, bersama-sama dengan doa, Tuhan meminta kita untuk memperbaharui keterbukaan : Ia meminta kita tidak menutup diri untuk berdialog dan bertemu, selain mengambil segala sesuatu yang sahih dan positif yang ditawarkan kepada kita juga dari orang yang berpikir secara berbeda dari kita atau memiliki kedudukan yang berbeda. Ia meminta kita untuk tidak mengarahkan pandangan kita pada apa yang memisahkan kita, tetapi lebih pada apa yang menyatukan kita, berusaha untuk memahami dan mengasihi Yesus dengan lebih baik dan untuk berbagi kekayaan kasih-Nya. Dan ini mensyaratkan secara nyata kepatuhan kepada kebenaran, bersama-sama dengan kemampuan untuk saling mengampuni, merasakan diri kita bagian dari keluarga yang sama, menganggap diri kita sebuah karunia bagi satu sama lain dan melakukan banyak hal yang baik bersama-sama, banyak karya amal.

Teman-teman, marilah kita berjalan maju sekarang menuju kesatuan penuh! Sejarah telah memisahkan kita, tetapi kita berada di jalan menuju rekonsiliasi dan persekutuan! Dan ketika tujuan mungkin tampak terlalu jauh, hampir tidak terjangkau, dan kita merasakan mangsa keputusasaan, marilah kita didorong oleh pemikiran bahwa Allah tidak bisa menutup telinga-Nya terhadap suara Putra-Nya Yesus dan mendengar doa-Nya dan doa kita, agar semua orang Kristiani benar-benar menjadi satu.

Penutur:

Saya menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, termasuk berbagai kelompok dari Inggris, Wales, Skotlandia, Irlandia, Australia, Slovenia, Norwegia, Finlandia, Nigeria, Arab Saudi, Taiwan, Filipina, Malaysia dan Amerika Serikat. Dalam cara tertentu, sambutan saya tertuju kepada delegasi ekumenis dan antaragama dari Taiwan dan kelompok dari Institutum Romanum Finlandiae. Atas Anda dan keluarga-keluarga Anda, saya memanjatkan sukacita dan damai sejahtera di dalam Tuhan Yesus. Tuhan memberkati Anda semua!

* * *

Saya memberikan sambutan ramah untuk para peziarah berbahasa Italia, khususnya, untuk rohaniwan Pallotine; untuk para mahasiswa Kolose Santo Petrus Rasul; untuk umat dari jemaat-jemaat yang memiliki Santo Vitus Martir sebagai pelindung dan untuk orang-orang muda dari Gerakan Schoenstatt, bertepatan dengan seratus tahun berdirinya, yang akan berangkat ke Koblenz. Saya menyambut Lembaga Nasional Universitas-universitas Abad Ketiga; para korban perang sipil, maupun para promotor Hari Eropa untuk Donasi Organ Tubuh serta saya berharap bahwa dengan cara kesaksian kasih bagi sesama yang tak lazim ini, kepastian donor organ tubuh terjaga dan penyalahgunaan, perdagangan dan jual beli dihindari.

Akhirnya, pikiran khusus tertuju kepada orang-orang muda, orang-orang sakit dan para pengantin baru. Bulan Oktober didedikasikan untuk doa Rosario. Orang-orang muda yang terkasih, panggillah selalu pengantaraan Perawan Maria, agar ia menerangi Anda dalam setiap kebutuhan; orang-orang sakit yang terkasih, terutama Anda dari Kelompok Perawatan dan Rehabilitasi, semoga kenyamanan doa Maria hadir setiap hari dalam hidup Anda; dan Anda, para pengantin baru yang terkasih, perkuatlah ikatan suami-istri Anda dengan doa. ***

 

Sumber:

http://katekesekatolik.blogspot.com/2014/10/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi_9.html#more

 


RENUNGAN HARIAN

Sabtu, 11 Oktober 2014
Hari Biasa Pekan Biasa XXVII
Injil: Luk 11:27-28


RENUNGAN:
“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28).
Jauh dari sikap “mengecilkan” peranan ibunda-Nya, Yesus menunjukkan bahwa Maria bukanlah sekadar seorang gadis beruntung yang menjadi favorit Allah dan kepadanya dicurahkanlah rahmat berlimpah. Yesus memahami bahwa Maria adalah seorang pribadi manusia yang senantiasa memilih untuk meletakkan hidupnya demi ketaatan pada Allah, dan ini sungguh merupakan berkat sejati. Baik Malaikat Agung Gabriel maupun saudaranya, Elisabet, dapat melihat iman dan ketaatan Maria, dan inilah sebabnya mengapa Maria disebut “penuh rahmat” (doa Salam Maria) atau “beroleh anugerah di hadapan Allah” oleh Gabriel. Kepada Gabriel, Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Sekarang, pertimbangkanlah konsekuensi2 dari fiat atau “ya” dari Maria terhadap pesan luarbiasa sang malaikat. Bayangkanlah diri kita sebagai seorang gadis muda pada zaman itu, sudah bertunangan dan siap untuk pernikahan, sekarang bersedia menerima kehendak Allah untuk mengandung oleh kuasa Roh Kudus sebelum memasuki saat pernikahan resmi.
Tindakan iman Maria dan ketaatannya sungguh luarbiasa, dan sulit untuk dibayangkan oleh kita dengan sekadar memakai akal-budi kita. Oleh karena tindakan imannya itu Maria pantas untuk dijuluki “Hawa yang baru”. Mengapa? Karena seperti juga Hawa, Maria memiliki kehendak bebas, namun tidak seperti Hawa, dia menaruh kepercayaannya dengan benar, beriman, dan dia taat. Ini adalah sosok perempuan yang dikenal oleh Yesus sebagai ibunya. Yesus melihat kondisi terberkatinya dalam hikmat-kebijaksanaannya, kekuatannya, imannya, dan ketaatannya. Kita pun dapat terberkati apabila kita berupaya untuk mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya.


DOA:
“Ya Tuhan Yesus, semoga kami dapat belajar untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu dan mentaati Engkau, seperti yang dicontohkan oleh Maria. Amin.”



JENDELA IMAN
11 Oktober - St. Kenneth

St Kenneth, yang terkadang disebut St Canice atau St Kenny, hidup pada abad keenam. Ia dilahirkan di Irlandia dan terkenal baik di Irlandia maupun di Skotlandia. Ayahnya adalah seorang penyanyi profesional balada dan kisah-kisah dalam lagu. Sebagai pemuda, Kenneth pergi ke Wales untuk mengikuti pendidikan imam. Gurunya adalah St Cadoc. Setelah ditahbiskan sebagai imam, ia pergi mengunjungi Roma. Kemudian ia kembali ke Irlandia untuk belajar di sekolah St Finnian. Kenneth bersahabat baik dengan tiga santo Irlandia lainnya: St Kieran, St Comgall dan St Kolumbanus. Setelah berkhotbah di segenap penjuru Irlandia, St Kenneth pergi bersama St Kolumbanus ke Skotlandia dalam suatu misi menghadap Raja kafir Brude. Ketika raja dengan berang menghunus pedangnya untuk menikam kedua misionaris, dikisahkan bahwa St Kenneth membuat tanda salib, dan suatu mukjizat pun terjadi. Tangan raja sekonyong-konyong lumpuh, dan kedua kudus kita terselamatkan. St Kenneth dan St Kolumbanus senantiasa bersahabat karib. Suatu ketika St Kolumbanus sedang berlayar bersama beberapa teman. St Kenneth berada jauh di biaranya di Irlandia. Sekonyong-konyong Kenneth tersadar bahwa Kolumbanus sedang berada dalam bahaya maut di samudera raya. Ia melompat dari meja makan dan berlari ke gereja untuk berdoa bagi sahabat terkasihnya itu. Di lautan, Kolumbanus berseru kepada teman-temannya yang ketakutan, “Jangan takut! Tuhan akan mendengarkan doa Kenneth. Sekarang ia sedang berlari ke gereja dengan hanya satu sepatu untuk berdoa bagi kita!” Dan sebagaimana dikatakannya, mereka pun selamat.

St Kenneth mendirikan beberapa biara dan mempertobatkan banyak orang menjadi percaya. Ia menjadi terkenal karena khotbahnya yang berkobar-kobar tentang Injil. Terlebih lagi, ia menjadi terkenal karena jalan sempurna di mana ia sendiri mengamalkan ajaran-ajaran Yesus.

Meski Kenneth dan Kolumbanus seringkali bekerja di tempat-tempat yang berbeda, mereka tahu bahwa doa merupakan suatu ekspresi persahabatan yang penuh daya kuasa. Bagaimana jika aku berdoa lebih sering bagi teman-temanku dan mereka yang dekat denganku? 


Sumber:
http://yesaya.indocell.net/id247_st__kenneth.htm


Mengenang
Sr. ANTONIA, HK
Bandar Lampung, 10 Okt 2014

PEZIARAHAN HIDUP

SEORANG RELIGIUS HK

DALAM SOSOK SUSTER ANTONIA, HK

 

Sepanjang tujuh puluh tiga tahun enam bulan lima hari

 

BATURETNO, 4 APRIL 1941 -

BANDAR LAMPUNG 9 OKTOBER 2014

 


BAHAGIA KITA

Bahagia kita, didalam rumah Bapa kita, mari kita bersama-sama menuju rumahNya.

Sepenggal lagu tersebut mengingatkan kita akan siapa sosok Suster Antonia, HK yang selama ini kurang lebih sembilan tahun ini bergulat dalam kerapuhan fisik, keterbatasan gerak, namun tetap leluasa dan kuat merajut hari-hari di usia lanjutnya dengan berbagi kekayaan rohani dari hidup religiusnya melalui Happy Life Community (HLC) Palembang - Lampung. Lentur, mengikat, setia dan tekun menyatu dalam dirinya seperti kala ia merangkai manik-manik menjadi untaian rosario.

Siapa sebenarnya Suster Antonia, HK?

Kronologi kehidupannya diawali dari kelahirannya pada 4 April 1941 di Bata (mboto) Baturetno dari keluarga Ibu Bapa C. Warsokromo. Sebagai putri tengah dari delapan bersaudara, katulisitasnya diawali saat dipermandikan pada 1 Juni 1941 dan menerima Sakramen Penguatan pada 18 Juni 1950. Sementara itu kehidupan religiusnya sebagai calon Suster belaskasih ditapaki mulai dari masa postulat 3 September 1974, masa novisiat 17 Desember 1974 dan sebagai anggota HK dengan kaul pertamanya pada 14 Desember 1976.

Berlanjut selama masa yunioratnya ia mendapat perutusan rasuli pastoral di komunitas Seputih Banyak (1977-1979), komunitas Palembang dengan perutusan rasuli di Komisi Kepemudaan Keuskupan (1979 - 1989). Dalam kurun waktu tersebut tepatnya 3 Oktober 1983 ia berkaul kekal dan menjadi anggota definitif religius HK. Inisiasi hidup religiusnya dari penerimaan postulan, penerimaan busana biara, kaul pertama, maupun kaul kekal terselenggara di Metro.

Pengembangan diri sebagai religius rasuli HK dipupuk dan diperkuat melalui aneka pembekalan diri yang dijalani dari waktu ke waktu melalui kesempatan diklat maupun kursus seperti : pendamping remaja (1975); pembimbing retret dan pendamping kaum muda (1980); dasar penggerak KKS (1981); bina lanjut (1994); kepemimpinan kristiani  (1996/1997); pastoral keluarga (2003). Sedangkan hidup berkomunitasnya berkelanjutan dengan aneka komunitas seperti: Asrama Borromea (1989-1994) perutusan rasuli asrama; Kalianda (1994-1997) perutusan rasuli piko dan Kepala TK  Xaverius; Godean (1998-1999) perutusan rasuli pastoral; Pondok Raden Patah Sayung (1999-2002) perutusan rasuli kerasulan doa dan pastoral; Poncowati (2002-2004) perutusan rasuli pastoral. Dalam kurun waktu ini Suster Antonia, HK merayakan Pesta Perak keanggotaannya sebagai HK pada tahun 2001.

Kala Kongregasi bertumbuh sejak kemandiriannya pada tahun 1993 dan dalam periode waktu 2001-2005 mengajak seluruh anggotanya dengan pedoman gerak Hidup berkongregasi Hendaklah Terangmu Semakin Bersinar (HTSB), di penghujung tahun 2004 Suster Antonia, HK terdeteksi terkena tumor berbatas tegas di paru-parunya, dan sejak saat itu ia menjalani pengobatan rutin dan intensif. Pengolahan hidup di masa senior (usia lanjut) semakin dimatangkan melalui proses kesadaran dan penerimaan diri kendati mulai mengalami kerapuhan dan aneka keterbatasan, baik fisik, psikologis, sosial maupun kerohanian. Hidup tetap berlanjut sebagai anugerah, daya tarik novisiat dan hadir dengan perutusan keraulan doa maupun pelayanan intern dijalani pada 2004-2005. Sejak Kongregasi mencanangkan kerasulan pokok dari para suster lansia adalah kerasulan doa, perutusan ini berkesinambungan dijalani oleh Suster Antonia, HK di komunitas Bendungan (2005-2009); komunitas Biara Induk (2009-2011); komunitas Hasanudin (2011-2014) dan per 5 Juli 2014 kembali ke komunitas Biara Induk.

Hati yang tergerak oleh Belaskasih (HTBK) merupakan pedoman gerak berkongregasi (periode 2013-2017). Metanoia sebagai perubahan radikal dalam arah pencarian, penegasan dan pelaksanaan kehendak Tuhan menjadi sikap dasar dan orientasi hidup seorang HK yang lahir secara baru dari Cinta Hati Yesus yang Berbelaskasih untuk tumbuh sebagai pribadi pemerhati, pemurah dan pengampun dan melalui kontemplasi refleksi menjadi manusia yang dengan senang hati memelihara sikap rela dan sedia diutus. Amanah ini kita temukan dalam sosok pribadi Suster Antonia, HK yang kendati sejak 2004 terdeteksi penyakitnya dan terus mengupayakan pengobatan dimana dari waktu ke waktu sudah menjadi semakin rapuh, membutuhkan bantuan, perawatan intensif ditangani oleh tenaga ahli khususnya sejak 2012, begitu juga lewat perawatan di ruang Lusia maupun Rumah Sakit. Hal-hal yang kita temukan mengalir dari pribadinya sebagai sosok HK pemerhati, pemurah dan pengampun ada terungkap dari beberapa kesaksian berikut:

*    Guyonan yang dengan sangat relax bisa ia ungkapkan juga dulu ketika masih bersama suster-suster Belanda dengan ciptaan namanya: Sr. Antonia Warinah Sri Rejeki Andang Murwaningsih bla bla bla ..... dimana orang lain sangat sulit menirukan dengan cepat dan membuat tertawa terbahak-bahak.

*    Dalam sakit, derita bahkan rasa sepi hal yang selalu terungkap dari refleksi dirinya adalah kata percaya, sabar dan pasrah. Dalam doa dan permohonannya minta kesembuhan sering kali terselip kerinduan dan imannya sampai kapan aku menerima sakit ini sebagai salib. Rasa sepi sering menggelayuti dirinya dan menjadi peka akan perhatian.

*    Penuh semangat, dedikasi dan mempersembahkan seluruh hatinya untuk pelayanan Tuhan merupakan ungkapan duka cita yang disampaikan oleh Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ beserta para Imam dan umat Keuskupan Agung Palembang.

*    Rajin berdoa, menuliskan refleksi dan membuat ungkapan perasaan hatinya melalui gambar, bahkan saat sakit dan opname, ia menuliskan siapa-siapa yang mengunjunginya dan ketika ditanyakan mengapa demikian, dijawab agar bisa mendoakan sebagai ungkapan terima kasih.

*    Meski didera oleh sariawan yang hebat, kerapuhan tubuh, bahkan patah tulang tetap berusaha mandiri, baru pada saat-saat terakhir dimana sungguh mengalami ketakberdayaan merelakan diri ditolong sepenuhnya.

*    Memiliki dan membangun relasi personal yang baik dan membuat secara leluasa tetap menjalin komunikasi dan persahabatan dengan banyak pribadi dan pihak secara intensif dan positif, meski dalam ketakberdayaan.

*    Aura merah maupun merah jambu tetap menjadi pilihan warna kesayangannya yang dengan spontan diperlihatkan dan mudan dikenali.

 

Di hadapan kita yang kini terbaring, kita kenali Suster Antonia, HK yang ternyata kiprah hidup religiusnya paling lama di Palembang. Perutusan rasulinya di tengah kaum muda, pancaran belarasanya berbagi pengalaman iman dan hidup rohani baik dengan doa maupun refleksi untuk aneka kelompok sasaran, khususnya tahun-tahun terakhir dengan HLC.

Kemenangan pribadinya sampai saat dia dipanggil Tuhan pada Kamis 9 Oktober 2014 pkl. 00.45 adalah sikap batin dalam trilogi yang terungkap melalui kata percaya, sabar dan pasrah sebagaimana terungkap dari isi lampiran doa. Selamat jalan Suster Antonia, HK, terima kasih untuk hidup dan baktimu. Maafkan kami semua dan "berbahagialah engkau di rumah Bapa kita, berjumpa dengan Sang Empunya Cinta Hati yang Berbelaskasih, pujaan dan andalan hidupmu sepanjang waktu".


Bandar Lampung, 10 Oktober 2014,

Salam kasih kami dan memenuhi permintaanmu,

Teman-teman sekongregasi